Membela Rocky Gerung

Pekerjaan : Free Writer, ASN di BAPPEDA Kab. Jeneponto, Prov. Sul-Sel
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ermansyah R Hindi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita tahu, cuma manusia yang punya fakultas intelektual, imajinasi, dan emosionalnya, seperti hasrat, kesenangan, amarah, dan cinta. Manusia juga punya akal budi atau nalar dan naluri. Sebaliknya, binatang yang berkuku tajam dengan nalurinya seperti kucing untuk mencakar dan menerkam. Gigi singa atau harimau, misalnya, untuk mencengkram, menggigit, dan mencabik mangsa. Binatang tidak punya penalaran logis, analogis, dan tidak pernah bermimpi tentang makanan dan fasilitas lainnya berupa rumah, kendaraan, pakaian, alas kaki, gedung pencakar langit sampai punya HP.
Tapi, manusia rasional seperti Rocky Gerung memang sosok kontroversial dan tidak sepi dari teka-teki tentang apa pandangan dan sikap yang terjadi kemarin berbeda sama hari ini. Satu sisi, Rocky Gerung juga punya insting sekaligus punya otak, pikiran logis, dan rasional sebagaimana dia punya hasrat dan imajinasi pada sesuatu. Di sisi lain, Rocky Gerung ingin melihat bangsa ini dengan persfektifnya sendiri yang tidak bisa dipisahkan dari realitas yang lebih luas.
Rocky Gerung bisa mengoreksi kebijakan dari rezim kuasa negara. Dia juga bisa bergabung dalam rezim kuasa negara yang sama yang dia kritisi. Siapa tahu ada yang lain dari anggapan publik, persis apa yang dilakukannya di luar dan di dalam lingkaran kuasa negara akan diuji? Rocky Gerung boleh jadi berubah dari ekspresi dan sensasi melalui tubuhnya, kecuali mungkin cara berpikirnya yang argumentatif. Satu hal juga bahwa beda sudut pandang antara Rocky Gerung dengan pihak lain itu hal biasa. Bukan soal waktu yang berbicara tentang Rocky Gerung juga dianggap oleh pihak lain tidak sama seperti sebelumnya. Tak dinanya, Rocky Gerung memang berbeda sama yang lain.
Katakanlah, si X manusia rasional beda sama Rocky Gerung. Si Y juga beda sama Rocky Gerung. Yang berbeda itulah dilihat dari penalarannya, pengalamannya, imajinasi, dan fantasinya. Semuanya tidak sama. Tujuan hidup Rocky Gerung dalam isi kepala si Y mungkin punya kesimpulan yang berbeda bergantung pada pikiran, menguji fakta di lapangan, dan paling penting adalah cara berpikirnya itu muncul dalam peristiwa yang beriringan sama penalaran dan pengalaman Rocky Gerung sudah ada jauh sebelum pikirannya sendiri, apalagi dalam pikiran pihak lain.
Jadi, melihat atau menilai Rocky Gerung bukan cuma dari sisi dunia dan diri yang kompleks yang berkelindan dengan realitas yang terbentang luas dan beragam, melainkan juga semua yang “tidak terpikirkan” dan “tidak tergambarkan” atau semua sisi yang masih misterius dan penuh teka-teki melebihi juga semua pertimbangan apa yang benar dan apa yang salah tentang Rocky Gerung.
Kemarin saja, Rocky Gerung didapuk jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Banyak orang pada nyinyir, mencela bahkan julid. Kita perlu melihat Rocky Gerung secara utuh dengan cara yang berbeda dan lebih luas. Kita mungkin kasih jempol sama otak yang suka ngulik atau nalar kritis Rocky Gerung atas rezim negara yang keluar dari koridor konstitusional. Kritik padanya dengan cara melihat secara totalitas perjalanan hidup dan latar intelektual yang membentuknya. Jadi, menantang pemikiran Rocky Gerung bukan tanpa "kepala," melainkan pertarungan diskursus dan melintasi konteks.
Akhirnya, Rocky Gerung sebagaimana manusia punya kekuatan untuk merenung dan bercerita tentang masa lalu, kini, dan masa depan. Rocky Gerung masih tetap ingin kritis melalui Wantimpres atas pemerintahan Prabowo Subianto. Semoga.
