Konten dari Pengguna

Para Pelayan Dalam Gempuran Keberisikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ermansyah R Hindi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi para pelayan (ibu-ibu nakes, kader Posyandu), dan Balita (Sumber: Foto Koleksi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi para pelayan (ibu-ibu nakes, kader Posyandu), dan Balita (Sumber: Foto Koleksi Pribadi)

Ingar-bingar negeri kita seperti angin berlalu bagi ibu-ibu pelayan sosial. Mereka melayani kesehatan ibu dan anak. Di luar sana, soal bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dan skandal korupsi begitu gawat, yang belum ada tanda-tanda berhenti, termasuk korupsi dana darurat bencana BPBN sampai perkara ijazah palsu atau bukan di layar dan riuhnya dunia hukum-politik tidak menggugah ibu-ibu, termasuk para kader Posyandu dan ibu tenaga kesehatan.

Jangan ditanya lagi, Balita yang polos di Posyandu belum sama sekali paham tentang ribut-ribut soal prilaku pejabat yang menyebalkan. Mereka seolah cuek pada kebobrokan negeri dengan para pejabat yang ambyar mentalnya.

Luput perhatian dan cuek dari ibu-ibu, apalagi Balita bukan berarti mereka buta dan tuli tentang kondisi parah atau amburadul di negeri kita. Mereka sebagai warga Posyandu lebih sreg dan sibuk sama urusan asap dapur rumah tangga, perawatan kesehatan, dan harapan akan hidup yang lebih layak buat anak-anaknya. Mereka juga tidak punya niat dan argumen logis yang kuat untuk mengenyahkan setiap kebobrokan yang melanda negeri kita.

Sesuai dengan jadwal kegiatan Posyandu di tangan Perangkat Daerah terkait justru para ibu kepincut sama kegiatan Posyandu karena suasana relatif ramai, tempat curhatan, dan "panggung" hiburan. Posyandu dianggap sebagai ruang penyaluran kapasitas ibu-ibu yang mungkin dianggap mengendap.

Baiklah, kegiatan Posyandu sebagai ruang "hiburan" buat mengenyahkan beban hidup yang menghimpit kian hari makin membayangi dan cara buat melewatkan prestasi kebobrokan negeri. Potret dan desahan senyap bisa terlacak melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang digawangi oleh teman-teman Tim Monev Bappeda Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan.

***

Menelusuri jalan cukup berkelok dengan suasana desa menjadi pemandangan tersendiri itu sejauh hamparan sawah di kiri-kanan dan tampak bagi kami sebuah bentangan sungai begitu kering kerontang, di utara-selatan. Maklum, Indonesia sampai di kampung-kampung dilanda El-Nino tak terelakkan. Kegiatan Monev di bulan Oktober panas lagi "ganas-ganasnya."

Pikir-pikir tentang hujan masih sebatas omdo—omong doang— dan angan-angan belaka. Belum lagi, sebagian jalan desa dalam kondisi rusak dan sebagian ada yang beraspal. Di kejauhan tampak pula berjejer bukit-bukit juga belum ada tanda-tanda menghijau.

Jalan desa yang kami lalui tidak jauh beda sama desa yang lain. Kali ini, kami mengunjungi lokasi yang agak ribet. Seorang teman se-Tim Monev akui jika lokasi yang dituju perlu ekstra was-was karena jadwal Posyandu akan berlalu begitu saja. Celengukan lagi laris di atas kendaraan. "Bu, dimana letaknya Posyandu Y," tanya seorang teman setelah membuka jendela mobil. "Terus, itu Pak, Posyandu itu dekat anu," balas ibu yang ditempati bertanya. Kendaraan melaju dengan kecepatan di bawah empat puluh kilometer per jam lantaran lokasi Posyandu belum jelas, sehingga kami harus numpang bertanya pada orang di pinggir jalan.

Di desa yang kami kunjungi langsung ke alamat pak Kepala Desa. Alhasil, Kepala Desa tidak ada di tempat, dia punya urusan di kota kabupaten. Rencana A berubah jadi rencana B. Lokasi Posyandu yang kami lewati tadi terus dikonfirmasi apakah para ibu dan Balita masih dilayani. Cek per cek warga Posyandu yang dimaksud sudah mulai bubar. Secara otomatis kami harus menunggu layanan Posyandu kedua, titik dimana kami menunggu di dekat lokasinya, yang jaraknya sekitar empat atau lima rumah dari rumah Kepala Desa.

Berikut ringkasan tentang hasil kegiatan Monev. Obyek Monev seputar Stunting, Bumil dan Balita. Jumlah Stunting adalah 27 orang se-desa. Jumlah Stunting sebanyak 2 orang, di Dusun Barata dan Dusun Saluka adalah 2 orang (Posyandu Kaktus), Desa Batujala per September 2026. Faktor penyebab Stunting yang paling menonjol adalah pola asupan gizi dan pola asuh.

Bumil sebanyak 1 orang, di Posyandu Kaktus. Upaya kesehatan berupa PMT Bumil, pemeriksaan Bumil (tensi, detak jantung bayi). Jumlah Balita yang ditimbang Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB)-nya adalah 47 orang, Posyandu Kaktus, Dusun Barata, Desa Batujala per Oktober 2026. Ada kasus kurang gizi sebanyak 20 orang (dapat PMT) Desa Batujala per September 2026. Kasus kurang gizi sebanyak 3 (tiga) orang Posyandu Kaktus.

***

Posyandu yang disambangi oleh Tim Monev yang letaknya pas di pinggir jalan raya. Kami pun melangkahkan kaki dengan begitu pede-nya menuju lokasi. Ibu-ibu kader Posyandu dan nakes Puskesmas dari tadi layani dan tongkrongi para Balita sama ibunya. Posyandunya pula numpang di rumah penduduk (ada yang permanen, tapi bukan lahan hibah). Di belakang Posyandu darurat itu tampak "eksotis" karena ada tambak garam. Sebelah bagian belakang lagi tuh tidak jauh dari Posyandu sudah kawasan pesisir, daerah pantai.

Maka hasil nanya-nanya ke ibu-ibu kader Posyandu dan nakes, seperti berikut: Jumlah Stunting 12 org. Upaya kesehatan seperti PMT dan MBG, per Oktober 2026. Bumil 1 org. Upaya kesehatan, yaitu pemberian PMT, TTD, tensi, Lila (Lingkar Lengan). Jumlah Balita 53 org. Upaya kesehatan, yaitu MBG. Timbangan Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) yang sempat dijepret sama kamera ponsel, yaitu Athar, 3 thn, BB 13,3, TB 91,9 dan Madinah Tasbina Rizal, 3,2 thn, BB 10,3, TB 87,8.

"Jarak antara Posyandu yang dituju dan Puskesmas berapa, bu," tanyaku spontan ke ibu nakes yang dari tadi siap layani peserta. "Sekitar 1 km," jawab Ibu nakes dengan mantapnya.

Masalah diantaranya, upaya pencegahan Stunting diusia sekolah menengah saat dikasih Tablet Tambah Darah (TTD) pada siswi tidak bisa dijamin di rumahnya karena tidak bisa mengontrolnya, kecuali atas kesadarannya sendiri. Selama ini, siswi mengkonsumsi TTD dianggap aman saat di sekolah. Menggencarkan edukasi atau bimbingan kesehatan tentang TTD pada siswi di lingkungan sekolah merupakan salah satu cara yang lebih luwes supaya program itu busa berkelanjutan.

***

Usai Apel Pagi, kami siap-siap Monev di lapangan. Dalam hitungan menit, kami sebagai Tim Monev sempat tanya ulang jadwal dan lokasi Monev hari ini. Ooh, ada yang lebih dekat jaraknya dari kantor. Persis hari Jumat, kami prediksi langit masih berkabut asap di kampung sebagai efek dari Karhutlah itu jelas sedikit meleset. Langit perlahan tampak mulai terbuka untuk diguyur oleh sinar matahari. Angin berhembus cukup kencang. Ditambah durasi Monev terkesan kepepet. Maklum teman se-Tim semuanya "batangan," hehehe. Kami sepakat untuk shalat Jumat tertunaikan tanpa dibenturkan giat Monev.

Kami meluncur ke lokasi Monev. Singkat cerita, kami se-Tim tiba di lokasi pertama, di kantor Kelurahan, yang didahului dengan candaan campur kengawuran kelas dewasa yang lagi mules di atas kendaraan. Lima orang se-Tim punya bakat banget jadi pencerita lucu. Bisa diuji di Stand Up Comedy, sekalipun di lokasi Posyandu agak ramai dengan emak-emak, anak Balita, ibu-ibu kader Posyandu, dan ibu-ibu nakes dari Puskesmas.