Konten dari Pengguna

Tamatnya Baik dan Jahat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ermansyah R Hindi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Karhutla di Kalimantan, Sumatera, dan Papua (Sumber: chatgpt.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Karhutla di Kalimantan, Sumatera, dan Papua (Sumber: chatgpt.com)

Inilah mungkin bagian dari tamatnya alam! Kenapa bisa? Dari "paru-paru" bumi menjadi gosong setelah dilalap oleh "si jago merah" bernama kebakaran hutan dan lahan secara masif. Yang jelas, tidak ada yang menyentuh "Tuan Besar" perusahaan atas kebakaran hutan dan lahan, kecuali ada korban sekaligus sebagai tumbalnya. Buktinya, "anak buah" yang tersangka sebagai pelaku kebakaran hutan dan lahan, bukan "atasan." "Tuan Besar" atau "atasan" sebagai pengecualian tidak bertanggungjawab atas korupsi di level "anak buah" sebagaimana pula korban Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA), misalnya, yang diduga kuat akibat kebakaran hutan dan lahan.

Demi kenikmatan, status, dan gengsi, maka "atasan" sebagai pengecualian dalam keterlibatan pada sesuatu yang bersifat negatif. Berkat kenikmatan, kepentingan bisnis tetap dijunjung tinggi, sekalipun "anak buah" jadi korbannya saat terjadi kebakaran hutan dan lahan. Selama ini, makhluk yang punya status dan gengsi menjulang, mustahil "atasan" dijadikan tumbal atau korban sejauh itu punya efek hukum dalam kasus kebakaran hutan dan lahan. Tidak heran, "anak buah" lebih dahulu dimainkan menjadi korban "permainan" di balik kerugian besar karena bencana alam.

Sebaliknya, kita sadar, dimana manusia, flora, fauna, daratan, dan perairan menjadi korban gara-gara kena imbas kebakaran hutan dan lahan begitu mengguncangkan seantero negeri. Itupun jika ada pihak yang ikut sesak dada melihat kenyataan di luar nalar, sehingga membuat mereka terguncang dirinya atas kebakaran hutan dan lahan terpampang jelas di layar. Ia seolah membuat kita bukan cuma nonton dari jauh, melainkan nimbrung menyaksikan kobaran api itu persis di depan mata.

Maka, memang bergantung dari sudut pandang. Anda lihat sang pemodal itu bisa jadi menganggap sebagai berkah di balik kebakaran hutan atau lahan karena setiap alat produksi dalam genggamannya, sehingga lahan kebun sawit, misalnya, enteng disediakan. Ia merembet pada alasan pembenaran atas El-Nino alias musim kemarau ekstrem melanda negeri.

Tapi, efeknya jauh diluar dugaan yang ditandai dengan jatuhnya ratusan korban ISPA karena kebakaran hutan dan lahan itu bisa jadi malapetaka yang melimpah. Ancaman longsor atau banjir bandang membayangi penduduk saat hutan ludes terbakar dalam skala besar. Hutan yang semestinya menjadi wilayah resapan air saat musim hujan akan hilang karena pepohonan yang terhampar luas ikut terbakar. Secara otomatis, penduduk yang memanfaatkan hutan yang mulanya buat memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan, kini berbagai jenis pepohonan dan tumbuhan lainnya turut sirna karena kebakaran hebat.

Alasan sebelumnya bahwa rasionalisasi selalu berbanding lurus sama bukti eksploitasi yang titik klimaksnya berubah jadi kebakaran hutan di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Rasionalisasi negara dan dunia bisnis tidak menghitung berapa efeknya dari eksploitasi hutan dan "disulap" jadi lahan sawit. Dari situlah muncul kritik atas rasionalisasi menyelundupkan "kepentingan" yang dimainkan institusi negara dan korporasi. Kritik atas rasionalisasi bukan karena eksploitasi yang punya efek dasyat lagi mengerikan, melainkan permainan kongkalikong secara terselubung maupun terang-terangan. Kepentingan yang jauh dari nilai kebenaran yang mentransparansikan efek dari kebakaran hutan dan lahan maupun korupsi (sekalipun itu dari dana darurat bencana, program gizi nasional, dan lainnya).

Karena itu, kritik atas kebakaran hutan dan lahan dengan ISPA yang dihasilkannya melebihi krisis iklim, kritik sosial bahkan teori kritik dan teori fatal. Selama kritik dianggap ancaman atau musuh negara, peristiwa tragis atau penanda malapetaka bagi kehidupan yang berulang dianggap pula normal-normal atau biasa-biasa saja. Sejak kemarin juga, kita diingatkan bahwa yang berbahaya dari luar negeri atau pihak asing, melainkan dari dalam diri kita sendiri, yang istilahnya di dalam dan di sekitar istana. Paling diherankan ketika kita kerap "mengkambing-hitamkan" pihak luar atas kebakaran hutan dan lahan. Sementara, dalam diri kita sendiri (rezim kuasa negara) malah jadi biangnya, tanpa sadar.

Itu belum kita berbicara tentang watak serakah. Sifat manusia seperti itu bukan muncul tiba-tiba di hadapan hidung kita. Watak atau sifat dasar kita itu jauh sebelum ada republik ini. Jauh sebelum tatanan masyarakat terbentuk. Keserakahan tidak kenal ISPA atau bahaya lainnya. Kebakaran hutan dan lahan sampai korban ISPA masih terhitung, tapi nafsu serakah tanpa henti. Sialnya, nafsu serakah melahirkan korupsi. Kita tidak bisa berkata apa-apa lagi tentang kebakaran hutan dan lahan yang bersenggolan sama korupsi, pembusukan pikiran, dan kemerosotan moral lainnya karena 'tamatnya baik dan jahat'.