Jangan Khawatir, Faktanya Sebuah Do'a Akan Terjawab Pada Waktunya

Erniwati
Abdi Negara yang hobby nulis, Tim Humas Kanwil Kemenkumham NTB, Freelancer yang doyan Web Design dan Digital Marketing. Hobby Belajar banyak hal baru.
Konten dari Pengguna
21 April 2024 14:27 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Erniwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto Pribadi, diambil dari jendela kamar sendiri
zoom-in-whitePerbesar
Foto Pribadi, diambil dari jendela kamar sendiri
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Hari ini hujan dan tiba-tiba ingin duduk di pinggir jendela. Sambil selonjoran dengan laptop di atas paha. Lalu entah kenapa jadi teringat semua do'a dan cita-cita masa kecil yang saat itu terasa sangat tidak mungkin.
ADVERTISEMENT
Ada begitu banyak cita-cita disana seperti ingin menjadi guru, ingin menjadi editor majalah, ingin menjadi penulis ternama, ingin menjadi pembawa acara dan yang terakhir ingin jadi Jurnalis berkelas.
Selain itu, mimpi besar lainnya seperti punya rumah sendiri, kemudian bisa bangun pagi dan menikmati bias cahaya fajar dari jendela kaca persegi panjang. Menikmati menyiram tanaman di taman kecil depan jendela dan halaman.
Dan terakhir yang saat ini sedang saya nikmati tanpa sadar, duduk di tepi jendela menikmati hijaunya taman kecil disertai hujan, sambil menghirup bau tanah diterpa hujan yang sangat saya cintai. Sedari kecil saya mencintai alam.
Makin lebat hujan turun dan makin terurai kembali semua cita-cita dan harapan serta doa saat masa sekolah dulu. Mimpi untuk mandiri dan menghidupi diri sendiri dengan punya pekerjaan yang layak. Bahkan cita-cita yang tadinya saya pikir sudah kandas ternyata sebenarnya sudah saya raih saat ini yaitu Menjadi Penulis. Meskipun saya hanya menjadi penulis untuk Humas di kantor saya atau menjadi editor untuk majalah pemerintahan. Rasanya luar biasa.
ADVERTISEMENT
Ada satu keinginan besar ketika masa SMA dulu, melihat beberapa orang membuat transkrip data di komputer (jaman warnet berjaya) dan saya berfikir bagaimana kerennya orang-orang ini. Ternyata itu juga kesampaian meskipun baru setengah jalan ilmunya, namun dengan sedikit kompetensi itu justru saya sering bisa membantu orang bahkan dapat kerjaan sampingan.
Kemudian tentang harapan bahwa suatu saat bisa keliling Indonesia ke beberapa kota yang melekat dalam kepala saya , karena seringnya terlihat di televisi maupun radio saat itu. Alhamdulillah tercapai juga tanpa di duga. Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, bahkan Singapura.
Ah, ternyata benar kata pak ustadz dan para habib itu. Kadang do'a mu tak langsung di wujudkan tapi menunggu waktu yang tepat saat kamu siap. Atau do'a-do'a yang kita panjatkan terakumulasi dalam sekian waktu sehingga di akhir dibayar tunai dengan begitu indahnya.
ADVERTISEMENT
Hingga detik dimana tulisan ini sedang dibuat sambil menemani si bontot terlelap, sudah tersusun berbagai doa dan harapan di kepala tentang keliling ke beberapa negara ketika sudah waktunya. Menjadi Virtual Asisten ketika sudah siap kompetensinya. Mempunyai banyak sahabat dari berbagai negara. Menjadi petualang di usia 45.
Jika dipikir, ternyata tidak salah saya memiliki otak optimis yang tidak pernah takut bermimpi karena yakin punya Allah yang Maha Pencipta. Faktanya hal-hal dan musibah yang tidak pernah saya duga justru menjadi jalan terwujudnya semua impian dan cita-cita saya.
Misalnya ketika dulu lulus SMA saya melamar kerja bersama sahabat saya, yang di tawari awalnya saya tapi yang diterima justru dia. Kecewa? Pasti! Namun karena hal itu saya akhirnya menjadi seorang PNS hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Pernah satu kali saya duduk sambil minum coklat panas di di sebuah cafe, di temani hanya laptop dan suara musik halus. Saya baru menyadari begitu indahnya mandiri alias jalan sendiri, beli apa-apa sendiri, kemana-mana ga perlu nunggu si ini atau si itu. Ga perlu bergantung pada siapa pun. Hak mutlak akan aktifitas saya sehari-hari tanpa merepotkan orang lain.
Bukankah itu yang saya impikan saat kelas 2 SMA juga? Macam noni-noni korea atau jepang yang hidupnya diatur sendiri, biaya sendiri, kontrol sepenuhnya di tangan sendiri. Bangun tidur minum kopi dan roti bakar atau sandwich di hari libur.
Astaghfirullah, kadang dengan duduk menikmati hujan begini ternyata baru saya sadari bahwa selama ini kadang diri kurang bersyukur pada nikmat Ilahi. Kadang seenak perut bertanya "kenapa harus saya" atau "kenapa jadi begini" saat diberi ujian. Faktanya endingnya selalu indah dan memang disesuaikan kebutuhan manusianya.
ADVERTISEMENT
Lalu apalagi yang harus membuat saya atau anda overthinking sebenarnya? Masa depan? Sudah ada yang atur, untuk saya pribadi toh rasanya semua sudah saya genggam. Mengingat wangi hujan dari jendela rumah sendiri ini saja cukup membuat saya sangat tenang dan bahagia?
*berjam-jam duduk seperti inipun saya sanggup saking sadarnya mimpi saya tak ada yang tak berwujud.