Konten dari Pengguna

Lebaran Tanpa Ibu, Refleksi Sebelum Ia Benar-benar Tiada

Erniwati

Erniwati

Abdi Negara yang hobby nulis, Penyuluh Hukum Kanwil Kemenkum NTB, Freelancer yang doyan Web Design dan Digital Marketing. Hobby Belajar banyak hal baru.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erniwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebaran sebentar lagi, tinggal menghitung hari. Hari spesial itu sudah sepaket dengan rangkaian yang disebut Mudik, alias pulang kampung.

Sumber : karya Rifka Hayati via Getty Images Signature
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : karya Rifka Hayati via Getty Images Signature

Iya, selagi masih ada orang tua, atau hanya seorang Ibu, tradisi lebaran mudik itu memang manis. Terasa begitu dinanti, dengan kardus berisi oleh-oleh atau sekedar hadiah setahun sekali.

Tapi jika ia masih ada, bagaimana jika ternyata Ibu sudah berpulang, dipanggil yang Maha Kuasa. Apa jadinya Ramadhan dan Lebaran? Masihkah mudik itu menjadi impian dan penantian tahunan?

Entah mengapa, di malam terakhir Ramadhan ini, saya bukannya meraih Qur'an dan mengaji, tapi meraih laptop. Karena terbesit satu bayangan kecil dan pertanyaan, jika tahun depan ibu sudah tak ada.

Saya bergidik, air mata tiba-tiba menetes, apa jadinya hidup saya tanpa nya? Punya ibu pun kadang rasa rindu almarhum Bapak datang menyergap tak kenal waktu dan tempat. Tapi ini, tiba-tiba bayangan tak punya ibu hadir begitu saja.

Rasanya sakit, padahal realitanya ibu saya masih ada. Lalu teringat tentang puluhan tahun lalu, saya adalah saksi di mana hidup sangat sulit baginya.

Ibuku, Sang Pejuang Tangguh

Ibu, perempuan yang melahirkan saya itu tidak berasal dari keluarga berada, atau berpendidikan. Dia berasal dari keluarga petani miskin yang punya 8 anak. Semuanya hampir tak sekolah, termasuk ibu saya yang tak lulus Sekolah Rakyat.

Tak bisa membaca dan menulis. Detik ketika tulisan ini saya buat, teringat kembali bagaimana semasa kecil saya ibu harus bangun jam 4 dinihari, ditemani suara jangkrik dan kodok, menyalakan perapian di tungku tanah liat besar.

Tungku tradisional jaman dahulu, di atasnya tumpukan rak kayu kering untuk bahan bakar, kala itu kompor adalah barang mahal. Belum lagi minyak tanahnya.

Aroma kayu dibakar, santan, Adonan bubur sagu dan singkong yang menyatu dengan gula merah. Itu baru satu barang dagangan, yang kedua tepung kue, santan kental, daun pandan gula pasir dan tepung hangkwee yang aromanya semerbak bikin lapar di pagi buta.

Aroma penganan jaman itu yang mengalahkan bau asap kayu bakar. Di siang hari, perapian itu akan menyala lagi untuk menyiapkan makan siang. Ikan pindang goreng, sayur kelor dan sambal limau. Kami duduk bersama, makan seadanya, aroma ikan goreng dan sambal yang melekat hingga kini.

Atau memori setiap hari Minggu pagi, ibu akan mengajakku ke Pasar paling dekat yang jaraknya sekilo. Dengan sepeda, untuk belanja barang dagangan. Kami akan kembali siang hari, aku duduk di atas boncengan sepeda, barang belanja di keranjang depan, dan ibuku berjalan sambil menuntun sepeda.

Dia tak pernah mengeluh. Dia tahu gaji bapakku yang seorang penjaga sekolah golongan I kala itu tak cukup untuk makan, apalagi sekolah. Dia begitu kreatif, pagi jualan, siang jadi ibu rumah tangga, sore cuci baju dan mengurusku, 7 hari seminggu. dari gelap ke gelap lagi.

Didikan Yang Keras dan Kasar

Bagaimana saya di didik, sudah pasti banyak yang tahu. Anak kelahiran 80 dan 90 an sudah paham. Namun luka akibat didikan itu juga begitu membekas, menyakiti bahkan membuat hubungan ini sulit dekat.

Ada pemberontakan ketika saya Dewasa, ketika saya punya kendali atas hidup saya sendiri. Dia tak bisa lagi mengontrol saya, hidup saya, keputusan saya dan semua yang ingin saya lakukan.

Saya tak pernah menyesali, ketika branjak SMP dan SMA dibangunkan pukul 4 dini hari, goreng tahu isi, rendam bihun jagung dan rebus kangkung untuk barang dagangan pagi itu.

Karena ibu saya sehabis subuh harus ke pasar, belanja bahan dagangan. Pulang dari pasar, menta, dan mulai berjualan. Siangnya masih masak untuk keluarga, sorenya urus cucian lagi. Dunianya begitu padat, sepadat otak saya dengan materi sekolah, PR, tugas, dan beban mental saat itu.

Satu-satunya yang saya sesali adalah kalimat kasar, cacian dan kadang kata-kata menusuk yang melukai mental saya sebagai seorang anak. Hingga saat ini, saya bahkan tak pernah bisa tinggal serumah dengannya. Luka itu tertancap dalam, Ibu.

Tapi, hari ini, detik dimana saya sadar berapa umur saya, berapa usia Ibu saya, seakan titik balik itu menampar kesadaran saya dengan keras.

Rentetan pertanyaan menyedihkan yang tak pernah muncul sebelumnya seperti pisau tajam yang menusuk kesadaran,

"Dia ibumu, terlahir dari keluarga yang juga keras dan kasar. Tak kenal kalimat lemah lembut. Dia berjuang sejak kecil hanya untuk makan, jangankan pendidikan, baca tulispun ia tak bisa! Dulu dia kasar padamu, keras bahkan menyakiti hatimu begitu dalam, dia bersalah. Tapi tahukah kamu, bahkan hari ini beban hidupmu yang kamu anggap berat, mungkin belum sampai 1/3 kisah derita hidupnya. Dia perempuan yang mencari sendiri biaya makannya, bahkan meskipun sudah menikah. Berjuang supaya biaya buku di sekolahmu bisa terbayar, tak kenal petang, mau hujan pun badai datang. Dulu saat malam, kamu begitu kepayahan dengan tugas sekolahmu, ia bangun dan sekedar mengusir nyamuk agar tak menggigit mu, padahal lelah tubuhnya juga mungkin tak terbayang rasanya. Dengan semua beban berat di pundaknya, bahkan kamu pun tau rasanya sekarang, setelah punya anak-anak mu sendiri."

Sekelebat Pikiran, Jika Besok Ibu Tiada

Pikiran manusia memang kadang hadir begitu saja, sekelebat pikiran bagaimana jika besok ibu benar-benar tiada?

Mau apa mudik, untuk apa pulang? Siapa yang mau dicari, ditemui. Padahal hari-hari ini, selama Ramadhan ini, telpon darinya sering sekali masuk.

Bukan untuk bicara panjang lebar, dia cuma bilang "Nak jangan masak ya, buka di sini aja, ibu buka sendiri" Atau sekedar bilang "jangan masak, ini sudah ibu masakin, nanti dianterin ke rumah".

Dan tiap masakan yang datang, adalah semua rasa favorit saya yang tak akan saya temui di manapun. Lalu bagaimana jadinya kalau racikan itu hilang?

Bagaimana kalau tangan ajaib si koki ulung itu sudah tak lagi bernyawa? Apakah sebanding dengan luka itu yang puluhan tahun bersemayam di dada saya? Tidak!

Ternyata saya menangis sesenggukan membayangkan jika ibu saya tiada, jika tubuh itu terbujur kaku dan dingin. Jika ia tak lagi bisa meminta kepada saya, atau sekedar telpon.

Apa itu Ramadhan jika ibu sudah pergi? Apa itu lebaran jika tak ada tangannya yang siap dicium dan memberi doa. Apa itu Mudik jika jantung penghangat rumah nya sudah dipanggil Illahi? Yang tersisa hanya kosong, dan segumpal penyesalan.

Refleksi Diri

Apa yang saya tuliskan ini tak lebih dari ingin berbagi sedikit refleksi diri. Bahwa sesakit apapun dampak dari perlakukan seorang ibu bagi saya, ternyata rasa sakit takut ditinggalkan lebih menyayat dan perih dari yang saya bayangkan.

Saya tidak tahu luka kalian seperti apa, atau pengalaman menyakitkan apa yang pernah kalian dapat dari seorang Ibu. Tapi selama ia masih menelpon, masih memasak untuk kalian, masih bisa meminta sesuatu yang bisa kalian penuhi, please, buat dia senang, buat dia bahagia.

Karena saya pribadi, dalam urusan apapun saya akan bilang ke ibu saya "Mak, tolong doakan ini supaya lancar, supaya rejekinya lancar, supaya lulus ya".

Entah itu mau ujian sekolah, ujian dinas, meeting klien atau apapun hal-hal yang saya khawatirkan, yang saya tahu mungkin doa saya tidak se dahsyat doa ibu saya yang menembus langit.

Teman-teman para pembaca budiman, selagi masih ada Ibu, jangan pernah khawatir langkahmu tertatih, jangan pernah takut gagal. Karena masih ada pintu surga yang masih di titipkan pada kita. Masih ada dua telapak tangan ajaib yang siap berdoa Pada Tuhan agar kita anak-anaknya diberi kemudahan dan keselamatan.

Jangan pernah sia-siakan Ibu kita yang masih hidup, karena Ramadhan mu, lebaranmu, mudikmu tak akan pernah sama. Duniamu hilang saat Ibu berpulang.

*bersyukurlah bagi semua insan yang masih dikarunia Ibu, apalagi orang tua lengkap.