Orang Tua: Sejauh Mana Kita Bisa Menghargai Anak-Anak?

Abdi Negara yang hobby nulis, Penyuluh Hukum Kanwil Kemenkum NTB, Freelancer yang doyan Web Design dan Digital Marketing. Hobby Belajar banyak hal baru.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Erniwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejauh mana kita bisa menghargai anak-anak kita? pertanyaan yang hampir sulit sekali diterima orang tua. Alih-alih menjawab, biasanya ego membuat kita menyepelekannya.
Menjadi orang dewasa seringkali membuat kita tak sadar, bahwa seiring bertambahnya usia tak melulu membuat kita jadi dewasa. Faktanya banyak orang tua alergi mengenal cara menghargai seorang anak.
Stigma bahwa anak harus patuh, harus mendengar orang tua dan masih kecil, seakan menjadi dinding kokoh yang menghalangi kita mengenal siapa anak-anak kita. Sehingga pada akhirnya, sulit menerima niat baik mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, banyak kita temukan seorang anak yang menjatuhkan gelas dengan tak sengaja, berakhir dengan bentakan. Atau ketika dia dimintai tolong dan justru tak sesuai arahan dan harapan kita maka makian dan amarah yang menyertainya.
Mereka hanya diam, kaget, atau bahkan menangis. Sering juga ada anak yang merusak barang mainan, atau perkakas di dapur dan kita menjadi murka. Pikiran kita penuh dengan penghakiman "keterlaluan, kenapa senang merusak barang!"
Bagaimana Melihat Diri Anak
Padahal jika saja kita mau sedikit lebih tenang, cobalah amati dan gunakan pikiran kita. Jangan marah dulu, jangan teriak dulu, jangan dibentak dulu, tapi rendahkan badanmu sejajar dengan mereka.
Cobalah untuk duduk dan amati prosesnya, apa yang dia lakukan sebelum gelas pecah, jangan-jangan dia hanya terpeleset ketika ingin mengambilkan kita air minum, atau ketika dia tidak ingin merepotkan kita saat merasa haus.
Cobalah untuk mengamati, ketika ia sedang merusak mainannya, apakah dia hanya merusak atau justru muncul bentuk baru yang sesuai imajinasinya. Iya, imajinasinya yang sangat luar biasa kreatif.
Cobalah perhatikan, ketika kita meminta bantuannya dan ia mengerjakannya tak sesuai arahan kita, tapi justru bergerak sesuai keinginannya. Apakah di sana ada manusia kecil baru yang belajar mendengar inisiatifnya?
Analisa dan Kesadaran Orang Tua
Lalu terakhir, munculkan tanya dalam benak kita, apa sebenarnya niat anak kita? Kenali lebih dekat manusia kecil yang tak berdosa ini, yang masih tumbuh dan baru mengenal dunia. Tapi seringnya kita paksa menelan dan menghadapi ego kita sebagai manusia dewasa.
Pada dasarnya, tak ada anak berniat jelek. Niat mereka baik, hanya tak mengerti bagaimana cara yang benar, belum paham apakah itu merugikan, masih berpikir bagaimana mewujudkan maunya dan imajinasinya. Dia berpikir hasil akhir tapi masih belum akrab dengan prosesnya.
Dari sini, seharusnya kita sebagai orang tua sadar, betapa mudahnya kita menghancurkan jiwa kecil mereka. Betapa minimnya penghargaan kita terhadap niat baik mereka. Yang kita lihat hanya akhirnya saja yang menyebalkan dan membuat kita semakin lelah.
Ingatlah, seorang inovator akan selalu berimajinasi dengan pikiran "bagaimana seandainya", atau "bagaimana kalau". Dan ujung dari kata-kata itu adalah praktik dan eksperimen. Tidak ada eksperimen tanpa pengorbanan, seperti mainan yang mahal berubah menjadi rongsokan di mata kita, tapi menjadi wujud imajinasi yang sangat berharga di mata anak-anak kita.
Ada bakat yang terpendam di sana, yang harus kita hargai dan arahkan agar berkembang lebih baik.
Dewasa berarti mampu bersikap bijak dengan menghargai niat baik mereka dan usaha mereka.
Tokoh Dunia Yang Melegenda
Karena faktanya, dunia terperangah ketika dari seorang anak yang dulu menyebalkan dan membuat bingung, bertransformasi menjadi sosok seperti :
1. Albert Einstein
Waktu kecil dianggap lambat belajar dan sering melamun. Tapi kemudian menjadi ilmuwan besar yang mengubah dunia dengan teori relativitas.
2. Thomas Alva Edison
Waktu kecil dikenal sangat aktif dan sering dianggap “nakal”. Ia bahkan pernah dianggap tidak cocok di sekolah, sehingga ibunya mengajarnya di rumah. Rasa penasarannya yang besar (kadang sampai bikin masalah) justru membuatnya menjadi penemu hebat.
3. Steve Jobs
Saat kecil dan remaja, Jobs dikenal suka melawan aturan dan keras kepala. Orang tua dan gurunya sering kewalahan. Tapi sifatnya yang berbeda itu akhirnya membuatnya berani menciptakan inovasi besar di dunia teknologi.
4. Elon Musk
Semasa kecil ia sering dianggap “aneh”, suka tenggelam dalam pikirannya sendiri, dan mengalami banyak kesulitan sosial. Ia juga sering dimarahi karena terlalu asyik dengan hal-hal yang ia minati. Namun sekarang dikenal sebagai inovator di bidang teknologi dan luar angkasa.
5. Nikola Tesla
Tesla punya kebiasaan unik dan obsesif sejak kecil yang sering membuat orang di sekitarnya bingung atau kesal. Namun justru dari pola pikirnya yang tidak biasa, ia menghasilkan banyak penemuan penting..
Mereka semua orang-orang sukses yang menjadi legenda. Orang tuanya pasti bangga, namun tak semua dari mereka hidup untuk menghargai yang dulu tak mereka sukai itu.
Lalu, akankah kita menjadi orang tua yang malu saat anak-anak yang tak pernah kita hargai itu, menjadi sukses dengan pikiran dan imajinasi mereka? Tanpa pendampingan kita.
