Pentingnya Afirmasi Diri : Langkah Awal Meraih Mimpi

Abdi Negara yang hobby nulis, Penyuluh Hukum Kanwil Kemenkum NTB, Freelancer yang doyan Web Design dan Digital Marketing. Hobby Belajar banyak hal baru.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Erniwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Afirmasi diri bukanlah hal mudah, meskipun sering sekali di sampaikan oleh para motivator di luar sana. Percayakah anda jika saya katakan langkah awal meraih mimpi itu adalah afirmasi diri?

Apa itu Afirmasi diri?
Afirmasi diri (self-affirmation) adalah kebiasaan mengucapkan atau mengingatkan diri sendiri tentang nilai, kemampuan, keyakinan, atau tujuan positif yang ingin kita tanamkan dalam pikiran.
Sederhananya, afirmasi diri adalah berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang positif dan konstruktif. Sehingga kita selalu jadi positif dan optimis dalam melangkah dan mengambil keputusan.
Afirmasi diri, bagi saya pribadi adalah satu kebiasaan ketika kita menginginkan sesuatu dan hati serta otak kita satu frekuensi berkata "nanti saya akan sampai ke situ" atau " saya pasti bisa seperti itu". Artinya, kita membiasakan diri dengan mindset "tidak ada yang tidak mungkin!"
Percaya atau tidak saya sudah membuktikannya sendiri, apapun yang saya inginkan selalu terwujud, entah itu setahun kemudian, 2 tahun, 5 tahun atau 10 tahun kemudian. Bahkan saya sendiri kadang bingung, seajaib itukah percaya diri sendiri dan meyakinkan diri bahwa "everything is possible!"
Manfaat Afirmasi Diri
Manfaat afirmasi diri menurut saya sangat luar biasa, di saat banayak orang pesimis justru saya mampu melangkah dengan optimis. Karena sebenarnya afirmasi bukan sekadar mengatakan kalimat positif berulang-ulang.
Apalagi jika dilakukan dengan tepat, tujuannya adalah membantu seseorang untuk:
Mengubah pola bicara terhadap diri sendiri — dari “Saya tidak bisa” menjadi “Saya sedang belajar untuk bisa dan saya pasti bisa.”
Meningkatkan kepercayaan diri, karena pada dasarnya tidak ada orang bodoh jika mau belajar dan yakin akan kemampuannya.
Mengurangi pikiran negatif yang berulang, rasa cemas pasti ada dan itu biasa. Namun dengan seringnya afirmasi akan mampu menekan semua jenis kecemasan dan menggantinya dengan keyakinan.
Menguatkan nilai dan tujuan pribadi, karena faktanya tanpa tekad, cita-cita tinggallah cerita.
Membantu menghadapi situasi yang menekan dengan pola pikir yang lebih konstruktif.
Namun demikian, Afirmasi yang baik sebaiknya tetap realistis. Misalnya, dengan mengatakan pada diri sendiri “Saya mungkin menghadapi kegagalan, tetapi saya pasti akan mampu belajar dan bangkit lagi!”
atau
“Saya selalu memiliki kemampuan untuk terus berkembang dan membangun keberhasilan saya sendiri.”
Jadi, afirmasi diri bukan mantra untuk membuat sesuatu terjadi secara ajaib, melainkan cara untuk membangun dialog internal yang lebih sehat dan mendukung tindakan kita serta membangun tekad kita.
Kapan baiknya Afirmasi dilakukan?
Afirmasi diri bisa dilakukan kapan saja kok, tetapi ada beberapa waktu yang biasanya paling efektif dimana pikiran saat itu lebih tenang dan mudah fokus.
Nah beberapa waktu dimaksud antara lain :
1. Pagi hari — sebelum memulai aktivitas
Afirmasi diri sangat baik dilakukan sesaat setelah bangun tidur, sebelum memulai aktivitas atau mulai bekerja.
Anda dapat mulai mengatakan bisikan kecil sambil mengatur nafas anda, seperti kalimat simple
“Hari ini saya tenang, fokus, dan mampu menghadapi apa pun yang datang.”
Lakukan cukup 2–5 menit.
2. Sebelum atau menjelang tidur
Sebelum atau sesaat menjelang tidur, gunakan afirmasi untuk menutup hari dengan pikiran yang lebih positif. Lepaskan beban yang ada di pikiran anda, dan katakan
“Saya sudah melakukan yang terbaik hari ini. Saya melepaskan hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan.”
Ini juga bisa dikombinasikan dengan rasa syukur.
3. Saat sedang cemas atau ragu
Tidak perlu menunggu pagi atau malam. Ketika muncul pikiran seperti “Saya tidak mampu” atau cemas berlebihan, maka gunakan afirmasi untuk mengubah respons tersebut.
Misalnya :
“Saya tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Saya akan menghadapi satu langkah pada satu waktu.” atau "saya juga punya keterbatasan, tapi saya akan berusaha yang terbaik"
4. Sebelum menghadapi situasi penting
Biasanya overthinking dan kecemasan itu sering muncul sebelum menghadapi situasi penting, seperti:
meeting atau presentasi penting
bertemu klien,
negosiasi,
- mengambil keputusan,
- menghadapi percakapan yang sulit.
Contoh:
“Saya sudah mempersiapkan diri. Saya akan berbicara dengan tenang dan percaya diri.”
5. Saat bercermin
Melihat diri sendiri sambil mengucapkan afirmasi dapat membuat latihan terasa lebih personal dan mendalam.
Misalnya:
“Saya percaya pada diri saya. Saya menghargai diri saya dan kemampuan yang saya miliki. Saya pasti mampu!"
6. Saat melakukan aktivitas rutin
Afirmasi juga bisa dilakukan sambil berjalan, berkendara tanpa mengganggu konsentrasi, berolahraga, atau ketika sedang melakukan pekerjaan rutin.
Seperti saya sepuluh tahun lalu, lewat di depan restoran mahal dan mengagumi bagaimana orang meeting di tempat seperti ini. Saya hanya nyeletuk saat itu dengan penuh percaya diri "saya akan ada disitu suatu hari nanti".
Dan memang terjadi, namun tidak instan. Ada upaya terus belajar dan mengembangkan diri, intinya saya punya prinsip "dimana ada kemauan, disitu ada jalan".
Jadi, berhentilah meragukan diri sendiri. Hari ini mungkin kita bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, diremehkan orang pun anggap saja biasa. Namun kita harus punya cita-cita, tekad, kemauan dan usaha untuk mewujudkannya.
Tidak ada yang tidak mungkin, diri cuma butuh sedikit afirmasi yang konsisten untuk tetap melangkah maju. Selamat berusaha untuk para pejuang mimpi di luar sana.
