Konten dari Pengguna

Balas atau Maafkan? Al-Qur’an Tawarkan Jalan Tengah

Ersa Alifia

Ersa Alifia

Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sultanah Nahrasyiah

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ersa Alifia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Al-Quran (Foto oleh Ali Burhan/pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Al-Quran (Foto oleh Ali Burhan/pexels.com)

Maraknya fitnah, saling blokir, hingga aksi balas dendam di media sosial dan kehidupan nyata sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Ironisnya, apa yang disebut “keadilan” justru sering terasa janggal. Banyak orang bertanya: “Beginikah keadilan?” saking herannya dengan alur keadilan di antara kita. Hal ini membuat kita ingin menggali kembali bagaimana adil yang sesungguhnya, Ketika dizalimi, bolehkah kita membalas? Ataukah harus diam dan memaafkan? Apakah bersabar berarti pasrah? Al-Qur’an menjadi solusinya sebagaimana termaktub dalam Surah Asy-Syura ayat 40-43.

Al-Qur'an Menjadi Penengah

Dalam surah Asy-Syura ayat 40, Allah berfirman: "Balasan terhadap kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barangsiapa memaafkan dan berdamai, pahalanya atas tanggungan Allah." Ayat ini memberi hak bagi korban untuk membalas, tapi juga membukakan pintu kemuliaan yang lebih tinggi yakni memaafkan.

Pandangan Ulama: Antara Hukum dan Hati

Tafsir Al-Munir jilid 13 karya Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa membalas kejahatan diperbolehkan selama tidak melampaui batas, sesuai dengan kadar kesalahan yang diterima. Ketentuan ini relevan dengan segala bentuk hukuman, baik dalam perkara perdata maupun pidana, selama tidak melampaui batas. Namun, memilih untuk tidak membalas dan menyerahkan urusan kepada hukum atau bertawakkal pada Allah adalah bentuk keimanan yang luar biasa. Contohnya, kasus pencemaran nama baik di media sosial, bukan berarti ia harus membalas dengan hinaan serupa, yang justru bisa menimbulkan konflik. Islam menganjurkan penyelesaian yang adil, misalnya melalui jalur hukum atau memilih untuk memaafkan bila mampu.

Ayat 41 dan 42 mempertegas bahwa orang yang membela diri setelah dizalimi tidak bersalah, misal, setelah difitnah, dihina, atau dicemarkan nama baiknya, maka boleh saja jika ingin menjelaskan dan meluruskan keadaan, selama masih dalam batasan. Sebab, dosa dan tanggung jawab ada pada mereka yang memulai kezaliman, atau membalas secara berlebihan. Artinya, Islam sangat memahami rasa sakit korban dan tidak menuntut kepasrahan mutlak. Tapi batasannya jelas pembelaan harus sewajarnya, bukan melampaui. Ayat 43 hadir seperti penghibur bagi jiwa yang tersakiti, menuntun kita melampaui rasa sakit dengan sabar dan kelapangan hati. Sungguh itu perbuatan terpuji yang akan diberi balasan yang melimpah.

Sementara Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah jilid 12 menyampaikan bahwa balasan setimpal bertujuan menegakkan keadilan dan menghilangkan dendam. Namun, karena pembalasan sering kali membawa risiko berlebihan, maka Al-Qur’an membimbing umat untuk memilih pemaafan sebagai jalan lebih utama. Allah bahkan menyebutkan bahwa pahala memaafkan akan langsung menjadi tanggungan-Nya.

Ayat 43 menjadi akhir yang indah dari rangkaian ini: "Tetapi siapa yang bersabar dan memaafkan, sungguh itu termasuk hal-hal yang sangat dianjurkan." Kesabaran bukan kelemahan, dan memaafkan bukan ketundukan. Dalam pandangan Islam, keduanya adalah bentuk keteguhan hati yang luar biasa.

Memaafkan Jika Layak, Membalas Jika Perlu

Namun pada akhirnya, semuanya bergantung pada sikap pelaku. Sebagaimana pendapat sebagian ulama, jika pelaku benar-benar menyesal dan berhenti dari perbuatannya, maka memaafkan adalah pilihan utama. Tetapi bila ia terus membangkang, maka pembalasan yang sepadan diperbolehkan selama dilakukan dengan tepat dan tidak melampaui batas.

Panduan Hidup Sejahtera

Di tengah masyarakat yang menormalisasikan balas dendam, saling hujat, surah Asy-Syura:40-43 mengajarkan kita bahwa ada kemenangan lebih tinggi daripada membalas, yaitu memaafkan. Bukan karena kita tidak mampu membalas, tapi karena kita memilih jalan yang lebih agung.

Ayat-ayat ini tidak hanya menjawab konflik batin kita saat disakiti, tapi juga memberikan panduan hidup yang seimbang antara keadilan dan ampunan.

Ersa Alifia, Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sultanah Nahrasyiah