Yoga Sutra Patanjali: Jalan Menuju Kesadaran dan Pembebasan Diri

Mahasiswa Doktoral Sosiologi Pedesaan IPB University, dan Dosen FIKOM Universitas Esa Unggul
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Endang Roh Suciati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi masyarakat perkotaan Yoga bukanlah kata asing. Dua puluh tahun terakhir Yoga telah menjadi bagian dari gaya hidup. Bukan hanya di Indonesia, namun juga di berbagai belahan dunia barat dan timur. Yoga menjadi sebuah kegiatan olah tubuh yang populer. Masyarakat mengenal gerakan Yoga berasal dari India. Olah badannya disebut Yoga dan praktisi atau pelakunya disebut dengan Yogi. Gerakan Hatha Yoga dan Ashtanga Yoga menjadi materi yang banyak diajarkan pada tempat-tempat pelatihan Yoga.
Padahal sebenarnya Yoga bukanlah sekadar olah tubuh. Seorang Yogi bukanlah mereka yang mahir menggerakkan tubuhnya secara akrobatik: dengan kepala di bawah ditopang tangan dan tubuh mengudara, sebuah olah tubuh yang memerlukan latihan dan keterampilan teknis tinggi. Kuatnya kesan Yoga sebagai olah tubuh sebagai budaya populer ini kerap mengaburkan makna lebih mendasar dan hakiki dari Yoga.
Lalu, apa sebenarnya Yoga? Menurut pendapat ahli, Yoga berisikan nilai-nilai filosofis yang mendalam. Tradisi ini berakar pada upaya penemuan diri dan pembebasan spiritual. Berbagai literatur menyebutkan Yoga berasal dari lembah Indus. Di dalam artikel yang ditulis oleh Siti Nurlaili (2004) ‘’Nilai-nilai filosofis yang terdapat pada Yoga Sutra Patanjali’’ akar kata Yoga sendiri dapat dilacak kembali pada 5000 tahun kebudayaan lembah Indus.
Menurut pakar Filsafat Timur dari Indonesia Dr. Mathius Ali dalam Enam Sistem Filsafat India, Yoga adalah salah satu elemen dari Shad-Dharshana atau Enam Sistem Filsafat India. Darshana berarti persepsi langsung, pandangan kontemplatif, dan penglihatan spiritual. Dharsana sebagai sebuah sistem filosofis membentuk sekumpulan pengetahuan mengenai prinsip tertinggi yang diturunkan dari para kaum bijak melalui pewahyuan atau persepsi spiritual langsung.
Ke-enam sistem filsafat ini dirumuskan pada Abad ke-9 dan ke-11 oleh beberapa Resi . Para Resi melihat realitas atau kebenaran yang sama, tetapi dari sudut pandang serta kedalaman yang berbeda. Jadi tidak ada satupun sistem yang dapat mewakili filsafat ortodok India. Untuk mengetahui posisi Yoga di dalam aliran filsafat India maka bisa dilihat dari pengkategorian mereka ke dalam dua aliran yaitu Astika dan Nastika. Yoga bersama Nyaya, Vaisheshika, Samkhya, Purva-Mimamsa, dan Vedanta termasuk dalam kelompok Astika. Sebagai tradisi Sanatana Dharma (Jalan Hidup), Weda menjadi landasan tertinggi. Weda mengandung pengetahuan spiritual yang diturunkan melalui wahyu lisan.
Dalam kerangka inilah, Yoga Sutra yang dirumuskan oleh Patanjali pada abad ke-2 Sebelum Masehi seirama dengan nilai-nilai spiritual untuk membebaskan manusia dari penderitaan dan keterbatasan. Nilai lainnya adalah sebagai sarana bagi seseorang untuk mendapatkan kesadaran. Maka Yoga termasuk di dalam Astika, yaitu aliran yang menerima Weda. Bagi Hinduisme Weda merupakan teks suci. Tradisi ajaran Weda dikenal sebagai ‘’sruti’’ artinya ajaran yang diperoleh melalui pendengaran (wahyu).
Selama ribuan tahun, diperkirakan ajaran Veda diturunkan secara lisan; dan menghafal adalah satu-satunya cara untuk memperoleh pengetahuan tentangnya. Weda memiliki sejumlah literatur kanonik yang secara kolektif disebut Weda (Pengetahuan). Pengetahuan yang diturunkan secara lisan dan dijaga kerahasiannya dari orang luar. Weda dikomentari serta ditafsirkan oleh para sarjana serta para arif bijaksana yang karya-karyanya diakui dan mendapat penting sebagai otoritas.
Samkya, Yoga Patanjali, dan Kekuatan Pada Konsentrasi Pikiran
Setiap sistem filsafat mulai dengan sebuah analisis unsur-unsur yang membangun eksistensi dan pengalaman manusia. Kemudian, mereka mencoba menjelaskan hubungan antara kedua kategori unsur utama, yakni: Roh Absolut dan Alam. Akhirnya, tujuan mereka adalah untuk mendefinisikan serta menjelaskan Roh Absolut, agar dapat mencapai pembebasan melalui realisasi pribadi. Selain menyampaikan dasar-dasar filsafatnya, ke-enam sistem filsafat India juga menggambarkan metode untuk mencapai pengalaman spiritual aktual. Jadi, ke-enam sistem filsafat itu bukan hanya menyediakan kerangka-kerja bagi pemahaman filosofis, tetapi juga memberikan sarana untuk pencerahan sejati, serta ajaran-ajaran khusus untuk penerapan teori pada latihan yang aktual.
Ini berarti bahwa filsafat hanya dapat menyediakan garis besar realitas spiritual serta mengusulkan rambu-rambu umum untuk mengarahkan usaha spiritual seseorang. Filsafat hanya dapat bertindak sebagai rencana atau peta kasar wilayah spiritual menuju ke arah realitas absolut. Karenanya, filsafat hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan, jangan disalahartikan sebagai tujuan itu sendiri. Hal ini juga berlaku bagi ke-enam sistem filsafat klasik India, yakni: Shad Darshanas. Merujuk pada catatan Mathius Ali, Ke-enam sistem ini biasanya dikelompokkan menjadi tiga pasangan ganda. Pasangan pertama adalah Nyaya-Vaisesika; pasangan kedua adalah Samkhya-Yoga; dan pasangan ketiga adalah Mimamsa-Vedanta. Setiap pasangan dianggap sebagai dua aspek berbeda dari satu disiplin yang sama, seperti dua sisi mata uang.
Melihat pengelompokan ini, Yoga, dipasangkan dengan Samkhya (Samkhya-Yoga). Keduanya merupakan kategori yang menerima Weda. Melalui kerangka inilah Samkya-Yoga menjelaskan hubungan antara kedua kategori unsur utama, yakni: Roh Absolut dan Alam. Akhirnya, tujuan mereka adalah untuk mendefinisikan serta menjelaskan Roh Absolut, agar dapat mencapai pembebasan melalui realisasi diri. Selain menyampaikan dasar-dasar filsafatnya, ke-enam sistem juga menggambarkan metode untuk mencapai pengalaman spiritual aktual.
Perlulah untuk dijelaskan hubungan antara Samkhya dan Yoga. Samkya sistem dari Kapila dikatakan telah ada pada abad 7 SM, mendahului Yoga Patanjali. Dua fundamen di dalam Samkya adalah Purusha and Prakriti. Purusha dipahami sebagai kesadaran universal dan Prakritri sebagai energi universal. Di dalam sistem ini pengalaman rasa hanya berasal dari kesadaran universal. Kesadaran universal terkadang mengidentifikasi dirinya dengan energi universal. Tujuan dari energi universal adalah membebaskan spirit dari identifikasi materi yang nampak. Sehingga menurut Samkhya, kesadaran universal mengidentifikasi dengan energi universal. Ini adalah sumber dari ikatan. Peran dari energi universal adalah membebaskan seseorang dari identifikasi diri.
Sedangkan filsafat Yoga Patanjali yang ditemukan pada abad ke 2 SM menerima metafisika Samkhya dengan hanya satu perbedaan. Yaitu dia mengenalkan ‘’Guru Pertama’’ atau yang disebut dengan Isvara, dan dalam rasa ini, dia bisa diklasifikasikan sebagai sesuatu yang bersifat theistic (Ketuhanan). Akan tetapi dalam arti luas, falsafat adalah disiplin praktek dari pikiran. Sehingga Resi Patanjali menghentikan spekulasi metafisika bagi mayoritas tulisannya dan memfokuskan pada meditasi dan kontrol fisik. Hal tersebut sering disebut dengan rāja yoga dan referensi pendek dibuat dalam Bhagavadgīta,
Menurut Patanjali, seluruh ilmu pengetahuan datang melalui kekuatan konsentrasi pikiran dan Yoga Sutra menggambarkan seni dan konsentrasi mental. Text Yoga dimulai dengan definisi yoga sebagai chittavritti nirodhah yang berarti “yoga adalah pengendalian terhadap modifikasi mental.’’ Di sini kata Yoga digunakan sebagai konsentrasi mental.Yoga adalah praktek pengendalian diri dan ketidakmelekatan (abhyāsa dan vairāgya). Praktek adalah upaya berulang untuk mengikuti disiplin yang memberikan kendali permanen terhadap gelombang pikiran. Hal tersebut menjadi kuat setelah dipupuk dalam waktu yang lama dan terganggu dengan berbagai godaan. Ketidakterikatan adalah pengendalian diri; dia adalah bebas dari keinginan terhadap apa yang dilihat dan didengar.
Di dalam ayat ini penekanannya adalah pada praktik atau upaya terarah oleh pandangan pengakhiran keterikatan. Akhirnya adalah pengetahuan akan Diri, atau Atman. Di dalam filosofi ini begitu tujuan tertanam di pikiran, prinsip etika dan moral akan membantu pikiran berkonsentrasi. Saat pikiran berkontemplasi, dia menjadi halus dan pada saat yang sama dia berada pada visinya. Seperti yang dimaknai dalam Upanishad. “Di saat orang berpikir, maka menjadilah,’’ Tulis Patanjali. Pada puncaknya pikiran ada pada kondisi Samadhi sesungguhnya.
Delapan Jalan Yoga Patanjali Untuk Kesadaran dan Pembebasan Diri
Metode untuk memungkinkan pikiran mencapai level kesadaran disebut sebagai ashtanga yoga, atau delapan jalan yoga. Delapan jalan ini adalah adalah pengendalian (yama), pengamatan (niyama), postur (āsana), pengaturan nafas (prānayāma), berada pada rasa (pratyahāra), konsentrasi (dhārana), meditasi (dhyāna) dan transendensi (samādhi). Pengendalian diri (yama) terdiri dari lima hal: tidak-menyakiti (ahimsa), kebenaran (satyam), tidak mencuri (āsteya), kehematan (brahmachārya), dan ketidakpemilikan (aparigraha). Kelima hal ini membentuk prinsip-prinsip etik yang diturunkan dari tujuan secara ekplisit dari pikiran. Sedemikian sehingga mereka bukanlah hanya observasi eksternal, tapi lebih pada observasi pada pikiran. Sehingga Ahimsa merujuk pada pikiran, kata, dan perbuatan yang tidak melukai. Bukan hanya tidak melukai orang lain, tapi juga tidak melukai diri sendiri.
Di dalam bagian ini, Patanjali menggambarkan prinsip psikologi yang mendasar bahwa seseorang bisa memanipulasi pikirannya sendiri. “Untuk menghalangi pemikiran yang mengganggu Yoga, pemikiran yang berlawanan harus dibawa,’’ ungkap Vivekananda. Patanjali menulis bahwa prinsip ini bisa digunakan dengan dampak yang besar di dalam mengelola gelombang pemikiran perasaan.
Postur (āsana) dan pengaturan pernafasan (prānayāma) harus pula dipraktekan sebagai alat untuk mencapai kendali atas pikiran. Lebih dari seribu tahun, dua langkah ini telah diperluas oleh para Yogi pada latihan pernafasan dan pemanasan. Disiplin ini kemudian dikenalkan sebagai Hatha yoga dan bagian dari disiplin Raja Yoga. Sistem latihan fisik inilah yang mendapat populartas khususnya di Eropa dan Amerika utara, dan ini lah yang dianggap sebagai ide popular tentang ‘’yoga.’’ Akan tetapi seperti dilihat bahwa asal dari hatha yoga adalah yoga sutra Patanjali dan membentuk sebuah alat untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.
Mengendalikan organ rasa (pratyahāra) dikombinasikan dengan konsentrasi (dhārana). Ketika kita merenungkan ide-ide abstrak, kita secara otomotasi akan menarik rasa dari dunia luar. Tahap terakhir adalah samadhi atau penyerapan total. Patanjali menulis bahwa ketiga, dhārana, dhyāna dan samādhi, tersusun dari samyama dan perlu dilakuan bersama. Proses ini dibandingkan dengan trajektori sebuah roket tiga tahap. Tahapan lebih rendah akan berhenti di waktu yang tepat sehingga roket akan meluncur mencapai ruang yang lebih tinggi. Di dalam cara yang sama, konsentrasi menyatu ke dalam meditasi, yang akhirnya akan berpuncak pada samadhi.
Menurut filosofi Yoga, semua kepribadian spiritual bersejarah telah mencapai tahapan pikiran ini atau mendekatinya. Tanpa sebuah disiplin yang ilmiah, seseorang akan gontai. Sedangkan yang lain mendekatinya dengan cara lebih ilmiah. Sebagai kesimpulan, secara esensi filosofi Yoga adalah sebuah pengetahuan tentang pikiran manusia. Banyak dari penulisannya ditujukan untuk menggambarkan metode pencapaian kesadaran yang tinggi. Namun Patanjali mengingatkan agar pendekatan yang dilakukan haruslah ilmiah, diarahkan oleh alasan dan pengalaman. Yoga Patanjali adalah karya besar berkaitan dengan pikiran manusia. Teknis-teknis praktisnya bisa diaplikasikan oleh setiap orang dalam perjalanan fisik mereka menuju pemahaman seutuhnya. Tulisan Patanjali yang terdiri dari 196 pernyataan sutra ini memberikan pada kita cara pandang, dalam perjalanan kita menuju kesadaran penuh dan menyeluruh, bak mekarnya bunga pada kebebasan diri kita.
