Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Idulfitri : Balik Ke Fitrah bukan Ke Medsos
2 April 2025 9:48 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Erwandy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Pagi itu, selepas salat Idulfitri, seorang bapak duduk di teras rumah kontrakannya. Kopi hitam mendingin di tangannya, ditemani setumpuk struk belanja: baju baru, mainan anak, hampers dari toko daring. Anak-anak tersenyum riang tampil rapi, penuh tawa. Tapi hatinya kosong. THR habis. Bahkan gaji bulan depan sudah ikut terkuras.
ADVERTISEMENT
Inilah wajah lebaran masa sekarang, Dari perayaan spiritual, Idulfitri bergeser menjadi beban sosial. Bukan lagi tentang peluk dan maaf, tapi tentang tampil pantas di mata orang lain. Rumah harus estetik, hampers harus berkelas, outfit harus kekinian, semua demi konten dan citra.

THR: Berkah yang Jadi Bumerang
Setiap tahun, Lebaran memutar uang hingga ratusan triliun. Tapi banyak yang akhirnya terjebak dalam pola konsumsi impulsif. Tunjangan Hari Raya (THR) yang seharusnya jadi rezeki tambahan justru cepat lenyap karena tak ada perencanaan. Belanja bukan karena butuh, tapi karena "tak enak" jika terlihat beda.
Akibatnya, minggu kedua Syawal sering kali jadi fase panik. Kebutuhan tetap berjalan, sementara dompet sudah kosong. Tahun ajaran baru anak pun datang tanpa kompromi.
ADVERTISEMENT
Mudik yang Tak Lagi Ramai
Tahun 2025, jumlah pemudik berdasarkan survey data Kemenhub turun hingga 24 persen dari tahun sebelumnya. Ini bukan sekadar angka. Ini sinyal ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Banyak yang memilih tidak pulang bukan karena kehilangan rindu, tapi karena tak sanggup menanggung ongkos sosial: gengsi, ekspektasi, dan tekanan untuk "nampak sukses" di kampung halaman.
Yang pulang pun belum tentu benar-benar hadir. Di ruang tamu, banyak yang sibuk dengan gawainya. Percakapan keluarga digantikan notifikasi grup. Silaturahmi tergeser selfie. Kita mungkin berkumpul, tapi tidak betul-betul terhubung.
Idulfitri dan Krisis Makna
Idulfitri hari ini sedang mengalami krisis makna. Dari momen sakral menjadi festival visual. Dari ruang maaf menjadi ajang eksistensi. Algoritma media sosial diam-diam membentuk ekspektasi baru soal cara merayakan Lebaran.
ADVERTISEMENT
Padahal, sejatinya Lebaran adalah tentang kembali. Kembali ke rumah, ke hati, ke nilai-nilai. Ia bukan soal baju paling bagus, tapi soal siapa yang paling lapang memaafkan. Bukan soal konten paling viral, tapi soal makna paling dalam.
Saatnya Redefinisi
Modernitas bukan musuh. Tapi kita perlu menyeimbangkan tampilan dengan esensi. Kembali ke makna, tanpa mengorbankan kebijaksanaan. Mulailah dengan hal kecil: buat anggaran Lebaran, bedakan kebutuhan dan keinginan, sisihkan THR untuk hal yang lebih produktif. Dan yang paling penting, hadir utuh saat bersama keluarga tanpa layar, tanpa distraksi.
Idulfitri adalah tentang kemenangan batin. Tentang hati yang kembali bersih, niat yang kembali lurus, dan jiwa yang kembali lapang. Lebaran bukan tentang gengsi atau pencitraan, tapi tentang pulang yang sebenarnya ke dalam diri.
ADVERTISEMENT
Selamat Hari Raya Idulfitri 1446 H. Mohon maaf lahir dan batin.