Konten dari Pengguna

Sekolah Penggerak: Dihapus Sebelum Berbuah?

Erwandy
Dosen, Pembina PGRI Kota Pangkalpinang dan Pengurus KAHMI Provinsi Babel
3 April 2025 10:52 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Erwandy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Di suatu siang tahun 2023, saya duduk bersila di ruang guru sebuah sekolah dasar di pinggiran Kota Pangkalpinang. Di hadapan saya, seorang kepala sekolah berbaju batik sederhana berbicara dengan penuh semangat. Tangannya bergerak-gerak saat ia menceritakan bagaimana sekolahnya, yang selama ini nyaris tak pernah diperhatikan, akhirnya lolos sebagai Sekolah Penggerak.
ADVERTISEMENT
“Pak, kami sampai nangis waktu dapat kabarnya. Rasanya seperti sekolah kami akhirnya dianggap penting.”
Itu bukan sekadar cerita. Itu adalah harapan yang tumbuh. Sebuah pengakuan bahwa mereka yang selama ini berjibaku dalam keterbatasan akhirnya dilihat. Didengar. Diberi peluang untuk maju.
Lalu, Medio Maret 2025 datang membawa kabar yang mengejutkan. Melalui Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 14/M/2025 tanggal 18 Maret 2025, Program Sekolah Penggerak resmi dicabut. Tak hanya itu, program Guru Penggerak pun pelan-pelan seperti kehilangan tempatnya. Rasanya seperti menonton sebuah film inspiratif yang tiba-tiba dihentikan di tengah cerita.
Sebagian mungkin melihat ini sebagai sekadar perubahan kebijakan. Tapi bagi saya dan ribuan guru, kepala sekolah, serta pegiat pendidikan lainnya ini adalah kehilangan yang tidak sederhana.
Dokumen Pribadi : Lokakarya Guru Penggerak bersama Balai Guru Penggerak
Bukan Sekadar Program
ADVERTISEMENT
Sekolah Penggerak bukan cuma program teknokratis yang penuh istilah dan SOP. policy ini adalah semangat. Ia adalah dorongan untuk berubah. Di banyak tempat, saya melihat sendiri bagaimana guru-guru yang tadinya merasa sendirian, mulai percaya diri. Mereka jadi rajin ikut pelatihan, menginisiasi proyek belajar, berdiskusi, bahkan membuat podcast pendidikan.
Guru Penggerak, yang dilatih untuk menjadi pemimpin pembelajaran, bukan hanya menjalankan kurikulum. Mereka membawa nilai: refleksi, kolaborasi, inovasi. Ketika mereka bicara di forum-forum lokal, ada semangat yang berbeda—semangat bahwa guru bisa jadi motor perubahan.
Lalu semua itu dihentikan. Dihapus.
Dalam surat keputusan itu disebutkan bahwa program ini tidak lagi sesuai dengan “perkembangan hukum dan upaya peningkatan layanan Pendidikan”. Kalimat itu sah dan legal. Tapi di baliknya, ada ribuan wajah yang kembali bertanya, “Lalu kami ini sebenarnya sedang membangun apa?”
ADVERTISEMENT
Ke Mana Arah Kita?
Kabarnya, akan ada penyesuaian ke dalam “program prioritas” Kementerian yang baru. Namun sampai kini, belum ada penjelasan gamblang tentang bentuk program penggantinya. Yang jelas, pencabutan ini menimbulkan kekosongan arah. Sekolah yang sudah bertransformasi harus kembali menyesuaikan diri tanpa kepastian dukungan seperti sebelumnya.
Pertanyaan berikutnya: bagaimana dengan BOS Kinerja?
Selama ini, Sekolah Penggerak menjadi prioritas dalam penerimaan Bantuan Operasional Sekolah Kinerja. Dana ini penting. Ia mendukung infrastruktur, pelatihan guru, hingga pengembangan media pembelajaran. Tanpa status “penggerak”, akankah dana ini tetap diberikan? Jika tidak, maka sekolah-sekolah yang sudah melaju bisa jadi akan kembali tertatih.
Transformasi Tak Bisa Dibangun dalam Semalam
Saya tak sedang mengagungkan satu program. Kita tahu, pelaksanaan di lapangan tak selalu sempurna. Tapi pendidikan bukan arena gonta-ganti kebijakan seperti memilih menu makan siang. Ini merupakan proses jangka panjang yang butuh konsistensi dan keyakinan.
ADVERTISEMENT
Apa yang terjadi sekarang menimbulkan luka sosial di beberapa kalangan pendidik. Mereka yang sebelumnya dilibatkan, dibina, diminta berkomitmen, kini merasa dicabut dari akar.
“Pak, saya sudah tinggalkan zona nyaman. Saya percaya pada sistem. Tapi sekarang sistem itu pergi begitu saja,” kata seorang Guru Penggerak kepada saya, matanya sendu.
Mari Kita Jaga Api Itu
Saya percaya: Sekolah Penggerak bisa saja dihapus. Program Guru Penggerak bisa saja dihentikan. Tapi jiwa penggeraknya tidak boleh mati.
Kita tidak bisa terus-menerus membangun sesuatu hanya untuk membongkarnya sendiri. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk berkomitmen, untuk membina bukan sekadar meluncurkan, untuk menyempurnakan bukan mengganti-ganti.
Bila pemerintah ingin melanjutkan transformasi pendidikan, mulailah dengan mendengar mereka yang ada di ruang kelas. Tanyakan apa yang mereka rasakan, bukan hanya apa yang tertulis di laporan evaluasi. Kita berharap kebijakan baru yang akan dibuat akan lebih solid kedepannya dan menjadi jembatan dalam transformasi dunia Pendidikan kita.
ADVERTISEMENT
Dan untuk para guru serta kepala sekolah yang kehilangan arah, saya tahu kalian lelah. Tapi tolong, jangan padam. Karena pada akhirnya, bukan nama program yang menentukan kualitas pendidikan. Tapi manusia-manusia gigih seperti kalian, yang terus bergerak meski tanpa panggung.
Karena penggerak sejati, tidak perlu label untuk tetap berjalan.