Magang sebagai Cashier: Ternyata Dunia Kerja Tidak Hanya Soal Bisa

Mahasiswa Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Erwin Junaidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ternyata Dunia Kerja Tidak Hanya Soal Bisa, tetapi Juga Teliti dan Bertanggung Jawab

Bagi sebagian mahasiswa, magang mungkin hanya dianggap sebagai salah satu kewajiban sebelum menyelesaikan perkuliahan. Datang ke tempat kerja, menjalankan tugas, mengisi absensi, lalu membuat laporan. Namun, setelah menjalani magang secara langsung, saya justru menyadari bahwa magang bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban akademik.
Magang adalah kesempatan untuk merasakan bagaimana dunia kerja sebenarnya berjalan.
Selama kurang lebih tiga bulan menjalani magang di PT Champ Resto Indonesia Tbk, Dewata By Monsieur Spoon, saya ditempatkan sebagai Cashier. Dari posisi tersebut, saya belajar bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Seorang Cashier bukan hanya menerima uang dari pelanggan, tetapi juga harus memastikan setiap transaksi dilakukan dengan benar, memberikan pelayanan yang baik, dan mampu berkomunikasi dengan pelanggan maupun rekan kerja.
Ketika Transaksi Tidak Boleh Sekadar “Klik Bayar”
Salah satu tugas utama saya adalah melayani transaksi pembayaran pelanggan. Prosesnya dimulai dari memastikan pesanan yang tercatat di sistem sesuai dengan pesanan pelanggan, kemudian memproses pembayaran sesuai metode yang digunakan.
Setelah pembayaran selesai, transaksi masih perlu diperiksa kembali. Saya harus memastikan jumlah pembayaran, pesanan, dan data transaksi pada sistem sudah sesuai.
Dari sini saya mulai memahami bahwa pekerjaan sebagai Cashier membutuhkan ketelitian. Kesalahan kecil dalam memasukkan atau memeriksa transaksi dapat memengaruhi pencatatan penjualan.
Bagi saya, ini menjadi pelajaran penting. Dalam dunia kerja, pekerjaan tidak selalu selesai ketika kita sudah menekan tombol “selesai”. Masih ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa pekerjaan tersebut benar.
Menawarkan Promo Juga Membutuhkan Komunikasi
Selain melakukan transaksi, saya juga bertugas memberikan informasi mengenai promo yang sedang berlangsung kepada pelanggan.
Awalnya mungkin terlihat mudah. Tinggal memberitahu pelanggan bahwa ada promo tertentu. Namun, ternyata tidak sesederhana itu.
Saya harus mengetahui jenis promo, produk yang mendapatkan promo, serta ketentuan yang berlaku sebelum menyampaikannya kepada pelanggan. Informasi tersebut juga harus disampaikan dengan cara yang sederhana dan jelas agar tidak membuat pelanggan bingung.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kemampuan komunikasi sangat penting dalam dunia kerja. Mengetahui informasi saja belum cukup. Kita juga harus mampu menyampaikan informasi tersebut dengan cara yang dapat dipahami orang lain.
Belajar dari Faktur Es Batu
Pengalaman lain yang cukup menarik selama magang adalah ketika saya mendapatkan tugas tambahan untuk membantu membuat reimbursement atas pembelian es batu.
Pembelian es batu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan operasional outlet. Setelah pembelian dilakukan, terdapat faktur atau bukti pembelian yang digunakan sebagai dokumen pendukung dalam proses reimbursement.
Saya harus memeriksa tanggal pembelian, jenis barang, jumlah barang, dan nominal yang tercantum dalam faktur sebelum data tersebut digunakan untuk proses selanjutnya.
Dari tugas sederhana ini, saya mendapatkan sudut pandang baru bahwa kegiatan operasional sebuah restoran tidak hanya mengenai pelanggan, makanan, dan pembayaran.
Di balik kegiatan tersebut terdapat administrasi dan dokumen yang harus dikelola dengan baik.
Bagi mahasiswa Akuntansi Perpajakan, pengalaman seperti ini cukup penting karena membuat saya dapat melihat secara langsung bahwa sebuah transaksi dalam kegiatan usaha tidak berdiri sendiri. Ada data dan dokumen yang perlu diperiksa dan dicatat dengan benar.
Bagaimana Jika Barang yang Dipesan Tidak Datang?
Selain transaksi dan administrasi, saya juga mendapatkan tugas untuk membantu melakukan pengecekan barang yang diterima outlet.
Barang yang datang dibandingkan dengan barang yang sebelumnya dipesan. Jika ada barang yang tidak datang atau jumlahnya tidak sesuai, informasi tersebut perlu dicatat dan disampaikan kepada pihak yang bertanggung jawab.
Salah satu contohnya adalah ketika terdapat barang yang sudah dipesan tetapi belum dikirim oleh vendor. Kondisi tersebut perlu diberikan catatan pada sistem penginputan barang datang di POS TAB agar dapat dilakukan pengecekan dan tindak lanjut.
Dari kegiatan ini saya kembali belajar mengenai pentingnya ketelitian.
Barang yang tidak datang mungkin terlihat sebagai masalah kecil. Namun, jika tidak dicatat dan tidak ditindaklanjuti, hal tersebut dapat mengganggu kebutuhan operasional outlet.
Dunia Kerja Mengajarkan Bahwa Kita Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Selama magang, saya juga menyadari bahwa pekerjaan di dunia kerja tidak dapat dilakukan sendirian.
Sebagai Cashier, saya harus berkoordinasi dengan Waiter, Captain FOH/BOH, Kitchen Staff, maupun Manager atau PIC ketika terdapat informasi yang perlu dikonfirmasi. Misalnya mengenai transaksi, promo, pesanan pelanggan, maupun barang yang belum datang.
Hal tersebut mengajarkan saya bahwa kemampuan bekerja sama sama pentingnya dengan kemampuan teknis.
Seseorang mungkin memiliki kemampuan yang baik dalam mengerjakan tugasnya, tetapi tanpa komunikasi dan kerja sama yang baik, pekerjaan tetap dapat mengalami hambatan.
Magang Mengubah Cara Saya Melihat Dunia Kerja
Sebelum menjalani magang, saya mungkin melihat pekerjaan Cashier hanya sebatas melayani pembayaran pelanggan.
Setelah menjalaninya secara langsung, pandangan tersebut berubah.
Saya menyadari bahwa pekerjaan Cashier membutuhkan ketelitian, komunikasi, tanggung jawab, kemampuan mengatur waktu, dan kerja sama tim. Bahkan tugas tambahan seperti memeriksa faktur dan mengecek barang membuat saya memahami bahwa setiap bagian dalam sebuah perusahaan memiliki hubungan satu sama lain.
Pengalaman tersebut juga membuat saya semakin memahami hubungan antara pembelajaran di perkuliahan dengan kegiatan bisnis secara nyata. Dalam laporan magang saya, kegiatan transaksi, pengecekan dokumen, dan pencatatan barang menjadi pengalaman yang membantu saya melihat bagaimana aktivitas bisnis berlangsung secara langsung.
Bukan Hanya Tentang Pengalaman, tetapi Tentang Kesiapan
Menurut saya, salah satu manfaat terbesar dari kegiatan magang adalah kesempatan untuk mengetahui kemampuan diri sendiri.
Dunia perkuliahan memberikan pengetahuan, tetapi dunia kerja memberikan pengalaman untuk menerapkan pengetahuan tersebut.
Selama magang, saya belajar untuk lebih teliti sebelum menyelesaikan pekerjaan, berani berkomunikasi dengan pelanggan dan rekan kerja, bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, serta melakukan koordinasi ketika menghadapi masalah.
Saya juga belajar bahwa melakukan kesalahan bukan berarti kita tidak mampu. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menyadari kesalahan tersebut, mencari penyebabnya, dan belajar agar tidak mengulanginya.
Pada akhirnya, magang bagi saya bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi kewajiban perkuliahan.
Magang menjadi proses untuk belajar menjadi lebih siap menghadapi dunia kerja.
Dari balik meja Cashier di Dewata By Monsieur Spoon, saya belajar satu hal sederhana tetapi penting: dunia kerja bukan hanya membutuhkan orang yang bisa bekerja, tetapi juga orang yang mau belajar, teliti, bertanggung jawab, mampu berkomunikasi, dan dapat bekerja sama dengan orang lain.
Dan mungkin, justru pengalaman-pengalaman kecil seperti memeriksa transaksi, menjelaskan promo, mengecek faktur, atau mencatat barang yang belum datang itulah yang perlahan membentuk kita menjadi seseorang yang lebih siap menghadapi dunia kerja sebenarnya.
