kumparan
3 September 2019 16:06

Rasisme Tak Boleh Mendapat Tempat di Indonesia

Ilustrasi kebersamaan. Foto: Dok: Bintan Insani/kumparan
Pada 17 Agustus 2019, kita baru saja merayakan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selayaknya tahun-tahun sebelumnya, warna merah-putih dan pelbagai acara perlombaan pun meramaikan lini masa dunia maya dan dunia nyata kita.
ADVERTISEMENT
Macam-macam cara masyarakat menyemarakkan ultah NKRI harga mati ini. Ada yang dengan ikut lomba panjat pinang (yang katanya bawaan penjajah itu), upacara bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh haru, dan ada pula yang dengan mengirimkan pesan lewat WhatsApp kepada gebetan—yang isinya: MERDEKA dengan emotikon bendera dan love-love—walaupun cuma di-read.
Sayangnya, ada saja pihak yang mencoreng kesakralan Hari Kemerdekaan. Pihak itu adalah para individu rasisme yang seenaknya menyebut mahasiswa Papua sebagai “monyet”. Gaya mereka mirip kelakuan penjajah yang mengejek tokoh Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer dengan “minke” (plesetan dari “monkey”).
Kabar buruknya, ujaran rasisme itu mereka ucapkan kepada saudara sebangsa dan setanah air. Mereka yang seharusnya mencintai, membela, dan menghargai, justru malah mencaci-maki saudara sendiri seolah-olah orang Papua adalah musuh.
ADVERTISEMENT
Kenyataan ini membuat saya sedih. Lha bagaimana tidak, bisa-bisanya orang berkulit sawo matang kok berlaku rasisme. Bukan berarti saya membenarkan rasisme yang dilakukan oleh kulit putih, bukan. Saya hanya sangat heran saja gitu. Padahal di luar sana kita—umumnya warga Indonesia yang berkulit cokelat—ini juga kerap menjadi sasaran rasisme. Trinity dalam buku perjalanannya yang terkenal The Naked Traveler cerita ia pernah mendapat perlakuan rasisme ketika lewat ke salah satu negara Barat.
Dalam film Green Book, ada hal yang bakal membuat kita lebih tercengang. Terdapat satu adegan ketika mobil yang dikendarai Tony “Lip” Vallelonga (diperankan oleh Viggo Mortensen) untuk melakukan perjalanan bersama Dr. Don Shirley (Mahershala Ali) disetop oleh dua orang polisi yang sedang berjaga. Tony keluar dan terlibat percakapan dengan seorang polisi tentang nama Vallelonga.
ADVERTISEMENT
“Nama apa itu?” tanya si Polisi. Tony bilang itu adalah nama Italia. Si Polisi yang seorang kulit putih mengangguk dan menimpali, “Oh, aku mengerti. Karena itulah kau menyopirinya (Dr. Don Shirley yang berkulit hitam). Kau sendiri setengah negro.”
Lihatlah, Tony Vallelonga yang seorang keturunan Italia dan kulitnya lebih putih daripada kebanyakan warga Indonesia pun bisa jadi objek rasisme.
Tindakan rasisme sudah sepatutnya dibuang jauh-jauh. Entah kepada orang yang kulitnya lebih hitam dari kita atau lebih putih dari kita. Rasisme sama sekali tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya.
Mau karena alasan sok nasionalis? Oh, jadi kayak Hitler dan konco-konconya dong, yang fasis dan menganggap ras mereka lebih mulia dibanding ras lain di dunia. Mau karena alasan agama? Aih, sejak kapan agama mengajarkan rasisme? Mau karena alasan kesukuan? Oh my God, ini tahun 2019, jaringan sudah 5G, dan kita masih mempertahankan budaya primitif? Enggak sekalian aja bikin api dengan cara menggosok-gosokkan batu, nih?
ADVERTISEMENT
Suasana kemerdekaan semestinya diisi dengan hal-hal positif saja. Misalnya, dengan memenangi kejuaraan dunia bulu tangkis sebagaimana yang dilakukan Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan. Tanggal 25 Agustus lalu, mereka berhasil menjadi juara Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis untuk yang ketiga kalinya. Ahsan yang asli Palembang dan Hendra yang keturunan Tionghoa bersatu untuk mengibarkan bendera Merah Putih dan membanggakan Indonesia di mata dunia. Bukankah itu indah?
Nun jauh di Basel, ibu kota Swiss sana, Ahsan-Hendra bikin warga Indonesia bangga. Lalu, kenapa sebagian kita justru malah merusak nama bangsa sendiri dengan bersikap rasisme kepada saudara sebangsa?
Padahal ada banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan bersama-sama. Kita bisa mengajak teman-teman kita yang bersuku Jawa, Sunda, Batak, Papua, Bugis, dan lainnya untuk makan bareng di suatu restoran tepi jalan. Kita bisa pula bikin kegiatan sosial dengan anggota yang terdiri dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Dan masih banyak lagi pilihan kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan tanpa peduli suku mau pun warna kulit.
ADVERTISEMENT
Rasisme tidak boleh dapat tempat. Ia mesti dilempar jauh-jauh ke tong sampah bersama batang cotton bud, telur busuk, dan gerombolan benda kotor lainnya. Sebagaimana pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatakan bahwa penjajahan harus dihapuskan, demikian pula rasisme. Lebih-lebih rasisme kepada orang yang kewarganegaraannya sama dengan kita.
Ketimbang larut dalam konflik dan kebencian, lebih baik kita merenungi dan amalkan baik-baik perkataan Ben Okri—seorang sastrawan Nigeria—ini.

Mari berjalan sambil berpegangan tangan seerat mungkin agar dunia tercengang, bahwa di tengah kehancuran masih ada keindahan dan kejujuran, bahwa dua jiwa masih ambil bagian dalam khayalan tentang kehidupan.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan