Konten dari Pengguna

AI dalam Pendidikan : Membantu Proses Belajar atau Membuat Semakin Bergantung?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ery Mutiara Nurcesha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pribadi

AI dalam Pendidikan Semakin Dekat dengan Kehidupan Siswa.

AI dalam pendidikan menjadi salah satu perkembangan teknologi yang semakin banyak dibicarakan. Kehadiran kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membuat proses memperoleh informasi dan belajar menjadi lebih mudah. Siswa dapat menggunakan teknologi berbasis AI untuk mencari penjelasan tentang materi yang belum dipahami, mendapatkan contoh soal, mengembangkan ide tulisan, hingga memperoleh bantuan dalam menyelesaikan berbagai tugas pembelajaran.

Perkembangan tersebut memberikan peluang baru bagi dunia pendidikan. AI dapat membantu guru menyiapkan bahan pembelajaran dan memberikan alternatif aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Bagi siswa, AI dapat menjadi sumber belajar tambahan ketika penjelasan di kelas belum cukup dipahami.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan pertanyaan penting. Apakah AI benar-benar membantu siswa belajar atau justru membuat siswa semakin bergantung pada teknologi?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena penggunaan AI dalam pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi. Siswa juga perlu memiliki kemampuan untuk menilai informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya.

UNESCO menekankan bahwa pemanfaatan AI generatif dalam pendidikan perlu dilakukan dengan pendekatan yang berpusat pada manusia. Penggunaan AI perlu memperhatikan aspek etika, keamanan, perlindungan data, kesiapan pendidik, serta kesesuaian dengan kebutuhan peserta didik. UNESCO

Manfaat AI dalam Pendidikan bagi Proses Belajar

Jika digunakan dengan tepat, AI dalam pendidikan dapat memberikan sejumlah manfaat bagi siswa. Salah satu manfaat yang paling terlihat adalah membantu siswa memperoleh penjelasan tambahan mengenai materi pembelajaran.

Setiap siswa memiliki kemampuan memahami materi yang berbeda. Ada siswa yang dapat langsung memahami penjelasan guru, tetapi ada pula yang membutuhkan contoh tambahan atau penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana. Dalam kondisi tersebut, AI dapat digunakan sebagai sumber belajar pendamping.

Misalnya, siswa mengalami kesulitan memahami konsep pecahan dalam matematika. Siswa dapat meminta AI menjelaskan konsep tersebut menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setelah memperoleh penjelasan, siswa tetap perlu mempelajari kembali materi dari buku atau penjelasan guru.

AI juga dapat membantu siswa menemukan ide. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, siswa dapat menggunakan AI untuk mencari beberapa gagasan mengenai topik yang ingin ditulis. Setelah itu, siswa dapat memilih ide yang sesuai, mengembangkannya, dan menyusun tulisan berdasarkan pemikirannya sendiri.

Dengan cara tersebut, AI tidak mengambil alih proses belajar. Teknologi hanya memberikan bantuan awal agar siswa dapat melanjutkan proses berpikirnya.

Selain bagi siswa, penggunaan AI dalam pembelajaran juga dapat membantu guru. Guru dapat memanfaatkan AI untuk memperoleh inspirasi dalam membuat aktivitas pembelajaran, menyusun pertanyaan pemantik, mencari variasi latihan, atau menyesuaikan contoh pembelajaran dengan karakteristik siswa.

Artinya, AI memiliki potensi untuk mendukung pembelajaran selama penggunaannya tetap berada dalam kendali manusia. UNESCO juga melihat adanya peluang penggunaan AI untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal, tetapi tetap menekankan pentingnya perlindungan terhadap peserta didik dan pendekatan yang berpusat pada manusia. UNESCO

Ketika AI Berubah Menjadi Jalan Pintas

Masalah muncul ketika AI tidak lagi digunakan sebagai alat bantu, tetapi menjadi pengganti usaha belajar siswa.

Bayangkan seorang siswa mendapatkan tugas yang membutuhkan penalaran. Seharusnya siswa membaca materi, memahami pertanyaan, mencari informasi, kemudian menyusun jawaban dengan pemikirannya sendiri. Namun, siswa justru langsung memasukkan pertanyaan tersebut ke aplikasi AI dan menyalin jawabannya.

Dari luar, tugas tersebut memang terlihat selesai. Akan tetapi, proses belajar belum tentu terjadi.

Kondisi seperti ini dapat membuat siswa terbiasa mencari jawaban instan. Jika dilakukan terus-menerus, siswa dapat kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan memecahkan masalah secara mandiri.

Padahal, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan juga bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah, dan kemandirian.

Karena itu, persoalan utama bukan apakah siswa boleh menggunakan AI atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana siswa menggunakan AI dalam proses belajar.

AI seharusnya digunakan untuk membantu siswa memahami sesuatu yang belum diketahui, bukan menghilangkan kesempatan siswa untuk berpikir.

Dampak Ketergantungan AI terhadap Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan yang penting di tengah perkembangan teknologi. Siswa perlu mampu mempertanyakan informasi, membandingkan berbagai sumber, menemukan alasan, dan membuat kesimpulan berdasarkan bukti.

Penggunaan AI secara berlebihan dapat menjadi tantangan bagi kemampuan tersebut. Ketika siswa terbiasa menerima jawaban yang sudah jadi, mereka mungkin tidak lagi terbiasa menjalani proses mencari dan mengevaluasi informasi.

Misalnya, dalam pembelajaran IPA siswa mendapatkan pertanyaan mengenai penyebab pencemaran lingkungan. Siswa sebenarnya dapat mengamati lingkungan sekitar, membaca buku, mencari informasi dari sumber terpercaya, kemudian membandingkan berbagai penyebab pencemaran.

Namun, apabila siswa hanya meminta AI memberikan jawaban kemudian menyalinnya, kesempatan untuk melakukan pengamatan dan analisis menjadi berkurang.

Selain itu, siswa perlu memahami bahwa jawaban AI tidak selalu benar. AI dapat menghasilkan informasi yang tidak tepat, kurang lengkap, atau tidak sesuai dengan konteks pertanyaan. Oleh sebab itu, siswa tidak boleh menerima jawaban AI begitu saja.

Siswa perlu membiasakan diri bertanya:

Apakah informasi tersebut benar?

Dari mana informasi tersebut berasal?

Apakah ada sumber lain yang memberikan informasi berbeda?

Apakah jawaban tersebut sesuai dengan materi yang sedang dipelajari?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru dapat menjadikan AI sebagai sarana untuk melatih berpikir kritis.

AI Bukan Pengganti Kreativitas Siswa

Selain berpikir kritis, kreativitas juga menjadi bagian penting dalam pendidikan. AI mampu menghasilkan banyak ide dalam waktu singkat. Namun, banyaknya ide yang dihasilkan teknologi tidak berarti AI dapat menggantikan kreativitas manusia.

Kreativitas siswa berkembang melalui pengalaman, pengamatan, imajinasi, pengetahuan, dan kemampuan menghubungkan berbagai hal menjadi gagasan baru.

Karena itu, penggunaan AI sebaiknya diarahkan untuk memancing kreativitas, bukan menggantikannya.

Sebagai contoh, guru dapat meminta siswa menggunakan AI untuk memperoleh tiga ide mengenai cerita bertema lingkungan. Setelah itu, siswa harus memilih salah satu ide dan mengembangkan cerita tersebut menggunakan pengalaman dan imajinasinya sendiri.

Dengan model tersebut, AI berfungsi sebagai pemantik. Siswa tetap menjadi pihak yang menentukan ide, membuat keputusan, dan menghasilkan karya.

Cara ini juga dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran. Dalam matematika, AI dapat digunakan untuk memberikan contoh permasalahan. Dalam IPA, AI dapat membantu memberikan pertanyaan awal untuk penelitian sederhana. Dalam Bahasa Indonesia, AI dapat digunakan untuk memberikan inspirasi topik tulisan.

Yang terpenting, hasil akhirnya tetap membutuhkan pemikiran siswa.

Peran Guru dalam Penggunaan AI dalam Pembelajaran

Kemunculan AI tidak berarti peran guru menjadi semakin kecil. Justru, peran guru dalam penggunaan AI dalam pembelajaran menjadi semakin penting.

Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membimbing siswa agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Guru dapat mengajarkan bahwa AI merupakan alat bantu, bukan mesin pemberi jawaban yang harus selalu dipercaya. Siswa perlu mengetahui manfaat dan keterbatasan AI sejak awal.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengubah bentuk tugas. Tugas yang hanya meminta jawaban akhir akan lebih mudah dikerjakan menggunakan AI. Sebaliknya, guru dapat memberikan tugas yang meminta siswa menjelaskan proses berpikirnya.

Misalnya, guru memberikan tugas:

“Gunakan AI untuk mencari informasi mengenai perubahan lingkungan. Setelah itu, bandingkan informasi tersebut dengan buku pelajaran. Tuliskan informasi yang menurutmu benar, informasi yang perlu diperiksa kembali, dan alasanmu.”

Tugas tersebut membuat siswa tidak hanya mencari jawaban. Mereka harus membaca, membandingkan, menganalisis, dan menyimpulkan.

Guru juga dapat meminta siswa mencantumkan bagaimana mereka menggunakan AI. Dengan demikian, penggunaan teknologi menjadi lebih transparan dan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.

UNESCO sendiri menekankan perlunya pengembangan kapasitas guru serta kebijakan yang memastikan penggunaan AI berlangsung secara aman dan berpusat pada manusia. UNESCO

AI dalam Pendidikan di Indonesia

Penggunaan AI dalam pendidikan di Indonesia juga semakin mendapatkan perhatian. Pemerintah telah mengambil langkah untuk memberikan arah terhadap penggunaan teknologi tersebut di lingkungan pendidikan.

Pada September 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan pedoman implementasi koding dan kecerdasan artifisial pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kemendikdasmen

Kemudian, pada Maret 2026, pemerintah menerbitkan pedoman nasional mengenai pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta kecerdasan artifisial pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pedoman tersebut menekankan agar pemanfaatan teknologi dilakukan secara etis, aman, bijak, dan bertanggung jawab serta selaras dengan perlindungan anak dan tujuan pendidikan nasional. Kemendikdasmen

Hal tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar tren teknologi. Kecerdasan artifisial sudah menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan pendidikan.

Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan siswa. Terutama pada jenjang sekolah dasar, penggunaan teknologi perlu mendapatkan pendampingan dari guru dan orang tua.

Siswa SD masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan berpikir dan sosial. Oleh karena itu, pengalaman belajar secara langsung, interaksi dengan guru dan teman, kegiatan praktik, serta aktivitas di lingkungan sekitar tetap tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Bagaimana Agar Siswa Tidak Bergantung pada AI?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar AI dalam pendidikan memberikan manfaat tanpa membuat siswa kehilangan kemandirian.

Pertama, siswa perlu mencoba menyelesaikan masalah sendiri sebelum meminta bantuan AI. Dengan demikian, AI digunakan sebagai bantuan ketika siswa benar-benar mengalami kesulitan.

Kedua, siswa perlu memeriksa kembali informasi yang diperoleh dari AI. Jawaban AI sebaiknya dibandingkan dengan buku, sumber pembelajaran, atau sumber terpercaya lainnya.

Ketiga, guru perlu menilai proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Penilaian dapat meminta siswa menjelaskan alasan, langkah penyelesaian, pengalaman, atau refleksi terhadap tugas yang dikerjakan.

Keempat, siswa perlu memahami etika akademik. Menggunakan AI untuk mendapatkan ide atau penjelasan berbeda dengan menyerahkan seluruh tugas kepada AI. Siswa tetap bertanggung jawab terhadap karya yang dikumpulkan.

Kelima, sekolah perlu memberikan literasi AI kepada siswa dan guru. Literasi AI bukan sekadar kemampuan mengoperasikan aplikasi, tetapi juga kemampuan memahami manfaat, risiko, etika, keterbatasan, dan dampak penggunaan AI.

UNESCO juga mendorong pendekatan yang sesuai usia serta memperhatikan perlindungan data dan validasi etis maupun pedagogis sebelum teknologi AI digunakan dalam pendidikan.