Kelompok 25 MMD UB Hadirkan “Kelas Ceria Anak Desa” di Desa Jambesari

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Erza Feodora Endah Prihatiningtyas Mada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Jambesari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang – Dalam rangka program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) tahun 2025, Mahasiswa Universitas Brawijaya dari Kelompok 25, Erza Feodora Endah Prihatiningtyas Mada dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan 23, melaksanakan program individu bertajuk “Kelas Ceria Anak Desa: Berani, Baik, dan Berdaya”, dengan pendampingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Firman Jaya, S.Pt., M.P.
Program ini dilaksanakan di SD Negeri 01 Desa Jambesari dan ditujukan untuk siswa kelas 5 dan bertujuan menanamkan nilai keberanian, kebaikan, dan kesadaran diri melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan–menggabungkan cerita, diskusi, permainan, dan prakarya.
Ice Breaking: Tawa yang Membangun Rasa Aman
Kegiatan dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan sapaan hangat dan sesi perkenalan. Anak-anak diajak bermain game ringan bertajuk “Tebak Emosi”, dimana mereka belajar mengenali dan mengekspresikan emosi dasar melalui mimik wajah dan gestur tubuh.
Tujuan dari ice breaking ini adalah untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa senang, marah, takut–itu semua tidak apa-apa. Yang penting, mereka tahu perasaan mereka dan berani mengungkapkannya. Kegiatan ini berhasil mencairkan suasana dan menciptakan ruang aman emosional, terutama bagi anak-anak yang pemalu atau cenderung pendiam.
Cerita yang Menginspirasi: Si Nora yang Berani
Sesi dilanjutkan dengan storytelling visual berjudul “Si Nora yang Berani”, adaptasi dari video “Gadis Penyulut Lentera”. Dalam kisah ini, Nora digambarkan sebagai seorang anak perempuan yang berani membuat penerangan berupa lentera di jalan desanya karena listrik belum sepenuhnya masuk.
“Kenapa kalian pikir Nora berani?” tanya Erza setelah bercerita. Seorang siswa menjawab, “Karena dia berani nyalakan lentera di jalan desa.” Cerita ini menjadi jembatan untuk berbicara tentang keberanian sosial: menyampaikan pendapat, jujur, dan tetap bersikap baik meski berbeda.
Diskusi Ringan: Apa itu Sikap Baik dan Berani?
Setelah cerita, anak-anak diajak berdiskusi ringan. Erza mengajukan pertanyaan sederhana namun penting:
“Apa itu sikap baik?”
“Apa arti berani menurut kalian?”
“Kalian pernah berbuat baik? Kapan?”
Anak-anak mulai berani mengangkat tangan dan menjawab dengan penuh percaya diri. Beberapa di antaranya bahkan berbagi pengalaman pribadi.
“Aku dan Ghea terus sama yang lain juga pernah patungan uang untuk membantu pemulung di jalan,” ucap Bilqis, salah satu siswi.
“Aku pernah pinjamkan pensil ke teman,” ucap seorang siswa.
Sesi ini membuktikan bahwa pembelajaran karakter tidak harus formal. Dengan pendekatan ramah dan dialogis, nilai-nilai hidup bisa dipahami secara mendalam.
Surat Harapan Anak Desa: Ketika Mimpi Ditulis dan Ditempel
Bagian paling menyentuh dari kegiatan ini adalah saat anak-anak diminta menulis "Surat Harapan Anak Desa". Dalam selembar kertas kecil, mereka menulis harapan untuk diri sendiri:
“Aku janji akan membanggakan orang tuaku.”
“Aku ingin jadi anak yang berani.”
“Aku ingin membantu orang tuaku biar bisa menjadi keluarga harmonis.”
Kertas-kertas harapan itu kemudian ditempel di “Papan Harapan Anak Desa”, papan sederhana dari styrofoam dan hiasan kertas warna-warni. Meskipun sederhana secara fisik, papan ini menyimpan mimpi-mimpi tulus dari anak-anak yang mungkin belum pernah diminta menuliskan keinginan mereka sebelumnya.
Sudut Pandang Para Siswa dan Wali Kelas
Setelah kegiatan, Erza mewawancarai dua siswa dan wali kelas sebagai bagian dari refleksi.
Ghea, salah satu siswa, menjawab, “Tadi seru banget. Kita main tebak-tebakan raut muka, terus belajar tentang sikap baik dan berani”. Nashi, siswa lainnya, menambahkan, “Tadi juga sambil tempel-tempel kertas juga seru. Terus kakaknya bagi-bagi bingkisan juga.
Bapak Trisno Wibowo selaku wali kelas 5 menuturkan, “Kegiatan ini sudah cocok untuk di kelas 5 karena sikap berani khususnya. Misal untuk presentasi dulunya ada yang masih malu-malu atau tidak mau berbicara jika tidak diperintah, jadi mau untuk lebih berani lagi mengekspresikan dirinya.”
Penutup: Cahaya dari Desa
Sebelum menutup kegiatan, Erza membagikan bingkisan snack kepada peserta. Masing-masing berisi pesan kecil seperti:
“Terima kasih sudah mau lebih berani!”
“Harapanmu hari ini, bisa jadi kenyataan suatu hari nanti. Simpan baik-baik ya!”
“Jangan malu jadi diri sendiri. Kamu cukup dan berharga apa adanya.”
Program ini mungkin berlangsung singkat, namun dampaknya terasa dalam. Anak-anak belajar bahwa keberanian bukan hanya soal naik panggung, tetapi juga soal berkata jujur, membantu teman, dan menuliskan impian.
Di tengah segala keterbatasan desa, satu kegiatan kecil ini menjadi titik awal bahwa perubahan besar bisa dimulai dari ruang kelas sederhana. Dari satu anak ke anak lain. Dari satu lentera ke lentera lainnya.
#MMDUB2025
#SDGs4
