Al-Quran sebagai Paradigma Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Mahasiswa Fakultas Pertanian Program Studi Agroekoteknologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari Erza Aulia Adara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Assalamualaikum. Wr.Wb., teman-teman! Di sini aku mau bahas tentang Al-Quran menjadi paradigma bagi ilmu pengetahuan. Dan dari yang kita ketahui, Al-Quran digunakan sebagai poin utama dalam mengatur aspek kehidupan. Al-Quran sebagai paradigma sudah menjadi landasan dasar dari tradisi keilmuan dalam islam. Paradigma dalam Al-Quran digunakan sebagai penghubung antara wahyu, akal dan ilmu pengetahuan. Kira-kira apasih yang dimaksud Al-Quran sebagai paradigma ilmu pengetahuan? Yuk, simak penjelasan di bawah!
1. Definisi Al-Quran
Iqra’ atau yang berarti membaca, adalah kata pertama kali dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran sendiri menurut bahasa diambil dari kata وقرانا- قراة- يقرا - ا ق yang artinya sesuatu yang dibaca. Dari kata itu bermakna menganjurkan kita umat islam untuk membaca Al quran, dan wajib hukumnya bagi setiap orang mukmin yang sudah balig dan berakal, karena Al-Quran adalah penunjuk atau imam bagi umat muslim. Di mana kata yang dimaksud itu adalah Al-Quran menjadi sumber kehidupan utama bagi umat islam dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Ditulis dalam Al-Quran bahwa, “Selamatkanlah manusia yang berpegang teguh kepada hukum Allah yang telah tertulis dalam Al-Quran dan sebaliknya mereka yang ingkar akan tersesat di jalan-Nya.”
Menurut M.Quraish Shihab, Al-Quran secara harfiyah berarti bacaan yang sempurna. Dia merupakan suatu nama pilihan Allah yang tepat, karena tiada suatu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Quran, bacaan sempurna lagi mulia.
Dan Al-Quran juga mempunyai arti menumpulkan dan menghimpun qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapi.
Sedangkan Al-Quran menurut istilah adalah firman Allah SWT. Yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW,yang diterima oleh umat islam dari generasi ke generasi tanpa adanya perubahan.
Dari beberapa penjelasan di atas, maka ada beberapa faktor penting yang menjadi karakteristik suatu Al-Quran, yaitu :
a. Al-Quran adalah firman atau petunjuk penting bagi umat islam.
b. Al-Quran hanya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW saja.
c. Al-Quran adalah suatu mukjizat, tidak seorangpun yang mampu menandingi Al-Quran.
d. Diriwayatkan secara mutawatir, yang artinya Al-Quran dapa diterima oleh banyak orang
e. Membaca Al-Quran dicatat sebagai amal ibadah.
2. Sifat-sifat Al-Quran
Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh Al-Quran sebagaimana firman Allah SWT, antara lain :
a. Sifat al-Burhan (bukti kebenaran) dan nur mubin (cahaya yang terang)
b. Sifat asy-syifa (obat) dan ar-rahmah (kasih sayang)
c. Sifat huda (petunjuk)
d. Sifat mau’izah (nasihat)
3. Al-Quran sebagai paradigma
Kata paradigma memilki beberapa pengertian: pertama, bagaimana cara memandang sesuatu. Kedua, dalam ilmu pengetahuan seperti bagaimana pola pandangnya. Ketiga, premis-premis teoretis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah konkret. Keempat, sebagai dasar untuk menyeleksi masalah dan pola-pola dalam memecahkannya. Nah, paradigma yang dimaksud dalam penjelasan kali ini ada pada poin kedua, yaitu Al-Quran sebagai paradigma ilmu pengetahuan.
Zaim Elmubarok menyimpulkan bahwa paradigma adalah cara masing-masing orang memandang dunia yang belum tentu dapat cocok dengan kenyataan. Paradigma dapat dikatakan sebagai peta, bukan wilayahnya. Paradigma juga dapat dikatakan sebagai lensa kita, lewat mana kita melihat segalanya, yang terbentuk dari kita dibesarkan, pengalamannya, serta pilihan-pilihan yang ada.
4. Al-Quran sebagai paradigma ilmu pengetahuan
Al-Quran sebagai paradigma keilmuan merupakan dasar dan pijakan dalam tradisi keilmuan. Menuntut ilmu pengetahuan dalam islam sebenarnya bertujuan untuk mencapai dua kebaikan yaitu kebaikan dunia dan akhirat. Al-Quran telah memeritahukan dan menuntun kita untuk belajar semua kebaikan yang Allah SWT beri di dunia ini. Dan di Al-Quran juga Allah SWT memberitahukan bahwa beliau menciptakan kehidupan di bumi demi kepentingan umatnya. Sebagaimana juga al-Qur'an mengajak kita untuk merenungi kerajaan langit dan bumi dan apa saja yang Allah ciptakan, juga mendorong kita untuk mengkaji kekuatan jiwa untuk mengambil manfaat dalam membersihkan jiwa dan mendorongnya untuk berusaha keras agar terjadi hubungan yang kontinu dengan penciptaan bumi dan langit (Baiquni, 1995 : 278).
Sering sekali Al-Quran menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang-orang yang berpengetahuan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadalah: 11).
Pandangan Al-Quran tentang ilmu dapat kita ketahui melalui prinsip-prinsipnya pada analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad dalam surat Al-‘Alaq : 1-5.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam [1589], 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Pada wahyu pertama memang belum dijelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya untuk membaca apa saja selama bacaan itu terdapat bismi Rabbik, yang artinya bermanfaat untuk kemanusiaan. Dalam wahyu pertama ini mengisyaratkan perintah untuk mengkaji ilmu, yang meliputi tiga aspek, yaitu mengenai objek yang yang menjadi kajian ilmu, bagaimana cara memperoleh ilmu dan bagimana pemanfaatan dan pengembangan ilu menurut pandangan Al-Quran.
Kuntowijoyo (1991 : 327) menjelaskan bahwa, “Paradigma Al-Quran berarti suatu konstruksi pengetahuan”. Kuntowijoyo (1991: 330-331) juga mengungkapkan bahwa fungsi paradigma Al-Quran pada dasarnya adalah untuk membangun perspektif Al-Quran dalam rangka memahami realitas.”
5. Para Ilmuwan Muslim dan Al-Quran sebagai Paradigmanya
Tak sedikit bahkan sebagian besar penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan ditemukan oleh para ilmuwan muslim, seperti :
1) Ibnu Sina
Ibnu Sina memiliki nama lain Avicenna. Beliau adalah ilmuwan dari islam pertama yang mampu membawa perubahan pada dunia. Sering kali disebut sebagai "Bapak Kedokteran Modern", karena kontribusinya yang sangat berjasa di bidang kedokteran. Beberapa penemuan Ibnu Sina, yaitu:
- Penemu Teori Penularan TBC
Seperti yang telah kita ketahui, TBC adalah salah satu virus yang berbahaya dan penularannya sangat mudah. Akhirnya, Ibnu Sina menjadi orang pertama yang mengemukakan keaslian dari penemuannya ini. Sayangnya, teori yang dia kemukakan tidak diterima dan diakui oleh para ilmuwan dari barat. Barulah, saat ada penemuan mikroskop, teori penularan TBC yang dikemukakan Ibnu Sina dibuktikan kebenarannya dan akhirnya diterapkan dalam dunia medis.
- Penemu Manfaat Etanol
Etanol merupakan cairan yang sering sekali digunakan dalam bidang medis, gunanya untuk membunuh mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan infeksi pada tubuh pasien.
2) Jabir Ibn Hayyan
Jabir Ibn Hayyan adalah seorang "Bapak Kimia" yang berasal dari Iran. Beliau telah banyak menyumbangkan ilmunya di berbagai bidang, seperti bidang farmasi, fisika, filosofi dan astronomi. Dia telah berhasil melarutkan emas dan menemukan asam kuat, seperti asam sulfat, hidroklorik dan nitrat.
3) Al-Zahrawi
Seperti Ibnu Sina, Al-Zahrawi dikenal sebagai "Bapak Ilmu Bedah Modern". Dia berhasil mengenalkan benang sebagai alat untuk menutup suatu luka yang ada. Al-Zahrawi dikenal sebagai dokter penguasa daratan Eropa, dia menciptakan suatu buku yang menjelaskan mengenai ilmu bedah, serta bagaimana cara menjahit suatu bekas luka.
4) Al-Khawarizmi
Mempunyai nama panjang Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi asal Persia. Beliau adalah ahli matematika islam yang dikenal sebagai penemu aljabar. Ilmu ini sangat membantu menyelesaikan aturan bilangan. Al-Khawarizmi telah berhasil membuat dunia makin maju jauh ke depan berkat hasil penemuannya ini. Selain itu, beliau juga menemukan trigonometri dan juga astronomi, penemuannya kali ini sangat membantu menyelesaikan persoalan yang tidak bisa dipecahkan selama berabad-abad. Bahkan hingga saat ini, ilmu dari Al-Khawarizmi masih dipakai. Masih banyak lagi penemuan yang ditemuka Al-Khawarizmi dalam hal ilmu matematika, seperti algoritma, dan penemuan angka nol.
5) Abbas Ibn Firnas
Beliau adalah ilmuwan asal Andalusia yang bergerak di bidang aerodinamika, beliau merupakan muslim pertama yang jadi penerbang di dunia. Beliau berkata, bahwa idenya ini didapat dari permainan acrobat. Beliau ada pencetus ide mengenai pencipta pesawat.
Demikian beberapa ilmuwan muslim serta paradimanya yang sangat bermanfaat bagi dunia, baik dalam bidang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.
Referensi :
Kuntowijoyo. 1991. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Mizan: Bandung.
Al-A'zami, M.M., Sejarah Teks Al-Qur'an dari Wahyu sampai Kompilasi, (terj.), Jakarta: Gema Insani Press, 2005
Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Qur`an, Bandung: Mizan, 2006
Afdhila, Zulfan. “Biografi Ibu Haytham Bapak Optik Pencipta Kamera,” dalam http://www.zulfanafdhilla.com/2014/07/alHazen.html, diakses pada Selasa, 01 Juli 2014
Yuwono, Budi. Ilmuwan Islam Pelopor Sains Modern. Jakarta: Pustaka Qalami, 2005.
