Konten dari Pengguna

Bahasa Berdaulat, Literasi Inklusif: Jejak Filosofi untuk Pendidikan Hebat

Zumrohtun Nisa

Zumrohtun Nisa

Lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Jurusan Politik Indonesia Terapan. Memiliki rasa ingin tahu, semangat, dan konsistensi dalam isu kebahasaan.

·waktu baca 10 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zumrohtun Nisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aktualisasi Peran Generasi Muda Melalui Filosofi: Fondasi Literasi untuk Kolaborasi Inklusi. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Aktualisasi Peran Generasi Muda Melalui Filosofi: Fondasi Literasi untuk Kolaborasi Inklusi. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Ada sebuah paradoks menarik tentang bahasa Indonesia. Di satu sisi, ia adalah harta tak ternilai yang menjadi perekat bangsa sejak 1928. Di sisi lain, justru di kalangan generasi muda, bahasa Indonesia sering diperlakukan, seperti pakaian seragam: dipakai karena kewajiban, bukan kebanggaan. Kita bangga berbahasa asing di media sosial, mencampur-aduk kata seolah modernitas diukur dari seberapa banyak kosakata asing terselip dalam percakapan.

Apakah itu salah? Tidak sepenuhnya. Dunia memang menuntut penguasaan bahasa asing. Namun, yang menjadi perhatian adalah kita sering terlalu sibuk mengejar bahasa asing, hingga lupa merawat bahasa sendiri sebagai fondasi identitas. Padahal, tanpa dasar yang kuat, kita justru mudah kehilangan arah.

Inilah mengapa bahasa Indonesia berdaulat, pendidikan bermutu hebat bukan sekadar jargon. Ia adalah panggilan zaman. Menariknya, jawaban atas panggilan itu justru ada di tangan generasi muda. Mereka yang sering diremehkan sebagai kaum rebahan, tetapi diam-diam memegang kunci masa depan literasi.

Di era globalisasi yang serba cepat, dua unsur ini saling terkait erat. Bahasa adalah medium berpikir, dan pendidikan adalah mesin yang memacu peradaban. Jika bahasa kita kuat dan mandiri, mutu pendidikan akan ikut terangkat. Demikian pula, pendidikan yang bermutu akan melahirkan generasi yang mampu mengembangkan dan menjaga kedaulatan bahasa.

Seperti kata Sutan Takdir Alisjahbana, “Bahasa adalah alat pembentuk pikiran dan perasaan. Barang siapa menguasai bahasanya, ia menguasai pikirannya,” kalimat ini mengingatkan kita bahwa bahasa bukan hanya soal kata, melainkan tentang jati diri dan masa depan.

Makna Berdaulat dalam Perspektif Bahasa

Kata berdaulat sering kita dengar dalam konteks politik atau kenegaraan, tetapi jika dibawa ke ranah bahasa, maknanya jauh lebih luas. Bahasa Indonesia berdaulat berarti bahasa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak sepenuhnya bergantung pada bahasa asing untuk mengungkapkan konsep, ide, dan inovasi.

Namun, kedaulatan bukan berarti menutup diri. Justru bahasa yang berdaulat adalah bahasa yang luwes menerima pengaruh luar, tetapi mampu mengolah dan mengadaptasinya menjadi bagian dari khazanah sendiri, misalnya caption untuk ‘takarir’ atau download untuk ‘unduh’. Ini adalah bukti bahwa bahasa Indonesia mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Masalah Literasi Bukan Sekadar Angka

Mari jujur sejenak bahwa kita sering terjebak pada kebanggaan statistik. Tingkat melek huruf Indonesia sudah mencapai 96,67% (BPS, 2024). Angka itu indah, tetapi apakah melek huruf sama dengan literat?

UNESCO mencatat bahwa minat baca kita masih rendah, yaitu hanya satu dari seribu orang yang gemar membaca buku secara serius. Sebuah survei lain menunjukkan bahwa hanya 34% remaja membaca minimal satu jam per hari. Jadi, apakah artinya kita pintar membaca? Belum tentu. Terlebih, muncul laporan dari UNESCO yang menegaskan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus memiliki risiko lebih tinggi untuk tidak membaca.

Hal tersebut diperkuat dengan Asesmen Nasional Rapor Pendidikan 2025 yang memperlihatkan bahwa capaian literasi di sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB) dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), khususnya di Provinsi Jambi, masih berada dalam kategori merah. Itu artinya, kompetensi dasar membaca dan memahami teks belum tercapai secara optimal. Kondisi ini tidak hanya menghambat perkembangan akademik, tetapi juga menutup peluang mereka untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Filosofi Saat Literasi Menjadi Ruang Hidup

Di sinilah Filosofi: Fondasi Literasi untuk Kolaborasi Inklusi yang digiatkan Duta Bahasa Provinsi Jambi Jambi hadir. Ia bukan sekadar program, melainkan gerakan sadar literasi yang lahir untuk membuka ruang kesetaraan, apresiasi, dan kolaborasi dalam upaya mendukung pendidikan yang bermutu. Filosofi juga menjadi ruang, tempat bahasa dan sastra Indonesia tidak hanya diajarkan, tetapi juga diaplikasikan.

Dokumentasi Filosofi. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Melalui Filosofi, literasi tidak berhenti pada kemampuan mengeja huruf atau menghitung angka. Literasi tumbuh menjadi keberanian untuk memahami dunia, merasakan nilai kemanusiaan, lalu menyampaikannya kembali dengan cara yang berdaya. Setiap orang termasuk difabel memiliki hak dan kekuatan untuk bersuara, didengar, dan dihargai.

Dalam pelaksanaannya, kartu cerita Filosofi hadir sebagai terobosan yang dirancang secara khusus dan belum pernah ada sebelumnya. Kartu ini bukan hanya alat belajar dan bermain, melainkan juga medium bercerita, merangkai makna, dan membangun jembatan komunikasi yang ramah dan menyenangkan. Di dalamnya, setiap individu tidak hanya belajar, tetapi juga berkisah dengan cara dan bahasanya sendiri.

Bayangkan seorang siswa tuli yang biasanya duduk di pojok kelas, jarang bicara karena tidak ada yang benar-benar mengerti bahasanya. Melalui kartu cerita Filosofi, ia menggunakan kemampuan bahasa isyaratnya untuk menceritakan gambar yang ada pada kartu. Teman-teman yang awalnya kikuk, mencoba mengikuti. Tawapun pecah. Ada yang salah gerak, ada yang lambat menangkap, tetapi semua berusaha. Berangkat dari hal itu, lahir rasa saling memahami.

Di sisi lain, seorang siswi SMALB, yang awalnya minder berbicara di depan umum, justru berani tampil membacakan karya puisinya dari kartu Filosofi yang ia dapat dengan diiringi gitar.

“Saya baru sadar, bahasa Indonesia itu bisa keren. Tidak harus kaku. Saya bisa berbicara dengan gaya saya sendiri.”

Bagi guru, Filosofi bukan hanya media ajar baru, melainkan juga cermin refleksi. Ibu Siti Nurmala, guru di SLBN Sri Soedewi Jambi, mengaku, “Selama ini saya fokus mengejar target kurikulum. Namun, lewat Filosofi, saya sadar bahwa yang penting tidak hanya anak bisa menulis benar, tetapi juga berani menulis dengan caranya sendiri. Anak-anak yang biasanya diam, tiba-tiba berani tampil membaca puisi dengan caranya sendiri. Mereka bangga, kami pun terharu.”

Sementara bagi orang tua, dampaknya lebih personal. Pak Achmad, ayah dari anak dengan cerebral palsy, berkata sambil menahan haru, “Anak saya biasanya enggan menulis, tetapi setelah ikut Filosofi, ia pulang membawa kartu cerita dan bilang, ‘Ayah, aku mau coba bikin cerita.’ Itu pertama kalinya ia minta didengarkan.”

Dokumentasi Filosofi. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Inilah literasi yang hidup bukan hanya membaca teks, melainkan memberi ruang pada setiap anak. Bukan hanya menulis kata, melainkan menulis keberanian.

Bahasa Indonesia Milik Bersama, Jangan Hanya Sekadar Formalitas

Sering kali kita berbicara tentang kedaulatan bahasa Indonesia hanya dalam konteks Undang-Undang, surat resmi, atau pidato kenegaraan. Padahal, bahasa Indonesia akan benar-benar berdaulat jika dipakai dengan bangga dalam ruang kreatif anak muda.

Selayaknya banyak pendapat yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia sering kali terasa kaku di buku teks, tetapi justru hidup di tangan generasi muda yang berani mengutak-atiknya. Di TikTok, Instagram, dan YouTube, mereka menciptakan idiom baru, metafora segar, bahkan bahasa gaul yang kemudian meluas jadi kosakata sehari-hari. Apakah itu merusak bahasa? Tidak. Hal itu justru membuktikan bahwa bahasa Indonesia lentur, dinamis, dan relevan.

Dokumentasi Pentas Filosofi. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Program Filosofi memanfaatkan peluang ini. Puisi yang lahir bukan hanya versi klasik, melainkan juga puisi visual, audio, bahkan dipadukan dengan musik. Cerita tidak hanya dibacakan, tetapi juga dipentaskan, difoto, dan dipamerkan. Semua dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium utama. Dengan cara ini, bahasa Indonesia tidak dipaksakan, tetapi dicintai.

Pendidikan Bermutu Hebat Bukan Sekadar Nilai, melainkan Karakter

Pendidikan sering kali diukur dengan angka kelulusan, indeks prestasi, atau skor PISA. Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah anak-anak yang lulus itu benar-benar punya daya kritis, empati, dan keberanian untuk hidup di dunia nyata?

Filosofi memberikan jawaban lain. Pendidikan bermutu bukan hanya tentang menguasai pelajaran, melainkan juga tentang keberanian untuk tampil, kemampuan bekerja sama, dan sikap menghargai perbedaan.

Seorang siswa nondifabel pernah berkata,

“Saya baru sadar, teman tuli ternyata bisa menulis puisi yang indah. Saya jadi belajar menghargai cara mereka melihat dunia.”

Itulah pendidikan hebat. Membentuk manusia yang bukan hanya cerdas, melainkan juga peka dan bermutu.

Generasi Muda dari Konsumen Menjadi Produsen

Selama ini, generasi muda Indonesia lebih banyak dikenal sebagai konsumen budaya. Mengikuti tren Korea, mengutip film Barat, atau meniru gaya bahasa asing. Tidak salah, tetapi jika hanya berhenti di situ, kita hanya menjadi sebuah pasar.

Melalui Filosofi, generasi muda didorong menjadi produsen: menulis cerita, menciptakan puisi, dan melahirkan karya seni. Mereka tidak sekadar mengikuti arus, tetapi juga menambahkan warna pada arus itu.

Masa depan bahasa Indonesia bukan ada di ruang sidang DPR atau kantor kementerian, melainkan di tangan generasi muda yang menulis puisi di gawai mereka, yang menciptakan konten kreatif dalam bahasa Indonesia, dan yang berani menggabungkan sastra dengan teknologi.

Dari Program Menuju Gerakan

Agar Filosofi tidak berhenti sebagai proyek yang hanya hadir sesaat, program ini perlu ditransformasikan menjadi sebuah gerakan literasi inklusif yang berkelanjutan dan meluas. Sebab, literasi bukan hanya urusan sekolah atau komunitas tertentu, melainkan urusan bangsa. Untuk itu, ada beberapa langkah strategis yang dapat menjadi pijakan.

Pertama, diseminasi nasional. Apa yang dimulai di Jambi menunjukkan bahwa Filosofi memiliki daya hidup dan percontohan yang kuat. Namun, potensi ini akan jauh lebih besar jika diperluas ke berbagai daerah, baik melalui sekolah formal, kampus, maupun komunitas literasi.

Bayangkan jika setiap provinsi memiliki ruang inklusif serupa. Siswa difabel dan nondifabel duduk bersama menulis puisi dan menampilkan karya. Setiap daerah bisa menyesuaikan dengan kearifan lokal, misalnya di Bali dikaitkan dengan budaya Lontar, di Minangkabau dengan tradisi Kaba, atau di Papua dengan dongeng Noken. Jika skenario ini terealisasi, literasi tidak hanya menjadi aktivitas belajar, tetapi juga jembatan kebudayaan antardaerah, memperkuat persatuan bangsa melalui bahasa Indonesia.

Kedua, digitalisasi media. Generasi Z tumbuh dalam ekosistem digital. Maka, agar relevan, kartu Filosofi perlu dikembangkan menjadi aplikasi interaktif berbasis gawai. Dengan cara ini, siswa bisa mengakses permainan literasi kapan pun dan di mana pun, bahkan menjadikannya tantangan seru di media sosial. Coba bayangkan sebuah aplikasi Filosofi yang bisa diunduh secara gratis, berisi kartu cerita interaktif, kuis puisi, dan fitur berbagi cerita dengan bahasa isyarat. Jika aplikasi ini diluncurkan dan dipakai serentak pada momen tertentu, misalnya Hari Sumpah Pemuda, ribuan cerita dan puisi bisa diunggah dalam satu hari. Viralitas positif ini akan memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia mampu bersaing dengan konten global, sekaligus memberi ruang kreativitas tanpa batas bagi Generasi Z.

Ketiga, pelatihan guru dan relawan. Filosofi tidak akan berjalan tanpa pendamping yang paham. Guru dan relawan perlu mendapatkan pelatihan berkelanjutan agar mampu membimbing anak-anak dengan sensitivitas tinggi, memahami bahasa isyarat, serta memfasilitasi kolaborasi lintas kemampuan. Guru bukan hanya pengajar, melainkan juga fasilitator dan penggerak ekosistem literasi yang ramah bagi semua.

Pentas Filosofi di Taman Budaya Jambi. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Keempat, dokumentasi dan publikasi. Praktik yang baik tidak boleh berhenti di ruang-ruang kecil. Setiap keberhasilan, pengalaman, dan cerita inspiratif dari Filosofi harus didokumentasikan, baik dalam bentuk modul, buku, maupun konten digital. Publikasi ini akan menjadi bahan pembelajaran nasional, sumber inspirasi bagi daerah lain, sekaligus bukti nyata bahwa literasi bagi difabel dapat dijalankan dengan cara kreatif.

Terakhir, festival literasi inklusif. Literasi tidak boleh selalu identik dengan suasana serius dan kaku. Ia perlu dirayakan, dipentaskan, dan dibagikan ke publik. Dengan menghadirkan festival literasi inklusif yang menampilkan pementasan puisi, drama, musik, dan seni rupa hasil kolaborasi difabel serta nondifabel, Filosofi akan menjelma menjadi perayaan kebudayaan. Festival ini bisa menjadi momentum tahunan yang dinanti, mengikat partisipasi masyarakat luas, dan menjadikan literasi sebagai sesuatu yang membanggakan sekaligus menyenangkan.

Dengan langkah-langkah strategis ini, Filosofi bukan hanya program singkat, melainkan gerakan nasional yang berkelanjutan, menyatukan generasi muda, memperkuat kedaulatan bahasa Indonesia, serta membangun pendidikan yang inklusif dan bermutu.

Bahasa sebagai Rumah

Sastrawan Sapardi Djoko Damono pernah berkata, “Bahasa adalah rumah kita. Di sanalah kita tinggal, tumbuh, dan mengenal dunia.”

Generasi muda membutuhkan rumah itu. Filosofi membantu mereka membangun kembali rumah bahasa dan sastra Indonesia, rumah yang terbuka bagi semua, termasuk mereka yang selama ini dianggap berbeda.

Ketika rumah itu kokoh, bangsa ini akan lebih siap melangkah menuju masa depan. Karena bahasa yang berdaulat dan pendidikan yang bermutu bukan sekadar visi, melainkan napas peradaban.

Referensi

Badan Pusat Statistik. 2024. Statistik Pendidikan Indonesia 2024. Jakarta: BPS.

Bondar, A. 2023. Paparan dalam Seminar Literasi Nasional. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 2023. Indeks Aktivitas Literasi Membaca 2023. Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbudristek.

Makarim, N. 2022. Pidato Hari Pendidikan Nasional: Merdeka Belajar untuk Masa Depan. Jakarta: Kemendikbudristek.

Sapardi Djoko Damono. 2005. Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Jakarta: Pustaka Firdaus.

UNESCO. 2023. Global Education Monitoring Report: Literacy and Skills Development in Southeast Asia. Paris: UNESCO Publishing.

Penulis

1. Zumrohtun Nisa

2. Muhammad Farhan Al Hakim