Konten dari Pengguna

Ketika Minimalisme Mulai Menguasai Segalanya, ke Mana Perginya Kreativitas?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenia Estefani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang perempuan bersantai di sofa putih dalam ruangan dengan interior minimalis yang didominasi warna putih dan dekorasi sederhana. (Pexels/SHVETS production)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang perempuan bersantai di sofa putih dalam ruangan dengan interior minimalis yang didominasi warna putih dan dekorasi sederhana. (Pexels/SHVETS production)

Di tengah kehidupan modern, gaya minimalis kerap diterapkan pada berbagai hal, mulai dari rumah, pakaian, tata rias, furnitur, hingga desain berbagai produk. Semuanya mengutamakan tampilan yang simple, bersih, dan selaras. Secara sederhana, minimalisme merupakan gaya yang mengutamakan kesederhanaan dengan mengurangi elemen yang dianggap tidak diperlukan, baik dalam bentuk, warna, maupun dekorasi. Tujuannya bukan sekadar membuat sesuatu terlihat kosong, tetapi menciptakan tampilan yang lebih teratur, tenang, dan fungsional. Karena itu, sebenarnya tidak ada yang salah dengan minimalisme. Gaya ini dapat memberikan rasa nyaman dan membuat kita tidak terlalu banyak menerima rangsangan visual di tengah kehidupan yang sudah dipenuhi berbagai hal.

Namun, menurut saya, persoalannya muncul ketika minimalisme tidak lagi sekadar menjadi pilihan, melainkan dianggap sebagai standar. Ada anggapan bahwa sesuatu yang sederhana, rapi, dan terlihat effortless akan tampak lebih mahal dan berkelas. Ditambah dengan stereotip bahwa orang-orang kaya memiliki selera yang simple, tidak sedikit orang yang akhirnya mengikuti gaya tersebut agar terlihat lebih berkelas. Akibatnya, berbagai hal mulai memiliki tampilan yang serupa. Rumah dibuat polos, pakaian dibuat sesederhana mungkin, tata rias dibuat seolah tidak menggunakan banyak produk, bahkan sesuatu yang sebenarnya dapat memiliki karakter justru dibuat tanpa banyak detail. Semakin banyak yang mengikuti pola tersebut, semakin sulit pula menemukan sesuatu yang benar-benar terasa berbeda.

Padahal, jika melihat kembali berbagai karya dari masa lalu, kita dapat menemukan banyak hal yang dibuat dengan perhatian terhadap detail. Bangunan lama dan bangunan bersejarah, misalnya, memiliki ukiran, ornamen, bentuk jendela, warna, serta berbagai elemen lain yang membuatnya memiliki identitas. Hal yang sama juga dapat ditemukan dalam dunia fashion, tata rias, aksesori, dan berbagai bentuk desain. Ada keberanian untuk menggunakan warna, motif, tekstur, serta detail yang membuat setiap karya memiliki ciri khasnya sendiri. Mungkin tidak semuanya sesuai dengan selera masa kini, tetapi setidaknya ada kreativitas yang terlihat jelas di dalamnya. Sesuatu tidak harus sederhana untuk menjadi indah, sama seperti sesuatu yang penuh detail tidak otomatis menjadi berlebihan.

Ilustrasi seorang perempuan sedang mengaplikasikan riasan mata dengan kuas menggunakan perpaduan warna-warna cerah. (Pexels/Mart Production)

Menurut saya, bukan minimalismenya yang menjadi persoalan. Gaya minimalis tetap dapat menjadi bentuk kreativitas dan tentu sah saja untuk disukai. Yang perlu dipikirkan adalah ketika kita mulai menganggap bahwa sesuatu harus minimalis agar terlihat bagus, mahal, atau berkelas. Pada saat itulah pilihan kita menjadi semakin terbatas. Kita mungkin mulai menghindari warna tertentu karena dianggap terlalu mencolok, mengurangi detail karena takut terlihat berlebihan, atau memilih sesuatu bukan karena benar-benar menyukainya, melainkan karena ingin mengikuti gambaran tentang selera yang sedang dianggap ideal.

Karena itu, saya rasa kita tidak perlu terlalu takut untuk berbeda. Jika menyukai warna yang berani, gunakanlah. Jika menyukai pakaian dengan banyak detail, tidak perlu menghilangkannya hanya agar terlihat effortless. Jika ingin memenuhi kamar dengan poster, lukisan, koleksi, atau benda-benda yang memiliki cerita, tidak ada alasan untuk merasa malu. Justru, hal-hal seperti itulah yang dapat membuat sesuatu terasa lebih personal. Kreativitas tidak selalu harus mengikuti apa yang sedang populer.

Tulisan ini tentu bukan ajakan untuk memandang minimalisme sebagai sesuatu yang negatif atau berhenti menyukainya. Jika kesederhanaan membuat seseorang merasa nyaman dan tenang, tidak ada yang salah dengan itu. Namun, di tengah segala sesuatu yang semakin seragam, mungkin kita juga perlu memberi ruang bagi sesuatu yang lebih berani, lebih personal, dan lebih menyenangkan. Tidak semua hal harus sempurna, tidak semua hal harus terlihat effortless, dan tidak semua hal harus mengikuti standar yang sama. Sesekali, mari beri warna kembali pada dunia. Bring the fun back.