Masih Menyukai Mainan dan Kartun meski Sudah Dewasa, Mengapa?

Mahasiswi Aktif Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jenia Estefani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang menarik dari cara orang dewasa menikmati kembali hal-hal yang dulu mereka sukai saat kecil. Sekarang, rasanya tidak sulit menemukan orang dewasa yang memasang keychain karakter kesayangan di tas, mengoleksi blind box, membeli mainan yang dulu hanya bisa dilihat di etalase, atau kembali menonton kartun yang pernah menemani masa kecil. Kebiasaan seperti ini ternyata dikenal dengan istilah kidulting, yaitu ketika orang dewasa kembali menikmati aktivitas, hiburan, atau benda yang identik dengan masa kanak-kanak.
Menurut saya, kidulting menarik bukan hanya karena menunjukkan bahwa orang dewasa ternyata masih menyukai hal-hal yang dianggap “kekanak-kanakan”. Ada sesuatu yang lebih personal di baliknya. Ketika hidup mulai dipenuhi pekerjaan, tanggung jawab, tuntutan untuk terus berkembang, dan berbagai hal yang harus dipikirkan, kembali kepada sesuatu yang kita sukai sejak kecil bisa terasa seperti mengambil jeda. Bukan berarti ingin kembali menjadi anak-anak dan melarikan diri dari kehidupan sekarang, tetapi sekadar mencari ruang yang terasa familiar. Mainan, kartun, karakter tertentu, atau benda kecil yang mengingatkan kita pada masa lalu dapat membawa kembali perasaan yang pernah kita kenal: sederhana, menyenangkan, dan tanpa terlalu banyak tuntutan.
Saya sendiri merasa ada sensasi seperti kembali ke suatu tempat yang sudah lama ditinggalkan ketika melakukan hal-hal yang dulu saya sukai. Ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan. Untuk sesaat, kita seperti diingatkan bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi produktif, mencapai sesuatu, atau memenuhi ekspektasi. Ada kalanya kita hanya ingin melakukan sesuatu karena memang menyukainya. Mungkin itu pula yang membuat tren seperti mengoleksi blind box, membeli keychain lucu, atau menghidupkan kembali hobi masa kecil terasa begitu dekat dengan banyak orang dewasa. Di tengah kehidupan yang semakin penuh tuntutan, hal-hal kecil tersebut bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga kewarasan dan memberikan ruang untuk bernapas.
“All the roads eventually lead back to the interests you had as a child.” Bagi saya, kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa semakin dewasa, kita mungkin mencoba banyak hal, mengikuti berbagai tren, dan mengenal berbagai versi diri sendiri. Namun, pada akhirnya, ada beberapa hal yang tetap terasa dekat karena memang sejak awal menjadi bagian dari diri kita. Ketertarikan masa kecil itu mungkin berubah bentuk, tetapi rasa sukanya masih ada.
Karena itu, menurut saya, tidak ada yang salah dengan sesekali kembali kepada old interests. Justru mungkin kita perlu melakukannya. Coba ingat lagi apa yang dulu membuat kita begitu bersemangat. Karakter apa yang dulu paling disukai? Permainan apa yang dulu bisa membuat lupa waktu? Apa yang dulu dilakukan tanpa memikirkan apakah hal tersebut berguna, menghasilkan uang, atau terlihat cukup dewasa? Bisa jadi, di antara hal-hal sederhana itu, ada bagian dari diri kita yang selama ini terlalu sibuk kita tinggalkan.
Menjadi dewasa memang berarti bertambahnya tanggung jawab dan kemampuan untuk mengambil keputusan. Namun, bukan berarti kita harus meninggalkan semua hal yang dulu membuat kita bahagia. Mungkin, justru dari kesukaan sederhana itulah kita kembali menemukan bagian diri yang sempat terlupakan. Bertumbuh tidak selalu berarti meninggalkan apa yang pernah kita sukai, tetapi juga memahami bahwa ada hal-hal tertentu yang tetap punya tempat dalam diri kita.
Kita memang tidak benar-benar kembali menjadi anak kecil. Kita hanya kembali menikmati beberapa hal yang dulu terasa menyenangkan. Rasanya tidak ada yang salah dengan itu. Di tengah kehidupan dewasa yang semakin rumit, kita tetap boleh menyukai hal-hal sederhana yang membuat kita senang, tanpa harus merasa bahwa itu terlalu kekanak-kanakan.
