Serba Dianggap Performative, Ruang Menjadi Diri Sendiri Menyempit

Mahasiswi Aktif Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jenia Estefani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah performative di media sosial semakin sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap melakukan sesuatu demi terlihat baik atau mendapatkan perhatian. Membaca buku di tempat umum bisa dianggap ingin terlihat pintar, mengikuti pilates dicurigai hanya karena sedang menjadi tren, bahkan sesederhana membeli dan menikmati matcha dianggap sebagai usaha untuk terlihat mengikuti gaya hidup tertentu. Padahal, belum tentu ada maksud seperti itu. Bisa saja seseorang memang sedang mencoba hidup lebih sehat, menemukan hobi baru, atau sekadar melakukan sesuatu yang ia sukai.
Menurut saya, kita terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai performative hanya dari apa yang terlihat. Mungkin memang ada orang yang melakukan sesuatu demi mendapatkan perhatian atau membangun kesan tertentu di hadapan orang lain. Namun, masalahnya muncul ketika kita menggunakan istilah tersebut untuk menilai seseorang tanpa tahu apa yang mendorongnya melakukan hal tersebut. Satu tindakan atau unggahan belum tentu cukup untuk menjelaskan alasan seseorang melakukannya.
Ketika mencoba sesuatu selalu dicurigai sebagai pencitraan
Menjadi pemula memang tidak selalu terlihat meyakinkan. Ketika seseorang baru mulai berolahraga, membaca, mencoba hobi tertentu, atau membangun kebiasaan baru, wajar jika masih mencari tahu apa yang cocok untuk dirinya. Mungkin terlihat terlalu bersemangat, belum terbiasa, atau bahkan terkesan dibuat-buat. Padahal, tidak ada aturan bahwa seseorang harus langsung terlihat ahli ketika baru memulai sesuatu.
Tidak semua hal yang kita coba akan bertahan. Ada yang awalnya menarik, tetapi setelah dijalani ternyata tidak cocok. Ada pula yang bermula dari rasa penasaran dan justru menjadi bagian dari keseharian. Dari pengalaman seperti itu, seseorang bisa mengenali apa yang memang ingin dipertahankan dan apa yang sebaiknya ditinggalkan.
Karena itu, penggunaan label performative juga perlu lebih hati-hati. Kritik tetap diperlukan ketika suatu tindakan memang memiliki dampak buruk atau sengaja digunakan untuk membangun citra demi kepentingan tertentu. Namun, tidak semua hal yang terlihat oleh orang lain perlu ditempatkan dalam konteks tersebut. Kadang, kita hanya sedang melihat seseorang yang berada dalam tahap awal dan masih mencari tahu apa yang cocok untuk dirinya.
Tidak semua yang ditampilkan berarti palsu
Ada anggapan bahwa ketika sesuatu dilakukan dengan sengaja dan terlihat oleh orang lain, berarti hal tersebut tidak autentik. Padahal, manusia memang hidup berdampingan dengan orang lain. Cara kita berbicara, berpakaian, memperlakukan orang lain, sampai menentukan pilihan sehari-hari juga terbentuk dari pengalaman yang kita dapatkan.
Kita tidak selalu membawa diri dengan cara yang sama dalam setiap situasi. Cara berbicara dengan teman tentu berbeda ketika berhadapan dengan dosen, keluarga, atau rekan kerja. Kita menyesuaikan diri dengan tempat dan orang yang dihadapi, tetapi bukan berarti setiap penyesuaian tersebut membuat kita menjadi orang lain.
Ada satu kutipan yang menurut saya cukup menggambarkan hal tersebut: “You're the only main performer of your life, so give the world a good damn show! It doesn't necessarily mean you're faking life, you're living. You're trying different angles, searching for yourself until you find that true self.”
Menjadi pemeran utama dalam hidup sendiri bukan berarti harus membuat kehidupan terlihat sempurna. Kita sedang menjalani hidup dengan mencoba berbagai kemungkinan sampai menemukan apa yang terasa tepat. Dalam prosesnya, kita bisa berubah pikiran, meninggalkan sesuatu, atau menemukan sisi diri yang sebelumnya belum pernah dikenal.
“All the world's a stage”
William Shakespeare pernah menulis dalam As You Like It, “All the world's a stage.” Dunia diibaratkan sebagai panggung dan manusia menjalani berbagai peran di dalamnya. Jika dipikirkan dalam kehidupan sehari-hari, kita memang terus berpindah dari satu peran ke peran lainnya. Kita menjadi mahasiswa di kampus, teman ketika bersama lingkungan pergaulan, anak ketika berada di rumah, dan rekan kerja ketika berada di lingkungan profesional.
Peran-peran tersebut tidak selalu harus dipandang sebagai bentuk kepalsuan. Justru, dari berbagai situasi itulah kita belajar bagaimana berbicara, memperlakukan orang lain, mengambil keputusan, dan memahami batas diri. Pengalaman membuat kita mengenal mana yang sesuai dengan nilai yang kita pegang dan mana yang tidak.
Karena itu, ruang untuk menjadi diri sendiri seharusnya tidak semakin sempit hanya karena takut diberi label performative. Selama apa yang dilakukan tidak merugikan orang lain, seseorang seharusnya tetap memiliki kebebasan untuk mencoba, berubah, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
Hal ini juga berlaku bagi kita yang terbiasa menggunakan kata performative. Sebelum menilai, mungkin kita perlu menyadari bahwa kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Bisa jadi yang kita anggap sebagai pencitraan sebenarnya adalah seseorang yang sedang belajar, mencoba, atau sekadar menikmati sesuatu yang baru ia temukan.
Kita semua belajar menjalani hidup dari pengalaman. Tidak ada yang langsung mengetahui cara menjadi dirinya sendiri sejak awal. Ada yang perlu mencoba banyak hal, ada yang berubah setelah menemukan lingkungan baru, dan ada pula yang baru memahami dirinya setelah beberapa kali salah memilih.
Jadi, jangan sampai ketakutan dianggap performative membuat kita berhenti mencoba. Dan jangan pula kebiasaan memberi label membuat kita lupa bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menemukan dirinya.
Jika hidup memang sebuah panggung, kita tidak perlu terus-menerus memikirkan bagaimana khalayak menilai setiap gerakan kita. Ada kalanya kita cukup menjalani peran kita sendiri, mencoba hal yang ingin dicoba, lalu melihat ke mana pengalaman tersebut membawa kita.
