Malam Minggu Tugu Pembebasan Irian Barat: Air Mancur Menari, Anak-Anak Menjerit

Mahasiswa D3 - Penerbitan/Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ester Diah Hayuningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam minggu pukul 18:30 WIB pertunjukan air mancur mulai ditampilkan. Air mancur di tengah menjulang tinggi hampir setara dengan Tugu Pembebasan Irian Barat. Momen tembakan air layaknya pistol dari belakang dengan suara keras membuat anak-anak teriak hingga memenuhi tempat itu.
Air mancur yang diberikan lampu warna-warni, juga bergerak memutar. Dengan alunan musik lagu nasional seperti Indonesia Pusaka dan banyak lagi, membuat warna air dan gerakan berirama sesuai ketukan lagu.
“Air mancur di hari Sabtu-Minggu ada 2 sesi, pertama jam 18:30 dan kedua jam 19:30. Kalau dulu ada 3 sesi, cuma dihilangkan karena kemalaman buat warga yang datang,” ujar Bu Desi (34) pedagang minuman haus, dengan gerobak kecilnya yang digabungkan dengan setengah sepeda supaya bisa dikayuh dan terdapat payung besar agar tidak kepanasan atau kehujanan.
Penulis berada di sana sejak sore, sudah ramai orang-orang yang melakukan aktivitas seperti piknik di taman, bermain bulu tangkis, lari sore, latihan bela diri, juga anak-anak perempuan yang ditemani keluarganya sedang latihan menari dan akan tampil di bundaran HI nanti.
Semakin sore semakin ramai pengunjung memasuki area sekitar lapangan banteng, kendaraan-kendaraan motor dan mobil terparkir rapi yang dibantu oleh petugas parkir. Ada tiga (3) pintu untuk memasuki tugu dan lapangannya, para pedagang makanan dan minuman sudah berjejer memenuhi pintu masuk. Dengan langit yang cerah menumbuhkan semangat para pedagang.
Lalu seketika, awan yang hitam memenuhi area tugu, dan mulai turun rintik-rintik air dari langit membuat para pengunjung yang duduk di sepanjang bangku melintang, cepat-cepat berlari mencari tempat teduh. Ternyata hanya sekilas, awan hitam berangsur menghilang, matahari yang akan terbenam dari barat bersinar terang dengan pantulan dari genangan air membuat silau mata.
Hari semakin gelap, semua lampu di berbagai tempat dinyalakan membuat suasana menjadi hangat, hingga waktu yang ditunggu-tunggu penulis dan juga pengunjung, musik lagu mulai disetel dan air mancur ditampilkan. Sampai sesi kedua selesai beberapa orang sudah pergi, namun masih ada banyak orang yang masih menetap disana melanjutkan kegiatannya seperti biasa.
Lapangan banteng menjadi tempat yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, untuk melakukan aktivitasnya. Pemuda-pemudi juga ramai nongkrong disana, membuat tempat ini menjadi terus menyala dan mengingat perjuangan sejarahnya.
