Generasi Sandwich dan Mahasiswa: Masa Depan yang Semakin Berat?

Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Prodi Manajemen
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ester Feriyanti Sinaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah tuntutan pendidikan dan tekanan ekonomi keluarga, sebagian mahasiswa tidak hanya berjuang meraih gelar, tetapi juga memikul tanggung jawab yang seharusnya belum sepenuhnya menjadi beban mereka.
Menjadi mahasiswa sering kali dipandang sebagai fase kehidupan yang penuh kesempatan. Ada ruang untuk belajar, mencoba hal baru, membangun relasi, dan merancang masa depan. Namun, tidak semua mahasiswa memiliki kemewahan untuk menikmati masa tersebut. Bagi sebagian anak muda, kehidupan perkuliahan bukan hanya tentang mengejar gelar, melainkan juga tentang bertahan di tengah tekanan ekonomi dan tanggung jawab keluarga.
Fenomena generasi sandwich menjadi salah satu gambaran nyata dari persoalan tersebut. Istilah ini umumnya merujuk pada individu yang menanggung tanggung jawab finansial terhadap generasi di atas dan di bawahnya. Dalam konteks mahasiswa, tekanan serupa dapat muncul ketika mereka harus membantu orang tua, memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan menjadi salah satu penopang ekonomi rumah tangga, meskipun masih berjuang menyelesaikan pendidikan.
Ketika Pendidikan Berhadapan dengan Tanggung Jawab Keluarga
Pendidikan sering disebut sebagai jalan untuk keluar dari keterbatasan ekonomi. Mahasiswa didorong untuk belajar dengan baik, memperoleh prestasi, dan menyelesaikan pendidikan agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, dan kondisi ekonomi keluarga dapat menjadi tekanan yang sulit dihindari. Sebagian mahasiswa harus bekerja sambil kuliah, mengurangi kebutuhan pribadi, atau membagi penghasilan untuk membantu keluarga. Akibatnya, waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan kemampuan akademik harus terbagi dengan tanggung jawab lainnya.
Dalam keadaan seperti ini, pendidikan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk bertumbuh justru dapat berubah menjadi perjuangan yang melelahkan.
Ironisnya, mahasiswa sering kali tetap dituntut memiliki prestasi yang sama, tanpa mempertimbangkan bahwa setiap orang berangkat dari keadaan yang berbeda. Kita mudah membandingkan nilai, pencapaian, dan keberhasilan seseorang, tetapi jarang mempertanyakan berapa banyak beban yang harus mereka hadapi untuk sampai pada titik tersebut.
Dewasa Sebelum Waktunya, Lelah Sebelum Berhasil
Ada mahasiswa yang tidak memiliki cukup waktu untuk mengikuti kegiatan kampus karena harus bekerja. Ada yang menunda keinginannya sendiri demi kebutuhan keluarga. Ada pula yang memilih diam ketika menghadapi tekanan, karena merasa tidak memiliki ruang untuk mengeluh.
Di tengah situasi tersebut, muncul anggapan bahwa anak muda harus kuat, mandiri, dan mampu menghadapi segala keadaan. Memang, tanggung jawab dan kemandirian merupakan nilai yang penting. Namun, menjadikan penderitaan sebagai ukuran kedewasaan adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Mengapa anak muda harus selalu dianggap mampu menanggung semuanya? Mengapa perjuangan mereka sering kali baru dihargai ketika berhasil, tetapi tidak diperhatikan ketika sedang kesulitan?
Tidak semua mahasiswa yang membantu keluarganya merupakan generasi sandwich. Akan tetapi, ketika tanggung jawab finansial menjadi beban utama dan mengganggu pendidikan maupun kesejahteraan diri, persoalan ini tidak lagi sekadar tentang pengorbanan pribadi. Ada kondisi sosial dan ekonomi yang perlu mendapat perhatian.
Masa Depan Tidak Seharusnya Dibangun dengan Mengorbankan Masa Kini
Kita sering mengatakan bahwa mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Namun, seberapa besar perhatian yang diberikan kepada mahasiswa yang sedang berjuang dalam keterbatasan?
Dukungan terhadap mereka tidak cukup hanya melalui motivasi untuk terus berjuang. Mahasiswa membutuhkan kesempatan yang nyata, seperti akses beasiswa yang lebih luas, biaya pendidikan yang terjangkau, kesempatan kerja yang fleksibel, serta lingkungan kampus yang memahami kondisi mahasiswa dengan tanggung jawab keluarga.
Keluarga juga perlu memahami bahwa membantu keluarga tidak berarti seorang anak harus mengorbankan seluruh kebutuhan dan masa depannya. Tanggung jawab seharusnya dibangun melalui kerja sama, bukan dibebankan sepenuhnya kepada satu individu.
Sementara itu, masyarakat perlu berhenti mengukur keberhasilan mahasiswa hanya melalui nilai akademik atau seberapa cepat mereka menyelesaikan pendidikan. Di balik setiap pencapaian, terdapat keadaan yang mungkin tidak pernah diketahui orang lain.
Mahasiswa Juga Berhak Menjadi Anak Muda
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan berarti seseorang harus mengesampingkan seluruh kebutuhan dirinya demi keluarga. Membantu orang tua adalah bentuk kasih sayang, tetapi memiliki mimpi, menikmati masa muda, dan membangun masa depan sendiri juga bukan tindakan egois.
Generasi sandwich di kalangan mahasiswa mengingatkan kita bahwa tidak semua perjuangan terlihat di ruang kelas. Ada mereka yang datang dengan pikiran penuh tanggung jawab, mengerjakan tugas di sela pekerjaan, dan tetap berusaha tersenyum meskipun kehidupan tidak selalu memberikan kesempatan yang mudah.
Mereka tidak membutuhkan sekadar pujian karena dianggap kuat. Mereka membutuhkan dukungan agar tidak harus selalu kuat sendirian.
Sebab, masa depan mahasiswa seharusnya menjadi sesuatu yang mereka bangun dengan harapan, bukan sesuatu yang mereka perjuangkan dengan rasa takut kehilangan segalanya.
Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi seberapa kuat mahasiswa mampu menanggung beban keluarga, melainkan seberapa besar keluarga, masyarakat, dan negara bersedia membantu mereka agar tetap memiliki masa depan.
