Kualitas Udara dalam Rumah: Seberapa Baik yang Kita Hirup?

Master Student in Environmental Health at Universitas Diponegoro with a strong interest in air quality and occupational health
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Esti Widyastuti Prabasukma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah seharian beraktivitas, rumah biasanya menjadi tempat pertama yang ingin kita tuju. Kita menutup pintu, meletakkan tas, mengganti pakaian, lalu beristirahat. Ada rasa lega ketika akhirnya bisa berada di dalam rumah, jauh dari panas, asap kendaraan, dan hiruk-pikuk di luar. Apalagi ketika kualitas udara di luar sedang buruk. Kita mungkin memakai masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, atau memilih menutup jendela. Rasanya, berada di dalam rumah berarti kita sudah cukup terlindungi. Padahal, kualitas udara dalam rumah belum tentu lebih baik daripada udara di luar.
Tapi, benarkah begitu?
Rumah memang tempat kita berlindung. Namun, bukan berarti udara di dalamnya selalu lebih bersih daripada udara di luar. Tanpa disadari, hal-hal yang sangat biasa kita lakukan di rumah bisa memengaruhi udara yang kita hirup. Memasak, merokok, menggunakan produk rumah tangga tertentu, atau membiarkan ruangan terlalu lembap dapat berkontribusi terhadap kualitas udara dalam rumah.
Selama ini, ketika mendengar kata “polusi udara”, yang terbayang mungkin asap kendaraan, cerobong industri, kebakaran hutan dan lahan, atau debu dari aktivitas di luar ruangan. Kita jarang membayangkan ruang tamu, kamar tidur, atau dapur sebagai bagian dari persoalan yang sama. Padahal, di sanalah kita menghabiskan banyak waktu setiap hari.
Dari Mana Polusi Itu Datang?
Udara di dalam rumah sebenarnya tidak benar-benar terpisah dari udara di luar. Polutan dari luar dapat masuk melalui pintu, jendela, celah bangunan, maupun ventilasi. Di saat yang sama, rumah juga memiliki sumber pencemar sendiri.
Aktivitas memasak, misalnya, bukan hanya menghasilkan aroma makanan yang memenuhi rumah. Proses memasak juga dapat melepaskan partikulat dan berbagai polutan, termasuk Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), terutama ketika menggunakan suhu tinggi atau menghasilkan banyak asap. Asap rokok juga dapat memenuhi ruangan dan membuat orang lain di dalam rumah ikut terpapar.
Belum lagi debu yang menumpuk, ruangan yang terlalu lembap, pertumbuhan jamur, hingga penggunaan produk rumah tangga tertentu. Hal-hal ini mungkin terdengar sepele karena begitu dekat dengan keseharian kita. Namun, ketika terjadi berulang kali dan berlangsung dalam waktu lama, keberadaannya di dalam rumah tetap perlu diperhatikan.
Salah satu yang perlu diperhatikan adalah keberadaan PM₂.₅, yaitu partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya yang kecil, partikel ini dapat terhirup hingga masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Lalu, seperti apa sebenarnya kondisi PM₂.₅ di dalam rumah?
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Teknologi Lingkungan BRIN mencoba mengukur konsentrasi PM₂.₅ dan CO₂ di dua rumah, masing-masing berada di Kabupaten Bandung dan Kota Garut. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi udara di dalam rumah dipengaruhi oleh beberapa hal, mulai dari kondisi udara luar, ventilasi, hingga aktivitas penghuni.
Pada salah satu rumah, konsentrasi PM₂.₅ di dalam ruangan cenderung mengikuti kondisi udara di luar. Sementara itu, di rumah lainnya, aktivitas di dapur menjadi salah satu sumber penting pencemar. Artinya, sumber polutan di setiap rumah bisa berbeda. Udara dari luar memang dapat masuk ke dalam, tetapi apa yang kita lakukan di dalam rumah juga ikut menentukan udara yang kita hirup.
Apakah Rumah yang Bersih Menentukan Kualitas Udara?
Ada satu persoalan lain yang membuat kualitas udara dalam rumah mudah luput dari perhatian, yaitu kita tidak selalu bisa melihatnya. Ketika ada asap yang mengepul di dapur, kita tentu tahu ada sesuatu yang sedang memenuhi udara. Namun, bagaimana dengan partikulat halus seperti PM₂.₅? Partikel ini terlalu kecil untuk dilihat dengan mata. Begitu pula dengan beberapa gas pencemar yang tidak selalu memiliki bau atau tanda yang mudah dikenali.
Karena itu, rumah yang terlihat bersih belum tentu memiliki udara yang sehat. Lantai yang bersih dan ruangan yang tertata memang membuat rumah terasa nyaman, tetapi belum tentu menunjukkan kualitas udara di dalamnya. Kebersihan rumah sebaiknya tidak hanya dilihat dari apa yang tampak, tetapi juga dari udara yang kita hirup setiap hari.
Haruskah Kita Selalu Membuka Jendela?
Ketika rumah terasa pengap, hal pertama yang sering kita lakukan adalah membuka jendela. Udara masuk, ruangan terasa lebih segar, dan kita bisa bernapas dengan lebih nyaman. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Ventilasi memang penting karena membantu pertukaran udara dan mengurangi penumpukan pencemar di dalam ruangan. Tetapi ketika udara di luar sedang buruk, membuka jendela justru dapat membawa polutan dari luar masuk ke dalam rumah.
Misalnya ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan atau kondisi udara luar sedang dipenuhi partikulat. Dalam situasi seperti itu, udara yang masuk melalui jendela belum tentu merupakan udara yang lebih baik. Karena itu, ventilasi perlu dilihat sebagai bagian dari pengelolaan kualitas udara, bukan sekadar cara membuat rumah terasa sejuk. Kondisi udara di dalam dan di luar rumah sama-sama perlu diperhatikan. Prinsip ini juga menjadi bagian dari konsep rumah sehat. Dalam Permenkes No. 2 Tahun 2023 tentang Kesehatan Lingkungan, sistem ventilasi perlu mendukung terjadinya pergantian udara yang baik.
Apa yang Sebenarnya Kita Hirup?
Kualitas udara dalam rumah tidak hanya ditentukan oleh bangunan, tetapi juga oleh kebiasaan penghuninya. Memasak, misalnya, dapat menghasilkan partikulat dan polutan lain, terutama ketika prosesnya menghasilkan banyak asap dan tidak didukung ventilasi atau sistem pembuangan yang memadai. Begitu pula dengan asap rokok, yang tidak hanya berdampak pada orang yang merokok, tetapi juga anggota keluarga lain di dalam rumah.
Kelembapan juga perlu diperhatikan. Dinding yang mulai berjamur, ruangan yang terasa lembap, atau munculnya bau tidak sedap bisa menjadi tanda adanya masalah kelembapan yang perlu dicari sumbernya dan diperbaiki. Hal-hal yang terdengar sederhana ini ternyata berkaitan dengan kesehatan. Menurut WHO, polusi udara rumah tangga berhubungan dengan penyakit jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronis, dan kanker paru. Karena itu, penggunaan teknologi memasak yang lebih bersih, ventilasi yang baik, serta rumah yang mendukung pertukaran udara dapat membantu mengurangi paparan.
Dan persoalannya tidak berhenti di rumah. Kita menghabiskan banyak waktu di ruang tertutup lain, seperti kelas, kantor, fasilitas kesehatan, dan pusat perbelanjaan. Semua memiliki udara yang kita hirup, sehingga indoor air quality juga menjadi bagian penting dari kesehatan lingkungan.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Menjaga kualitas udara dalam rumah tidak selalu berarti membeli alat mahal atau melakukan perubahan besar. Kita bisa mulai dari hal sederhana, seperti tidak merokok di dalam rumah, memastikan dapur memiliki ventilasi atau sistem pembuangan yang memadai, serta mencari dan memperbaiki sumber kelembapan ketika muncul jamur.
Produk rumah tangga yang berpotensi menghasilkan emisi juga sebaiknya digunakan sesuai petunjuk dan dengan ventilasi yang cukup. Ventilasi dapat membantu mengurangi penumpukan polutan ketika udara luar sedang baik. Namun, ketika udara luar sedang tercemar, masuknya udara dari luar justru perlu dikendalikan.
Penyaring udara dengan filter partikulat dapat menjadi tambahan dalam kondisi tertentu, tetapi bukan pengganti pengendalian sumber pencemar dan ventilasi yang baik. Pada akhirnya, tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua rumah. Yang terpenting adalah mengenali sumber pencemar dan memahami kondisi udara di rumah kita sendiri.
Rumah Sehat, Dimulai dari Udara
Perhatian terhadap kualitas udara dalam ruang sebenarnya sudah mulai masuk ke tingkat kebijakan di Indonesia. Kementerian Kesehatan bersama WHO mengembangkan National Indoor Air Quality Roadmap 2022–2030 sebagai acuan untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan terkait kualitas udara dalam ruang. Roadmap tersebut mencakup permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta fasilitas dan tempat umum.
Tantangannya adalah memastikan perhatian tersebut tidak berhenti sebagai dokumen kebijakan. Pengetahuan tentang kualitas udara juga perlu sampai ke masyarakat dan diterjemahkan menjadi kebiasaan yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, rumah yang sehat bukan hanya rumah yang bersih, rapi, dan nyaman untuk dilihat.
Kita mungkin tidak selalu bisa mengendalikan kualitas udara di luar rumah. Asap kendaraan, kebakaran hutan dan lahan, serta pencemaran dari berbagai aktivitas di sekitar kita tetap menjadi bagian dari lingkungan yang kita hadapi sehari-hari.
Namun, ketika berada di dalam rumah, masih ada hal-hal yang bisa kita lakukan. Mengenali sumber pencemar, memperhatikan sirkulasi udara, dan mengurangi paparan sebisa mungkin adalah langkah sederhana untuk membuat udara di dalam rumah lebih baik. Sebab rumah bukan hanya tempat untuk berlindung dari panas, hujan, atau udara di luar. Rumah juga seharusnya menjadi tempat di mana kita bisa bernapas dengan lebih baik.
