Pengembangbiakan Burung Paruh Bengkok, BRIN Jalin Kerja Sama dengan CV. Pasundan

Pranata Humas BRIN
Konten dari Pengguna
7 September 2022 11:30
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Esti Wisnawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Burung paruh bengkok dok. BRIN
zoom-in-whitePerbesar
Burung paruh bengkok dok. BRIN
ADVERTISEMENT
Burung paruh bengkok merupakan burung yang banyak diperjualbelikan baik di dalam negeri maupun luar negeri karena memiliki bulu yang indah dan dikenal sebagai burung yang pandai. Di Maluku Utara, termasuk Pulau Halmahera, Morotai, Bacan, Obi, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, merupakan rumah bagi sembilan spesies burung paruh bengkok yang ada di wilayah tersebut, tiga di antaranya merupakan spesies endemis.
ADVERTISEMENT
Pusat Riset Zoologi Terapan, Organisasi Riset (OR) Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama riset tentang “Pengembangbiakan Burung Paruh Bengkok Nektarivora (Marga Eos dan Trichoglossus)” dengan CV. Pasundan di Penangkaran Cibinong Science Center BRIN. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan langsung antara Kepala Pusat Riset (PR) Zoologi Terapan BRIN dengan Direktur CV. Pasundan di Cibinong, pada Kamis, 28 Juli yang lalu.
Siti Nuramaliati Prijono, sebagai penanggung jawab kerja sama, dan juga Peneliti Burung pada Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan pusat keragaman burung paruh bengkok. Ada sekitar 85 jenis burung paruh bengkok dan semua jenis sudah dilindungi.
Penelitian mengenai burung paruh bengkok masih jarang dilakukan.Tak heran informasi biologi tentang burung inipun masih sangat minim. Untuk itu perlu mengumpulkan informasi biologi mengenai burung-burung yang ada di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Perdagangan liar burung paruh bengkok
Burung ini cukup sulit didapatkan karena tidak dijual di pasaran. Burung ini merupakan satwa yang dilindungi dalam Peraturan Menteri LHK nomor 106 tahun 2018. Wajar bila kerap diburu orang, karena burung ini memiliki penampilan yang menggoda untuk dikoleksi. Untuk memenuhi pasar pemanenan burung paruh bengkok semata-mata masih dipasok dari populasi alam dan belum dari hasil suatu penangkaran. Apabila hal itu terus dilakukan, maka populasi burung ini di masa-masa yang akan datang akan menurun secara drastis bahkan punah.
Burung paruh bengkok terus mengalami eksploitasi berlebihan sampai sebelum 2018. Maka melalui regulasi tersebut, praktik perburuan dan perdagangannya tak lagi bebas dan dinyatakan ilegal, kecuali dilakukan oleh pihak konservasi
ADVERTISEMENT
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi perburuan dan perdagangan ilegal burung paruh bengkok. Hal yang paling utama adalah permintaan pasar dan peluangnya. Permintaan pasar burung paruh bengkok sangat besar dalam skala perdagangan nasional dan mancanegara. Sedangkan pada faktor peluang, para pedagang memanfaatkan celah untuk bertindak secara sembunyi-sembunyi.
Penangkapan burung paruh bengkok untuk diperdagangkan menjadi ancaman serius bagi kelestarian burung tersebut karena mereka juga mendapat ancaman dari perusakan habitat.
Rusaknya habitat merupakan ancaman nyata terhadap burung tersebut. Namun, perburuan untuk perdagangan ilegal tetap menjadi penyebab utama penurunan populasi.
Penangkaran dan Pengembangbiakan
Burung ini adalah burung liar, walaupun diupayakan untuk berkembang biak mereka masih sulit untuk beradaptasi di penangkaran. Burung paruh bengkok dari Indonesia memiliki kemampuan reproduksi 1-2 kali/tahun dengan jumlah 1-2 telur/peneluran. Sehingga lebih terjaga keberadaannya di pasaran, sedangkan jenis yang lain trennya cepat hilang. Karena itu pelaku pasar berlomba-lomba untuk mengembangkan burung paruh bengkok dengan metode yang paling baik
ADVERTISEMENT
Burung paruh bengkok terdiri dari tiga kelompok, yaitu pemakan biji, pemakan buah dan pemakan nektar. Melalui kerja sama BRIN dan CV. Pasundan akan mengembangbiakkan burung paruh bengkok nektarivora. Sumber pakan utamanya adalah nektar dan serbuk sari bunga. Selain itu variasi makanan lainnya yang dimakan adalah biji-bijian, buah, pucuk daun dan serangga. Burung ini membutuhkan ransum pakan tinggi karbohidrat dan rendah protein. Sumber karbohidrat berasal dari nektar, sedangkan sumber protein berasal dari serbuk sari dan serangga.
Informasi keragaman jenis burung paruh bengkok termasuk keragaman pakannya belum banyak diketahui oleh masyarakat. Sering masyarakat memberi pakan yang tidak tepat kepada burung peliharaannya, misal yang seharusnya pemakan nektar diberi biji.
“Selain itu masyarakat Indonesia lebih senang dengan burung berkicau. Minat pasar untuk ekspor sangat tinggi dan BRIN terlibat dalam penentuan untuk batas maksimum pemanfaatan dari penangkaran. Sehingga dalam memberikan rekomendasi dan masukkan tentunya harus mempunyai pengalaman agar bisa memberikan masukkan,” jelas Lilik.
ADVERTISEMENT
Guna mengantisipasi agar burung ini tidak sampai punah perlu diupayakan teknik konservasinya melalui cara-cara breeding baik melalui suatu kandang penangkaran (ex-situ) maupun di dalam habitat aslinya (in-situ).
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020