Cinta di Dua Arah: Ketika Setia Tak Lagi Jadi Pilihan

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Esti fani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perselingkuhan tidak lagi menjadi sesuatu yang tersembunyi di balik menara rumah tangga. Saat ini, setiap rasa sakit akibat pengkhianatan cinta dapat dengan mudah muncul ke depan umum, bahkan menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Beragam cerita tersaji di layarmuseorang istri yang menceritakan kesedihannya di TikTok, seorang suami yang mengungkapkan aib pasangan di status WhatsApp, atau bahkan pasangan yang harus muncul di depan umum untuk memberikan klarifikasi.
Namun, di balik seluruh drama yang terlihat, ada luka yang lebih dalam: hilangnya arti kesetiaan dalam sebuah hubungan. Pertanyaan besar muncul mengapa banyak orang sekarang memilih untuk menjalin cinta dengan cara yang tidak setia, bukan lagi setia pada satu pasangan?
Dahulu, perselingkuhan mungkin terlihat hanya sebagai hubungan fisik atau pertemuan yang disembunyikan. Saat ini, bentuknya jauh lebih rumit. Seseorang bisa terlibat dalam hubungan emosional lewat percakapan di media sosial, saling berbagi curahan hati, atau bahkan hanya memberikan perhatian yang tidak didapatkan dari pasangan.
Nyata bahwa hal ini dapat terjadi secara virtual, tanpa adanya sentuhan fisik, menunjukkan bahwa inti dari perselingkuhan tidak hanya tentang “perselingkuhan fisik,” tetapi juga “perselingkuhan emosional. ” Dan luka yang dihasilkan dari pengkhianatan hati sering kali lebih sulit untuk disembuhkan.
Setiap individu pasti memiliki alasan di balik tindakan mereka, meski terkadang menyakitkan bagi orang lain. Dalam banyak kasus, pelaku perselingkuhan merasa diabaikan, tidak dihargai, atau kurang mendapatkan dukungan emosional dari pasangannya. Ini bukanlah alasan yang bisa dibenarkan, melainkan sebuah cerminan bahwa komunikasi dan rasa empati dalam hubungan mulai memudar.
Ada pula faktor tekanan sosial. Media sosial memperlihatkan “hubungan yang sempurna” sehingga banyak orang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Ketika pasangan terasa membosankan atau tidak seindah dulu, beberapa orang mulai mencari pelarian, baik untuk mengisi kekosongan, maupun sebagai bentuk penentangan terhadap harapan kehidupan berumah tangga.
Bagi pihak yang terluka akibat perselingkuhan, dampak yang dirasakan bukan hanya bersifat emosional, tetapi juga psikologis. Rasa percaya yang hancur, harga diri yang menurun, dan trauma jangka panjang dapat mengubah cara seseorang memandang cinta dan hubungan. Beberapa bahkan menghadapi depresi, kehilangan gairah hidup, atau menjadi takut untuk mencintai lagi.
Di sisi lain, pelaku perselingkuhan juga sering kali terperangkap dalam rasa bersalah atau beban sosial yang besar, terutama jika kasus mereka menjadi viral. Dalam masyarakat yang cepat menghakimi lewat komentar dan sorotan dari netizen, baik pelaku maupun korban bisa menjadi sasaran empati atau cibiran.
Kesetiaan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Kesetiaan perlu dipelihara melalui kejujuran, komunikasi yang terbuka, dan saling memahami. Dalam hubungan yang sehat, masalah tidak disimpan atau dibiarkan mengendap, tetapi diatasi bersama. Setia tidak berarti tanpa cacat, tetapi memilih untuk tetap berjuang dan bertahan meskipun ada ujian.
Sayangnya, di zaman sekarang, banyak hubungan terbentuk tanpa pondasi yang kuat. Kita lebih mudah tergoda oleh perhatian baru, oleh “likes” dan “chat” dari orang lain, ketimbang memperbaiki masalah yang ada dalam hubungan kita sendiri.
Cinta merupakan sebuah berkah, tetapi kesetiaan merupakan keputusan yang disengaja. Ketika cinta berjalan dua arah, bukan lagi karena saling mencintai, melainkan karena tidak ingin memilih satu sama lain, maka hubungan tersebut telah kehilangan tujuannya. Di era yang serba cepat ini, mungkin lebih mudah untuk mencari seseorang yang baru daripada memperbaiki hubungan yang sudah ada. Namun satu hal yang jelas: cinta yang sejati tidak muncul dari pengkhianatan, dan luka akibat ketidaksetiaan jarang benar-benar pulih.
Hal ini menjadi fenomena perselingkuhan di zaman modern yang kini tidak lagi tersembunyi. Media sosial telah menjadi wadah terbuka untuk luka-luka emosional dalam hubungan, yang dulunya hanya disimpan di balik pintu rumah. Bentuk perselingkuhan juga tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga telah berkembang menjadi keterikatan emosional yang sama besarnya dalam hal rasa sakitnya. Penyebabnya meliputi berbagai hal, mulai dari merasa diabaikan hingga pengaruh tekanan dari lingkungan sosial. Di antara semua itu, arti kesetiaan perlahan-lahan mulai memudar. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya dibangun di atas kejujuran, komunikasi, dan kesediaan untuk saling memahami. Cinta tidak hanya perlu dirasakan ia juga harus diperjuangkan. Tanpa adanya kesetiaan, cinta akan kehilangan tujuan, dan yang tersisa hanyalah luka yang sulit disembuhkan.
Kasus-kasus perselingkuhan akhir-akhir ini menjadi kecemasan yang relevan dengan keadaan sosial saat ini. Saya sepakat bahwa perselingkuhan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga dengan masalah perasaan. Hal yang paling menyedihkan dari fenomena ini adalah bagaimana komunikasi yang merupakan dasar dari setiap hubungan sering kali menjadi yang pertama kali runtuh. Ketika seseorang lebih memilih untuk berbagi cerita dengan orang lain daripada dengan pasangannya, itu adalah awal dari jurang pengkhianatan. Dan di era digital ini, godaan untuk "melarikan diri sejenak" dari masalah dalam hubungan terasa semakin mudah diakses.
Saya juga merasa bahwa media sosial memiliki peran besar dalam menciptakan ekspektasi yang tidak realistis. Kita sering kali membandingkan diri dan hubungan kita dengan gambar-gambar yang tampak sempurna di internet, tanpa mengetahui kenyataan di baliknya. Akibatnya, rasa syukur terhadap pasangan kita sendiri menjadi hilang.
