Konten dari Pengguna

Ciki Ngebul: Ancaman Keamanan Pangan di Balik Efek Asap yang Viral

Esty Nur Baiti

Esty Nur Baiti

Saya mahasiswa aktif jurusan kimia UIN SGD Bandung.

·waktu baca 4 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Esty Nur Baiti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

credit: https://www.istockphoto.com/id/foto/chikibul-is-one-of-the-snacks-that-pours-liquid-nitrogen-to-get-the-effect-of-smoke-gm2166442810-586544093?searchscope=image%2Cfilm
zoom-in-whitePerbesar
credit: https://www.istockphoto.com/id/foto/chikibul-is-one-of-the-snacks-that-pours-liquid-nitrogen-to-get-the-effect-of-smoke-gm2166442810-586544093?searchscope=image%2Cfilm

Antara Tren Viral dan Ancaman Tersembunyi

Fenomena “ciki ngebul” atau dragon’s breath snack menjadi populer karena sensasi asap yang keluar dari mulut saat dikunyah. Ciki ngebul merupakan jajanan yang mengeluarkan asap putih saat dimakan, dibuat dari camilan berbahan tepung jagung atau pati yang diberi perasa, kemudian dicelupkan ke dalam nitrogen cair sebelum disajikan. Nitrogen cair ditempatkan dalam wadah logam khusus, lalu ciki dimasukkan selama beberapa detik hingga menghasilkan asap tebal akibat penguapan pada suhu −196°C. Penggunaan nitrogen cair ini bukan hanya untuk menciptakan sensasi visual “berasap”, tetapi juga membuat tekstur ciki lebih renyah dan memberikan efek dingin ekstrem saat dikonsumsi. Namun, menurut analisis risiko oleh Ali dkk. (2021) dalam Food Protection Trends, penggunaan nitrogen cair dalam produk pangan berpotensi menimbulkan cedera serius jika tidak dikelola dengan benar.

Mengapa Ciki Ngebul Berbahaya?

1. Risiko Luka Bakar Dingin (Cold Burn)

Nitrogen cair memiliki suhu sekitar −196 °C, dan kontak langsung dengan jaringan tubuh dapat menyebabkan luka bakar dingin atau frostbite. Beberapa laporan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk peringatan Dinas Kesehatan pada awal 2023, menekankan bahwa beberapa kasus luka pada anak, seperti bibir melepuh dan iritasi saluran pernapasan yang berkaitan dengan konsumsi makanan yang belum sepenuhnya menguap nitrogen cairnya. Temuan tersebut sejalan dengan penjelasan dari berbagai literatur medis bahwa paparan kriogenik menyebabkan kerusakan jaringan yang mirip dengan luka bakar termal, hanya berbeda dari sisi mekanismenya.

2. Bahaya Tekanan Gas dan Perforasi Lambung

Risiko yang lebih serius muncul ketika nitrogen cair tertelan sebelum menguap. Pollard dkk. (2013) melaporkan kasus perforasi lambung akibat konsumsi cairan nitrogen, di mana nitrogen yang menguap cepat di dalam lambung menyebabkan peningkatan tekanan mendadak. Temuan serupa juga dijelaskan oleh Kim (2018) dalam Clinical Endoscopy, yang mendokumentasikan kejadian perforasi lambung akibat konsumsi minuman yang mengandung nitrogen cair. Kedua studi ini menjadi bukti ilmiah kuat bahwa penggunaan nitrogen cair dalam makanan berisiko tinggi bila tidak terkontrol.

3. Potensi Paparan Senyawa Berbahaya dari Varian “Asap”

Walaupun sebagian besar ciki ngebul menggunakan nitrogen cair, beberapa produk dengan unsur “smoke effect” tambahan dapat menimbulkan paparan polutan pangan. Nizio dkk. (2023) dalam ulasan mereka mengenai teknologi pengasapan makanan menunjukkan bahwa proses pengasapan yang tidak dikontrol dapat menghasilkan PAH (polycyclic aromatic hydrocarbons), senyawa karsinogenik yang berbahaya jika terpapar dalam jangka panjang.

Bukti Lapangan dan Kasus di Indonesia

Sejumlah laporan dari fasilitas kesehatan dan media nasional mencatat insiden mulai dari mual, muntah, hingga luka bakar dingin pada anak setelah mengonsumsi ciki ngebul. Kementerian Kesehatan RI kemudian merilis imbauan resmi pada Januari 2023 yang meminta pedagang berhenti menyajikan makanan dengan nitrogen cair kepada anak-anak. Kasus-kasus ini mencerminkan temuan dalam literatur internasional bahwa risiko kesehatan terkait produk pangan kriogenik bukan sekadar isu teoretis, tetapi benar-benar terjadi di lapangan.

Rekomendasi Keamanan Pangan

  • Pastikan nitrogen cair benar-benar menguap sebelum makanan dikonsumsi. Ini merupakan rekomendasi standar dalam kajian risiko penggunaan nitrogen cair pada pangan (Ali dkk., 2021).

  • Anak-anak tidak boleh mengonsumsi produk dengan nitrogen cair tanpa pengawasan orang dewasa.

  • Pelaku usaha harus menggunakan nitrogen cair hanya dalam proses yang terkontrol, tidak untuk disajikan langsung pada makanan siap santap.

  • Segera cari pertolongan medis jika muncul nyeri perut hebat, muntah darah, atau kesulitan bernapas dengan gejala yang pernah dilaporkan pada kasus perforasi akibat nitrogen cair (Kim dkk., 2018; Pollard dkk., 2013).

Efek visual “berasap” dari ciki ngebul memang menarik, tetapi bukti ilmiah menunjukkan bahwa praktik ini membawa risiko besar terhadap kesehatan konsumen, terutama anak-anak. Dengan pemahaman ilmiah dari laporan kasus medis dan analisis risiko, serta pengalaman nyata di Indonesia, sudah sepantasnya tren ini dihentikan atau diatur secara ketat demi keselamatan publik.

Referensi

  • Ali, D., Farber, J. M., Kim, J., Parto, N., & Copes, R. (2021). A qualitative risk assessment of liquid nitrogen in foods and beverages. Food Protection Trends, 41(3), 293–304.

  • Pollard, J. S., Simpson, J. E., & Bukhari, M. I. (2013). A lethal cocktail: gastric perforation following liquid nitrogen ingestion. BMJ Case Reports, 2013, bcr-2012-007769. https://doi.org/10.1136/bcr-2012-007769

  • Kementerian Kesehatan RI. “Kemenkes Beberkan Bahaya Ciki Ngebul: Terbakar hingga Kerusakan Organ.” Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, 12 Januari 2023. https://dinkes.bandaacehkota.go.id/2023/01/12/kemenkes-beberkan-bahaya-ciki-ngebul-terbakar-hingga-kerusakan-organ/

  • Kim, D. W. (2018). Stomach perforation caused by ingesting liquid nitrogen: A case report on the effect of a dangerous snack. Clinical Endoscopy, 51(4), 381–383. https://doi.org/10.5946/ce.2017.178

  • Nizio, E., Czwartkowski, K., & Niedbała, G. (2023). Impact of smoking technology on the quality of food products: Absorption of polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) by food products during smoking. Sustainability, 15(24), 16890. https://doi.org/10.3390/su152416890