Kimia Hijau Melawan Karat: Solusi Ramah Lingkungan dari Dapur Kita

Saya mahasiswa aktif jurusan kimia UIN SGD Bandung.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Esty Nur Baiti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam dunia industri logam, korosi atau karat adalah musuh lama yang terus menantang. Tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi besar, tetapi juga berdampak pada keselamatan dan lingkungan. Selama ini, industri mengandalkan senyawa kimia sintetis seperti kromat dan nitrit untuk menghambat korosi. Sayangnya, bahan-bahan tersebut dikenal toksik dan berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.

Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, harapan muncul dari dapur kita sendiri yaitu jahe.
Bahan Alami sebagai Inhibitor Korosi
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak tumbuhan seperti jahe (Zingiber officinale) dapat digunakan sebagai inhibitor korosi alami. Kandungan senyawa aktif seperti gingerol, shogaol, dan flavonoid dalam jahe memiliki kemampuan untuk membentuk lapisan protektif pada permukaan logam, sehingga menghambat reaksi oksidasi.
Lebih menarik lagi, ekstrak jahe bersifat biodegradable dan non-toksik, menjadikannya solusi ideal untuk pendekatan green chemistry dalam pengendalian korosi.
Dari Laboratorium Menuju Industri
Dalam uji coba laboratorium pada baja karbon dalam larutan asam klorida (HCl), ekstrak jahe menunjukkan efisiensi inhibisi hingga 80% pada konsentrasi tertentu. Mekanisme kerja senyawa aktif ini melibatkan adsorpsi pada permukaan logam dan pembentukan lapisan pelindung yang mencegah kontak langsung antara logam dan agen korosif.
Langkah ini tidak hanya menurunkan laju korosi secara signifikan, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi penggunaan bahan kimia beracun di lingkungan industri.
Mengapa Ini Penting?
Korosi bukan sekadar masalah teknis tetapi juga persoalan lingkungan. Bahan kimia inhibitor konvensional dapat mencemari air dan tanah serta berdampak pada rantai makanan jika dibuang sembarangan. Dengan mengadopsi bahan alam sebagai alternatif, kita dapat mengurangi jejak karbon dan memperkuat komitmen terhadap praktik industri berkelanjutan.
Tak hanya jahe, berbagai tanaman lain seperti daun jambu biji, limbah teh, dan kulit pisang juga tengah dieksplorasi sebagai pilihan inhibitor korosi.
Solusi terhadap tantangan lingkungan tidak selalu harus rumit. Terkadang, jawabannya ada di kebun, di dapur, atau di sekitar kita. Melalui pendekatan kimia hijau, kita bisa menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jembatan menuju masa depan yang lebih bersih dan aman, tanpa harus mengorbankan efektivitas.
Referensi
• Rani, B. E. A., & Basu, B. B. J. (2012). Green inhibitors for corrosion protection of metals and alloys: An overview. International Journal of Corrosion, 2012, 1–15. https://doi.org/10.1155/2012/380217
• Sangeetha, M., Rajendran, S., Krishnaveni, A., & Kavipriya, K. (2011). Green corrosion inhibitors-an overview. Zastita Materijala, 52(1), 3–10.
• Umoren, S. A., & Ebenso, E. E. (2008). Studies of the corrosion inhibition of mild steel in acidic medium by Raphia hookeri gum exudate. Materials Chemistry and Physics, 111(2-3), 555–559. https://doi.org/10.1108/03699420810871020
• Verma, C., Ebenso, E. E., Quraishi, M. A. (2018). Ionic liquids as green and sustainable corrosion inhibitors for metals and alloys: An overview. Journal of Molecular Liquids, 272, 403–417. https://doi.org/10.1016/j.molliq.2017.02.111
