Konten dari Pengguna

Mengatasi Sikap 'Oknum' Dosen terhadap Kesehatan Mental dan Motivasi Mahasiswa

Esty Shofiyati Khasanatur Rizky

Esty Shofiyati Khasanatur Rizky

Mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Esty Shofiyati Khasanatur Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas (doc.pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas (doc.pribadi)

Dewasa ini, banyak kalangan masyarakat yang mulai memperhatikan kesehatan mental setiap individu. Tidak dapat dipungkiri, kesehatan mental bagi seseorang adalah suatu hal yang harus dijaga, karena akan memengaruhi setiap aktivitasnya sehari-hari. Tidak ada batasan usia dalam menjaga kewarasan mental bagi setiap manusia, termasuk mahasiswa. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang seringkali mengalami masalah mental, seperti stres dan depresi. Banyaknya tugas dan kegiatan membuat mahasiswa merasa kesulitan untuk membagi waktu dengan baik. Dan akhirnya motivasinya memudar lalu terjadi penurunan kualitas belajar.

Salah satu faktor dari stresnya mahasiswa adalah sikap dosen yang masih otoriter di zaman sekarang. Tentu saja tidak semua dosen bersikap seperti ini, namun pada realitanya masih banyak dosen ditemui dengan sikap kurang empati. 'Oknum' dosen yang bersikap seperti itu biasanya adalah dosen muda yang jiwa idealismenya masih menggebu-gebu. Dosen muda tersebut masih merasa 'superior' dalam kelas yang diajarnya karena jabatan baru yang diterimanya. Sikap 'superior' ini tentunya menjadi masalah yang beruntut yang melibatkan banyak pihak ke depannya, yang paling utama adalah mahasiswanya sendiri.

Banyak mahasiswa yang kegiatannya tidak hanya melakukan perkuliahan di kampus, namun juga sebagai aktivis, organisasi, pengabdian masyarakat, sampai part time. Dengan kegiatan yang beragam, tentunya fokus mahasiswa terpecah dan terbagi-bagi. Mahasiswa hanya berharap kegiatan perkuliahan lancar dengan aktif di kelas, mengerjakan tugas dan ujian serta berdiskusi dengan teman dan dosen, lalu melanjutkan kegiatan di luar kampus untuk menambah pengalaman. Namun di beberapa tempat, banyak dosen yang tidak mau mendengarkan keluhan dari mahasiswanya. Kasus seperti ini seringkali terjadi dengan dosen yang lebih muda, dosen yang senior biasanya malah memahami dan memaklumi bahwa berdiskusi adalah suatu hal yang wajar dalam kegiatan belajar mengajar, karena ditimbang lagi bahwa mahasiswa bukanlah anak kecil yang bisa diatur-atur. Sikap seperti ini termasuk sikap bijaksana yang sudah sepantasnya diambil sebagai langkah dosen yang menyandang gelar sebagai 'pengajar'.

Dosen dan Mahasiswa Sama-sama Manusia

Ada hal yang perlu diluruskan, bahwa dosen memang menjadi salah satu aspek terpenting dalam dunia pendidikan. Namun hal itu tidak berarti bahwa dosen dapat bersikap seenaknya terhadap mahasiswa. Mahasiswa juga seorang manusia yang sedang 'tumbuh' dan mencari jati dirinya. Mereka masih sangat rentan terhadap apa saja yang terjadi di usianya, tapi mereka tetap berusaha menyalakan semangatnya dalam menuntut ilmu, apalagi yang merantau. Hal itu sudah sepatutnya menjadi sesuatu yang patut diapresiasi.

Pada realitanya banyak 'oknum' dosen yang merasa bahwa dirinya berada di 'puncak piramida' dalam lingkungan kampus karena posisinya sebagai pengajar. Faktor tersebut dapat memicu sikap mereka yang otoriter dan berlaku seenaknya, seperti memberikan tugas yang rumit dan tidak mau menjawab ketika ada yang bertanya melalui pesan whatsapp dan email, lalu pada akhirnya yang disalahkan tetap mahasiswa karena tugasnya tidak sesuai. Sedangkan ketika ada mahasiswa yang bertanya di kelas malah disudutkan dengan pertanyaan yang mencerca. Hal itu akan membuat mahasiswa bingung, dan berpikir apapun langkah yang diambil akan tetap salah. Jika fenomena ini terus terjadi, maka motivasi mahasiswa untuk belajar juga akan menurun.

Sama-Sama Manusia, Sama-Sama Punya Batas

Dosen yang sibuk dengan penelitian dan rapat universitas, dan mahasiswa dengan tugas mata kuliah lain dan kegiatannya diluar kampus, kedua hal ini harus sama-sama dimengerti oleh kedua pihak. Dosen tidak perlu merasa bahwa kesibukannya lebih urgent dari mahasiswa, karena tugas utama dosen tetaplah mengajar. Sehingga tidak ada alasan bagi dosen untuk terus dipahami mahasiswanya. Mahasiswa juga harus sadar diri bahwa mereka kuliah bertujuan untuk belajar, tidak boleh berat sebelah antara kegiatan di dalam kampus maupun kegiatan di luar kampus.

Dosen dan mahasiswa, sama-sama manusia, punya kesibukan masing-masing, dan sama-sama punya batas. Hanya ada satu kunci untuk menghindari konflik yang sering terjadi, yaitu komunikasi dengan baik antara dosen dan mahasiswa. Dosen tidak perlu merasa bahwa keputusannya adalah mutlak dan tidak dapat dinegosiasi, karena setiap mahasiswa juga punya batasnya tersendiri. Mahasiswa juga hendaknya berinisiatif untuk mengajukan opsi yang mungkin dapat ditawarkan kepada dosen sehingga kedua pihak ini tidak perlu ada masalah yang berkepanjangan.

Saling Mengerti

Dosen yang baik adalah dosen yang membuat mahasiswa tenang. Tenang setelah mengerjakan tugas karena nilai cepat muncul, tenang saat mengalami kesulitan mahasiswa karena dapat bertanya dengan dosen, dan tenang ketika hendak melakukan negosiasi terkait tugas atau presensi dengan dosen. Begitu juga dengan mahasiswa, mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang tidak menunda-nunda mengerjakan tugas, mahasiswa yang santun terhadap dosen, dan mahasiswa yang punya inisiatif untuk mengajak diskusi dosen.

Jika dosen dan mahasiswa sadar dan melakukan yang terbaik akan perannya, maka mahasiswa tentunya tidak akan banyak mengalami gangguan mental seperti stres serta penurunan motivasi belajar. Seperti pepatah "Sayangi yang muda, hormati yang tua" yang artinya jika ingin disayang orang yang lebih tua baiknya kita menghormatinya, begitu juga sebaliknya jika ingin dihormati yang lebih tua baiknya kita menyayanginya. Kedua pihak ini hanya harus saling menghargai, salah satu pihak tidak perlu ada yang harus dirugikan apalagi di ranah pendidikan.