Tungku Mas: Cara Baru Warga Desa Kranggan Memusnahkan Sampah Rumah Tangga

Pelajar/Mahasiswa Universitas Negeri Malang S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari ETNA IYANA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Selama ini, kalau tumpukan sampah rumah tangga sudah mulai menggunung, banyak warga Desa Kranggan yang memilih cara paling praktis: dibakar begitu saja di halaman atau kebun. Cara ini memang cepat, tapi asapnya sering mengganggu tetangga dan tidak baik untuk kesehatan maupun udara di sekitar rumah. Kini, warga Dusun Sukorejo punya alternatif baru bernama Tungku Pemusnah Sampah Masyarakat, atau yang akrab disebut Tungku Mas.
Alat ini adalah hasil karya tim mahasiswa Universitas Negeri Malang yang sedang menjalankan program UM BBM (Belajar Bersama Masyarakat) di Desa Kranggan Dusun Sukorejo. Tungku Mas dirancang khusus supaya sampah rumah tangga bisa dimusnahkan dengan lebih rapi, lebih cepat, dan yang paling penting, asapnya jauh lebih sedikit dibandingkan bakar sampah biasa.
Bermula dari Keluhan Warga
Sebelum membangun Tungku Mas, tim mahasiswa lebih dulu berkeliling dusun, mengobrol dengan perangkat desa, dan mendengar langsung keluhan warga. Dari situ terlihat jelas bahwa Desa Kranggan belum punya fasilitas pengolahan sampah rumah tangga. Akibatnya, sampah menumpuk atau dibakar terbuka begitu saja, dan asapnya kerap membuat lingkungan sekitar rumah jadi kurang nyaman.
Jenis sampah yang paling sering dihasilkan warga pun sebenarnya tergolong mudah terbakar, seperti daun kering, sisa tanaman, kertas, kardus, dan plastik tipis. Melihat kondisi ini, tim mahasiswa berpikir bahwa yang dibutuhkan warga bukan alat yang rumit dan mahal, melainkan alat sederhana yang bisa langsung dipakai sehari-hari.
Mengenal Tungku Mas dan Cara Kerjanya
Tungku Mas dibuat dengan mengadopsi prinsip “rocket stove”, yaitu teknik pembakaran yang mengatur aliran udara secara alami sehingga api bisa menyala lebih stabil dan panas terkumpul lebih terarah. Bentuknya sederhana: ada ruang bakar di bagian bawah tempat sampah dimasukkan dan dibakar, lalu ada cerobong di bagian atas yang berfungsi mengarahkan asap ke atas, bukan menyebar ke sekeliling rumah.
Tungku ini dibangun menggunakan bata ringan (hebel) dan semen tahan api, sehingga konstruksinya kokoh dan mampu menahan panas dengan baik selama proses pembakaran berlangsung. Bahan-bahan ini juga relatif mudah didapat dan tidak memerlukan biaya besar, sehingga ke depannya alat serupa berpotensi ditiru atau dibangun sendiri oleh warga lain.
Diuji Coba, Hasilnya Menjanjikan
Setelah selesai dibangun, Tungku Mas tidak langsung dipakai warga begitu saja. Tim mahasiswa lebih dulu melakukan uji coba dengan membakar berbagai jenis sampah rumah tangga yang biasa dihasilkan warga. Hasilnya cukup memuaskan: api mudah menyala, proses pembakaran berlangsung stabil, dan sampah yang dibakar berubah menjadi abu tanpa membuat konstruksi tungku rusak.
Yang paling terasa perbedaannya adalah soal asap. Karena diarahkan lewat cerobong, asap yang keluar dari Tungku Mas terlihat jauh lebih sedikit dan lebih terarah dibandingkan kalau sampah dibakar terbuka di tanah. Aliran udara alami yang masuk lewat ruang bakar juga membuat api tetap menyala dengan baik selama proses pembakaran berlangsung.
Lebih dari Sekadar Alat Bakar Sampah
Bagi tim mahasiswa, Tungku Mas tidak dimaksudkan hanya sebagai alat teknis semata. Setelah proses pembuatan dan uji coba selesai, mereka juga mengadakan sosialisasi dan demonstrasi langsung kepada warga, supaya masyarakat tahu cara mengoperasikan tungku ini dengan benar dan aman.
Dalam kegiatan tersebut, warga diajak berdiskusi dan memberikan tanggapan langsung terhadap alat ini. Respons yang muncul cukup positif, banyak warga yang tertarik karena cara penggunaannya sederhana dan hasilnya langsung terlihat: sampah berkurang, asap tidak lagi mengganggu, dan lingkungan sekitar rumah terasa lebih bersih.
Harapannya, keberadaan Tungku Mas bisa mendorong warga Desa Kranggan untuk semakin peduli terhadap cara mengelola sampah rumah tangga masing-masing, tidak hanya di Desa Kranggan, tetapi juga desa-desa lain di Kabupaten Malang.
Harapan untuk Ke Depan
Tungku Mas masih berada di tahap awal penerapan, sehingga tim mahasiswa dan warga akan terus memantau dan mengevaluasi penggunaannya. Namun dari hasil uji coba dan sosialisasi yang sudah dilakukan, alat ini terbukti mampu bekerja dengan baik dan cukup mudah untuk digunakan sehari-hari.
Dengan bahan yang sederhana dan cara kerja yang mudah dipahami, Tungku Mas diharapkan bisa menjadi salah satu solusi warga Desa Kranggan dalam mengelola sampah rumah tangga secara lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan, sekaligus menjadi contoh nyata bahwa persoalan sampah desa bisa diselesaikan bersama-sama, dengan cara yang sederhana namun tepat guna.
Ditulis oleh Tim Mahasiswa UM BBM Desa Kranggan – Universitas Negeri Malang
Dusun Sukorejo, Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang
