Konten dari Pengguna

Dari Nol dan Takut Salah: Belajar Power BI Saat Magang yang Mengubah Segalanya

Eugenia Hendridyana

Eugenia Hendridyana

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eugenia Hendridyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu perasaan yang lebih berat dari sekadar tidak tahu, yaitu perasaan yang hadir ketika orang lain sudah mengharapkan sesuatu dari kamu, sementara kamu sendiri belum yakin bisa memberikannya.

Itulah yang saya rasakan di bulan pertama magang di divisi Learning & Development PT Sasa Inti. Dan saya tidak tahu bahwa perasaan itu akan membawa saya ke salah satu pencapaian yang paling saya banggakan dalam tiga bulan terakhir.

Tiga Bulan yang Tidak Saya Bayangkan

Sebelum magang, bayangan saya tentang korporat cukup konsisten: kaku, hierarkis, dan tidak banyak ruang untuk bernafas.

Ternyata saya salah.

Sebagai mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya yang baru pertama kali terjun ke dunia korporat, saya bergabung dalam Growth Internship Program (GIP) PT Sasa Inti dan disambut dengan hangat, bukan hanya basa-basi, tapi genuine. Di dalam program ini, terdapat berbagai kegiatan yang dirancang untuk membuat intern benar-benar merasa jadi bagian dari tim: mini training bulanan, sharing session, cooking class, hingga olahraga bareng setelah jam kantor.

Karena saya ditempatkan di tim Learning & Development, saya bahkan ikut terlibat langsung dalam penyusunan modul mini training bulanan itu. Kecil, tapi itu terasa berarti bagi saya.

Hal-hal seperti inilah yang pelan-pelan membuat saya merasa aman untuk bereksplorasi dan membentuk diri saya menjadi pribadi seperti apa kedepannya.

Cooking Class GIP 2026

Momen Keputusan

Di tengah-tengah masa magang, saya mendapat tugas yang cukup jelas: membuat dashboard untuk data training tim. Tapi tidak ada yang menentukan harus pakai apa, tools-nya terserah saya.

Di situlah saya berhenti sejenak dan berpikir.

Power BI tidak pernah ada di silabus kuliah saya. Saya belum pernah menyentuhnya, hanya bermodal kecil dengan pengambilan mata kuliah data science yang cukup untuk membuat saya tidak asing dengan logika di balik data. Justru itu yang membuat saya tertarik untuk mencoba Power BI, tools yang lebih aplikatif dan langsung bisa berdampak ke tim.

Apabila saya bisa menyelesaikan ini dengan Power BI, portofolio saya bertambah dengan skill yang relevan dan nyata. Tim saya terbantu dengan sistem yang lebih efisien. Dan saya membuktikan sesuatu ke diri saya sendiri, bahwa saya bisa belajar hal baru di lingkungan yang sesungguhnya, bukan hanya di kelas.

Kalkulasi itu yang akhirnya membuat saya memilih Power BI dan memilih untuk mulai.

Dari Nol, Benar-benar dari Nol

Dua bulan penuh saya belajar secara mandiri. YouTube, machine learning, trial and error yang kadang membuat frustrasi. Tidak ada yang mengajarkan langsung, saya yang mencari sendiri, mencoba sendiri, gagal sendiri, lalu mencoba lagi.

Yang paling berat bukan teknis Power BI-nya. Yang paling berat adalah mengelola ekspektasi diri sendiri. Saya selalu ingin all out, dan justru itu yang kadang membuat prosesnya terasa lebih menekan dari seharusnya. Standar saya untuk diri sendiri tidak pernah rendah, bahkan ketika saya sedang belajar hal baru.

Dan Kemudian Jadi

Dashboard itu akhirnya selesai. Data training yang sebelumnya direkap manual satu per satu kini bisa terbaca sekaligus dalam satu tampilan, siapa yang sudah training, berapa kali, modul apa saja.

Respons timnya di luar ekspektasi saya. Banyak yang tertarik, bahkan meminta untuk diajarkan. Saya dan tim menjadi inisiator dari sesuatu yang sebelumnya belum ada, bukan karena kami yang paling jago, tapi karena kami yang memilih untuk mulai.

GIP 2026 Photoshoot Session

Yang Saya Bawa Pulang

Tiga bulan ini mengajarkan saya bahwa keberanian tidak selalu datang dari rasa percaya diri yang penuh. Kadang ia datang dari kalkulasi yang jelas: ini worth it, ini berdampak, ini membawa saya ke tempat yang lebih baik

Jadi, saya mulai, meski belum yakin sepenuhnya.

Dan ternyata, itu sudah cukup.