Berita Diindikasikan Palsu Ketika Lebih Sosial... Benarkah Demikian?

no one...........
Tulisan dari Eunike tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agak sedikit disayangkan, ternyata menurut The Collins Dictionary, kata ‘fake news’ merupakan kata yang cukup populer tahun ini. Mengapa harus disayangkan? Ya, karena kata tersebut menjadi hal yang lumrah dan sudah biasa beredar di kalangan jurnalis, para akademisi, policymaker, seakan-akan peliknya kasus-kasus ‘fake news’ dianggap sebagai suatu masalah yang begitu sederhana.
Kata tersebut tidak lagi memiliki nilai baik kuantitas maupun kualitas untuk menjelaskan skala dari suatu masalah.Lebih parahnya lagi kita tak dapat menggunakan kata ‘fake news’ karena kata tersebut digunakan oleh para politikus di seluruh dunia sebagai senjata untuk melawan media atau pers serta menjadi sebuah alasan untuk melakukan pembatasan-pembatasan tertentu terhadap hak untuk berpendapat.
Lantas mengapa fake news sendiri bisa hadir di tengah-tengah kita dan menjadi booming dalam 1–2 tahun terakhir? Nampaknya ada 4 alasan kenapa manusia menciptakannya: alasan politik, alasan keuangan, alasan psikologis (untuk kepuasan pribadi) serta alasan sosial (menguatkan posisi sosial seseorang di dalam lingkungan atau komunitasnya).
Jika kita benar-benar serius untuk mengatasi masalah penyalahgunaan informasi, tentunya perlu ada solusi yang berbeda-beda sebagai bentuk penyelesaiannya, terutama fokus pada alasan sosial.
Media sosial memaksa kita untuk menjalani kehidupan secara terbuka, hidup layaknya sebuah panggung di mana kita setiap harinya harus bersandiwara pada pertunjukan yang kita ciptakan sendiri. Pada tahun 1956, Erving Goffman, seorang sosiolog dari Amerika menyampaikan sebuah konsep bahwa “hidup adalah sebuah panggung pertunjukan teater” pada bukunya The Presentation of Self in Everyday Life. Dan meski buku itu diterbitkan seabad lalu, tapi konsep tersebut terasa semakin relevan di era ini.
Rasanya semakin sulit untuk memiliki kehidupan yang benar-benar privat, hanya kita yang tahu. Ini bukan hanya soal semakin sulitnya melindungi data-data kita dari pemerintah atau perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook, tapi juga semakin hari terasa semakin sulit untuk melindungi diri dari setiap pergerakan yang kita lakukan di ranah online, melindungi diri dari minat atau ketertarikan kita sendiri (ya..karena terus terang saja, hal ini dimanfaatkan oleh pemerintah atau perusahaan teknologi raksasa untuk ‘menyerang’ kita kembali), serta yang paling mengkhawatirkan adalah melindungi diri kita sendiri dari konsumsi informasi yang diakses setiap hari.

Media sosial diciptakan agar kita secara terus-menerus dapat memberikan penilaian baik untuk orang lain maupun diri sendiri.
Tanpa disadari, manusia era digital “menyebar” diri mereka ke berbagai platform yang berbeda-beda, menampilkan ‘pertunjukan teater’ kepada publik dan keputusan-keputusan yang diambil didorong dari adanya suatu keinginan untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik di depan orang lain, entah karena memang seseorang tersebut adalah pribadi yang positif di kehidupan nyata atau justru ya dibuat-buat dan direkayasa supaya terlihat baik dan positif di ranah online. Manusia era digital menerima bahwa dirinya adalah bagian dari ‘pertunjukan teater’ tersebut. Sebut saja ketika berbelanja online, booking tiket pesawat secara online, menemukan teman kencan secara online serta order makanan, manusia sebetulnya sedang memainkan pertunjukan teater mereka sendiri. Sadar atau tidak, manusia menyerahkan dirinya pada sebuah kesepakatan di mana mereka tahu bahwa dengan melakukan ‘pertunjukan’ tersebut, ada data-data pribadi yang harus diberikan sebagai imbalan dari layanan yang sudah digunakan (dan gratis).
Manusia mau tak mau merelakan berbagai keputusan-keputusan hidupnya untuk ‘dijual’ dan dibagikan demi kepentingan bisnis yang dapat mempengaruhi orang lain untuk join ke suatu platform, terhubung serta melakukan transaksi-transaksi keuangan. Dorongan tersebut ternyata tidak hanya memiliki dampak di media sosial, tapi juga berdampak pada bagaimana manusia mengkonsumsi informasi dan berita. Sebelum media menjadi ‘lebih sosial’, hanya orang-orang terdekat kita dari keluarga dan teman yang tahu apa yang kita baca atau tonton dan kita dapat mengendalikan semua yang masuk dalam ranah privat.
Tapi berbeda halnya dengan keadaan yang terjadi saat ini, bagi kita yang mengkonsumsi informasi melalui media sosial, informasi-informasi yang kita klik, kita like, kita ikuti dapat dilihat oleh banyak orang (ya kecuali memang kita memilih pengaturan private pada akun kita ya, jadi orang-orang tertentu saja yang dapat mengaksesnya).
Konsumsi terhadap berita menjadi ‘sebuah pertunjukan’ yang tak hanya sekadar soal mencari informasi atau hiburan. Apa yang kita “like” atau follow menjadi bagian dari identitas diri yang kita bentuk di ranah online, menjadi sebuah penanda dari kelas sosial mana kita berasal, apa status ekonomi kita dan bagaimana pandangan politik kita. Ketika kita mencoba untuk berusaha mengerti mengapa manusia membagikan informasi yang manipulatif, mengada-ada dan tidak benar, kita perlu tahu bahwa ternyata setiap ‘share’ dan ‘retweet’ yang tercipta, memainkan peranan yang begitu besar dalam meneruskan informasi-informasi yang tidak akurat.
Dengan berbagi informasi, manusia memberikan tanda atau sinyal kepada orang lain di dalam lingkarannya (yang tentunya bisa meluas lagi) bahwa dia menyetujui pesan pada informasi tersebut. Atau jika memang tidak setuju pun, tetap ada kebutuhan dari manusia untuk dianggap penting, agar opininya diperhatikan oleh orang lain. Untuk lebih mudah mengerti akan hal ini, mungkin kita perlu melihat karya dari James Carey. Dia berargumen bahwa komunikasi adalah sebuah ‘model transmisi’, sebuah mekanisme bagaimana suatu pesan dikirimkan dari Pengirim A ke Penerima B. Menurutnya komunikasi harus dilihat sebagai suatu ritual jika kita ingin mengerti mengapa orang mencari informasi dan mengkonsumsinya.
Carey berpendapat bahwa “berita bukanlah sebuah informasi tapi sebuah drama, membaca koran bukan soal masalah mendapatkan informasi tapi lebih kepada bagaimana kita hadir dan berpartisipasi pada suatu pandangan tertentu. Ketika kita sadar bahwa ternyata ada banyak sekali solusi yang ditawarkan untuk mengatasi penyebaran fake news atau informasi yang tidak dapat dipastikan keakuratannya, semakin terlihat bahwa (melihat argumen James Carey di atas) fokus dalam pennyajian solusi tersebut adalah pada model transmisi, mekanisme bagaimana informasi disampaikan.
Berbagai ide, seperti menandai konten yang ramai diperdebatkan sebagai indikasi konten yang misleading, ditemukan karena konsumsi terhadap informasi dianggap sebagai sesuatu yang rasional. Jika kita benar-benar serius untuk memperlambat laju penyebaran konten-konten palsu/misleading, kita perlu mulai mengetahui apa alasan emosional dan sosial yang membentuk hubungan antara manusia dan sebuah informasi.

Ada begitu banyak diskusi yang beredar selama beberapa tahun terakhir tentang bagaimana kita perlu untuk sesekali keluar dari “filter bubble” (yang kita bentuk sendiri) dengan cara lebih banyak mengikuti informasi yang beragam di luar minat kita.
Tapi, bagaimana kita dapat melakukannya ketika tindakan tersebut dapat dilihat semua orang? Apakah kita perlu menjelaskan ke jaringan sosial kita mengapa kita like atau follow seorang tokoh di media sosial padahal orang lain jelas-jelas tahu pandangan politik kita berbeda dengan si tokoh tersebut?
Bagaimana dengan Twitter, di mana setiap kali kita like tweet seseorang, tweet tersebut bisa saja muncul pada feed salah satu teman pada jaringan kita, bagaimana kita menjelaskan bahwa like tweet itu bukan berarti saya mendukung dan setuju pada opini tertentu? Seorang pemikir asal Perancis di tahun 1960-an, Guy Debord berpendapat bahwa secara historikal, manusia dan informasi akan berevolusi mulai dari tahap manusia hanya mendapatkan informasi, manusia memiliki informasi tersebut, sampai manusia juga memiliki andil dalam menampilkan informasi tersebut.
Ketika arstitektur dari sebuah platform (dalam hal ini media sosial) tidak melulu menjadi akar dari setiap permasalahan yang menimbulkan lahirnya fake news, perlu disadari bahwa setiap fitur yang ada di dalamnya ikut menjadi alasan mengapa fake news lahir.
Dan ketika berbagai algoritma yang menjadi nyawa utama platform-platform ini digunakan untuk mengkapitalisasi emosi manusia, tapi solusi yang ditawarkan membutuhkan respon yang rasional, sayangnya mungkin kita belum akan melihat perubahan signifikan yang akan terjadi. Tulisan ini merupakan terjemahan dari Guardian Opinion berjudul "How did the news go ‘fake’? When the media went social"
