Laut Bercerita: Sebab Ada Nama Yang tak Boleh Hilang

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari eva camelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada cerita yang selesai ketika halaman terakhir ditutup. Namun, ada juga cerita yang justru terus hidup setelah bukunya selesai dibaca. Laut Bercerita karya Leila S. Chudori adalah salah satunya. Novel ini membawa pembaca menyelami kehidupan Biru Laut, mahasiswa yang tumbuh bersama kegelisahan terhadap keadaan di sekitarnya. Bersama Kawan kawannya, Laut memilih untuk bersuara dan bergerak. Bagi mereka, diam bukan satu-satunya cara untuk bertahan
Perjalanan Laut dan Kawan-kawannya kemudian membawa mereka pada penangkapan. Di titik itu, cerita tidak lagi hanya menjadi milik mereka yang pergi. Cerita berpindah kepada orang orang yang ditinggalkan: keluarga yang menunggu, sahabat yang mengingat, dan mereka yang harus belajar hidup bersama kehilangan yang tidak memiliki makam dan kepastian.
Leila S. Chudori menulis kehilangan dengan cara yang paling sunyi, tetapi justru karena kesunyian itulah ia terasa begitu keras.
Laut bukan hanya seorang aktivis dalam novel ini. Ia adalah seorang anak yang dicintai keluarganya, seorang kakak, seorang sahabat, dan seseorang yang memiliki mimpi tentang masa depan. Ada percakapan yang terputus, rencana yang tidak pernah selesai, dan seseorang yang seharusnya masih bisa pulang ke rumah
Kekuatan Laut Bercerita terletak pada kemampuannya membuat Sejarah terasa dekat. Sejarah tidak hadir sebagai sekumpulan tanggal atau nama yang harus dihafalkan. Ia hadir melalui kekuatan, tangisan, meja makan, surat, pelukan, dan tentunya penantian
Melalui pergantian sudut pandang, pembaca juga diajak melihat bahwa sebuah kehilangan tidak pernah hanya dimiliki oleh orang yang pergi. Mereka yang tinggal pun harus menjalani bentuk kehilangan versi mereka sendiri.
Dan mungkin di sinilah novel ini terasa semakin dekat dengan hari ini.
Sebab di luar halaman Laut Bercerita, ada mereka yang masih berdiri hingga detik ni untuk mengingat
Setiap Kamis, payung payung hitam menjadi symbol dari suara yang tidak ingin ditenggelamkan, Aksi Kamisan, yang telah berlangsung sejak 2007, menjadi salah satu ruang bagi penyitas, keluarga korban, dan Masyarakat untuk menyuarakan tuntutan terkait berbagai kasus pelanggaran HAM dan keadilan.
Mereka berdiri, bukan karena lupa bagaimana cara melanjutkan hidup, melainkan karena ada hal-hal yang belum selesai untuk dilupakan
Di tengah sibuknya kota, di antara lalu lalang manusia, mereka memilih berhenti sejenak, membawa payung hitam, membawa foto, dan menuntut keadilan.
Jika Laut Bercerita adalah suara dari halaman-halaman buku, maka Aksi Kamisan seperti suara yang dibawa ke jalan. Keduanya memiliki satu kesamaan yaitu menolak membiarkan waktu menghapus cerita tentang mereka yang hilang
Rambut memutih, anak-anak tumbuh, kota berubah, dan generasi berganti. Tetapi bagi keluarga yang masih yang masih menunggu jawaban, waktu tidak selalu berarti penyembuhan, ada luka yang tidak meminta dilupakan, ada nama yang tetap ingin disebut.
Namun, kisah mereka tidak hanya tentang kehilangan. Kita hidup di zaman yang berbeda. Ruang diskusi terasa lebih terbuka. Apa yang hari ini mungkin kita anggap biasa, pernah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan keberanian
Perjuangan itu pun tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Aksi Kamisan yang masih berlangsung hingga sekarang menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keadilan belum sepenuhnya selesai. Terlebih, kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu masih menjadi bagian dari ingatan dan tuntutan Masyarakat.
Di situlah Laut Bercerita terasa begitu dekat dengan kehidupan hari ini. Para aktivis yang hilang memang tidak sempat menyaksikan perubahan yang mereka harapkan, tetapi perjuangan mereka tidak menjadi sia-sia. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan untuk generasi setelahnya: keberanian untuk bersuara dan kesadaran bahwa kebebasan bukan sesuatu yang datang begitu saja.
Mungkin mereka tidak pulang kepada keluarga seperti yang diharapkan. Tetapi sebagian cita cita mereka telah menemukan jalannya. Dan mungkin, cara terbaik untuk mengenang mereka bukan hanya dengan meratapi kehilangan, melainkan dengan menjaga apa yang pernah mereka perjuangkan.
