Merawat Cinta Lintas Waktu: Resensi Film Sore: Istri dari Masa Depan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari eva camelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sore: Istri dari Masa Depan adalah film karya Yandy Laurens yang diadaptasi dari serial web dengan judul yang sama, tayang pada tahun 2017. Film ini menceritakan tentang seorang fotografer idealis bernama Jonathan yang secara tiba tiba didatangi Perempuan bernama Sore. Sore mengaku sebagai istrinya dari masa depan dan bertujuan mengubah kebiasaan hidup buruk Jonathan sebelum terlambat.
Meski memakai tema Time Loop film ini tidak terlalu berfokus pada hal-hal rumit seperti teori waktu atau aksi. Yang lebih ditonjolkan adalah hubungan dua orang dan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana jika orang yang menyayangi kita menegur kebiasaan buruk kita, namun kita menganggap remeh hal tersebut? Inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari film: Sore: Istri dari Masa Depan

Jonathan tinggal di Kroasia dan bekerja sebagai fotografer. Ia idealis dalam berkarya yang tidak peduli pada kesehatannya. Suatu hari Sore muncul dan mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Jonathan tentu saja bingung dan kesal merupakan reaksi yang wajar. Ia menceritakan kejadian itu kepada temannya, Carlo. Sore lalu mengikuti kegiatan Jonathan sehari-hari untuk membuktikan bahwa ia tidak berbohong.
Sore membawa kabar bahwa Jonathan akan meninggal muda karena gaya hidupnya. Karena itu ia berusaha membimbing Jonathan supaya hidup lebih sehat dan bermakna. Namun mengubah masa depan ternyata membawa akibat yang tidak terduga dan menguji hubungan mereka berdua.
Kecantikan Visual yang Sunyi
Visual adalah salah satu bagian terbaik dari film ini. Warna hangat mendominasi banyak adegan sehingga suasananya terasa dekat. Hal ini dapat dilihat pada pengambilan video di jalan jalan kecil kota Groznjan, Kroasia, tempat Jonathan tinggal. Suasana kotanya cenderung tenang cocok dengan kepribadian Jonathan yang cenderung menyendiri.
Warna berubah ketika cerita berpindah ke Firlandia. Sutradara mengatakan adegan di hamparan es direkam tanpa layer hijau dan tanpa gambar buatan AI. Kru bahkan tinggal 14 hari di atas kapal pemecah es dengan suhu sekitar minus 20 derajat Celsius. Hasil warna dingin yang didapatkan berbeda jelas dengan warna hangat yang ada di Kroasia. Perbedaan ini membantu penonton merasakan perbedaan suasana tanpa harus memberikan dialog di dalamnya.
Meniti Alur Waktu
Film ini dibagi menjadi 3 Bagian, yang memudahkan penonton untuk memahami alur ceritanya. Bagian pertama memperkenalkan Jonathan. Bagian kedua menunjukkan usaha Sore mempertahankan dan memperjuangkan cintanya. Bagian ketiga membahas soal merelakan karena Jonathan diperkenalkan lebih dulu, sikap curiganya terhadap Sore terasa masuk akal.
Perjalanan waktu yang digunakan di film ini merupakan time loop atau pengulangan waktu, dengan alur yang sedikit bercabang. Aturannya tidak dijelaskan secara detail. Mungkinh hal ini cukup menganggu bagi penonton yang analitis tetapi karena focus film ini terdapat pada hubungan Jonathan dan Sore, hal ini cukup bisa diterima
Jonathan digambarkan keras kepala dan tidak mau dinasihati. Sore sebaliknya, ia tenang namun penuh perhitungan. Ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus mendorong Jonathan agar menjadi versi terbaik dari dirinya. Hal ini dibuktikan dari perubahan watak Jonatahan yang tadinya tertutup menjadi cenderung terbuka, ini juga menjadi inti perkembangan karakter Jonathan di film ini. Carlo, teman Jonathan yang diperankan Goran Bogdan, membantu membuat kehidupan Jonathan di Kroasia terasa nyata.
Dion Wiyoko memerankan Jonathan seperti di versi serial webnya, sedangkan Sheila Dara menggantikan Tika Bravani sebagai Sore. Chemistry mereka terasa alami karena hubungan keduanya tumbuh pelan pelan, dalam setiap ekspresi, gestur, dan juga dialog menunjukkan cinta yang tumbuh secara bertahap secara tenang dan aman, selain itu Dion Wiyoko dan Sheila Dara sempat beberapa kali bermain film bersama sebagai pasangan. Hal ini juga menjadi salah satu faktor chemistry mereka bisa sangat terlihat alami.
Perpindahan antara masa kini dan masa lalu terasa halus sehingga tidak membingungkan bagi penonton. Kehadiran Sore pun sering terasa layaknya mimpi. Temponya pelan memberi dampak baik untuk setiap adegan emosional karena memberi penonton waktu untuk meresapi apa yang terjadi. Namun hal ini sedikit rumit karena akan memberi kesan film terasa agak lama atau boring
Musik yang Menyembah Luka
Soundtrack utama: “Terbuang Dalam Waktu” oleh Barasuara menjadi jiwa dari keseluruhan film. Lagu ini tak hanya menjadi pengiring, lagu ini juga menjadi narasi alternatif pada tokoh yang tak sempat menyuarakan isi hatinya. Tak perlu diragukan bahwa Barasuara memang ahlinya dalam menciptakan lagu dengan lirik yang reflektif emosional, sehingga ikut membangun pondasi dari film ini terasa lebih kuat dan nyata.
Sore: Cinta, Waktu, dan Kesempatan
Pesan utama film ini adalah tentang penerimaan dan kesempatan kedua. Yandy Laurens menyebut idenya berasal dari pemikirannya tentang pernikahan, yaitu saling mencintai tanpa menghakimi dan tetap memberi ruang untuk bertumbuh. Untuk menyampaikan bahwa waktu adalah sesuatu yang amat berharga dan perlu dimanfaatkan sebaik mungkin, Yandy Laurens membuat Sore mimisan berkali-kali dan dikejar oleh waktu yang ingin mengambilnya dalam bentuk aurora berwarna merah darah di langit hitam. Bahkan ia tak diberi izin untuk mengucapkan lebih dari kalimat “Hai, aku Sore. Istri kamu selamanya.”
Pada akhirnya, film Sore: Istri dari Masa Depan menggambarkan rasa cinta yang begitu besar dan tanpa syarat dari Sore untuk Jonathan. Sore hanya ingin Jonathan hidup lebih baik dan hidup bersamanya lebih dari sekedar lima tahun yang mereka miliki, meskipun artinya Sore harus menjalani lingkaran waktu ribuan kali. Cinta membuat seseorang dapat melakukan apapun demi orang yang ia cintai, meskipun artinya dia harus mengulang hidup ribuan kali. Sore melakukannya hanya karena orang itu pantas dan tentunya karena cinta
Selain itu, Sore: Istri dari Masa Depan juga mewakili alam yang senantiasa mengingatkan, sementara Jonathan adalah kita (manusia) yang keras kepala, mengabaikan peringatan, dan terjebak dalam kebiasaan yang menghancurkan. Alam seperti sore, tak pernah lelah untuk kembali, menemani, dan memperbaiki.
Melalui film ini, kita bisa memaknai bahwa cinta, waktu, dan kesempatan memiliki arti yang jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan. Ada banyak hal dalam film ini yang membuat kita ikut berpikir tentang bagaimana kita menghargai orang orang yang ada di hidup kita.
