Konten dari Pengguna

Krisis Minyak Goreng dan Dampak pada Industri kuliner di Indonesia

Eva Yunizar
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala
13 Mei 2024 8:32 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Eva Yunizar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://setkab.go.id/hari-ini-pemerintah-mulai-berlakukan-kebijakan-minyak-goreng-rp14-000-per-liter/
zoom-in-whitePerbesar
https://setkab.go.id/hari-ini-pemerintah-mulai-berlakukan-kebijakan-minyak-goreng-rp14-000-per-liter/
ADVERTISEMENT
Minyak goreng merupakan salah satu bagian dari Sembilan Bahan Pokok (SEMBAKO) multiguna yang menyangkut kesejahteraan masyarakat. Hal ini menjadikan minyak goreng sebagai salah satu yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar, Indonesia saat ini tengah menikmati tren kenaikan harga minyak sawit di pasar domestik. Sayangnya, pesatnya perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia tidak dibarengi dengan transparansi otoritas dan tata kelola yang lemah.
ADVERTISEMENT
Kenaikan harga minyak goreng yang terjadi saat ini sangat mempengaruhi daya beli masyarakat dan sangat berdampak pada perekonomian masyarakat. Berbagai cara telah dilakukan pemerintah untuk menurunkan harga minyak goreng, mulai dari mengeluarkan regulasi hingga subsidi minyak goreng. Namun, kebijakan-kebijakan tersebut belum mampu menurunkan harga minyak goreng.
Pada tahun 2022, Indonesia yang menduduki peringkat kedua sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia mengalami fenomena kelangkaan minyak goreng. Hal ini diawali dengan kenaikan harga minyak goreng yang melebihi HET (Harga Eceran Tertinggi). Menteri Perdagangan mengatakan bahwa kelangkaan minyak goreng terjadi karena adanya mafia yang bermain kotor dengan mengalokasikan minyak bersubsidi ke minyak industri. Hal ini mengakibatkan berkurangnya ketersediaan minyak goreng di masyarakat.
ADVERTISEMENT
Kelangkaan minyak goreng menjadi isu krusial bagi pemerintah, karena menurut Sinurat dan Alamsyah (2016), minyak goreng merupakan bahan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Sehingga kelangkaan minyak goreng dan melonjaknya harga minyak goreng dapat memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Fenomena kelangkaan dan kenaikan minyak goreng dapat disebabkan oleh tingginya permintaan dan menurunnya pasokan. Penurunan pasokan terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah terganggunya rantai pasok, seperti masalah dalam distribusi atau pengangkutan minyak goreng yang seharusnya terdistribusi secara merata ke seluruh wilayah Indonesia. Namun selain itu keterbatasan bahan baku juga menyebabkan penurunan pasokan, keterbatasan bahan baku disebabkan oleh kenaikan harga CPO (Crude Palm Oil). Dampak dari kenaikan harga CPO tersebut menyebabkan para produsen minyak goreng lebih memilih untuk mengekspor produknya ke luar negeri karena melihat potensi keuntungan yang lebih besar. Dengan demikian, hasil ekspor komoditas CPO nasional yang sangat besar pada tahun 2021 juga berdampak pada semakin menipisnya stok bahan baku produksi minyak goreng pada tahun 2022.
ADVERTISEMENT
Selain bagi masyarakat, krisis minyak goreng juga dapat berdampak signifikan pada industri kuliner di Indonesia. Sebagai bahan penting dalam banyak masakan Indonesia, kenaikan harga minyak goreng dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi bagi para pengusaha kuliner. Hal ini dapat berakibat pada kenaikan harga makanan yang dijual, yang pada akhirnya dapat menurunkan daya beli konsumen.
Menurut saya, krisis minyak goreng memiliki dampak yang signifikan terhadap industri kuliner di Indonesia. Minyak goreng merupakan bahan penting dalam proses memasak berbagai jenis makanan, baik di rumah tangga maupun di restoran dan warung makan. Kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng dapat menyebabkan masalah dalam rantai pasokan makanan dan mengganggu aktivitas bisnis di sektor kuliner.
Pertama, krisis minyak goreng dapat menyebabkan kenaikan harga makanan yang digoreng, seperti gorengan, keripik, dan makanan berminyak lainnya. Hal ini dapat berdampak pada daya beli konsumen, karena harga makanan yang lebih tinggi dapat membuat masyarakat sulit untuk membeli atau mengurangi konsumsi makanan tersebut.
ADVERTISEMENT
Kedua, kelangkaan minyak goreng juga dapat menghambat aktivitas bisnis di industri kuliner. Banyak restoran, warung makan, dan pedagang makanan yang menggunakan minyak goreng dalam jumlah besar setiap harinya. Jika pasokan minyak goreng terbatas, mereka mungkin akan mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan pelanggan dan menjaga kualitas makanan yang diproduksi.
Selain itu, krisis minyak goreng juga dapat mendorong pelaku usaha kuliner untuk mencari alternatif pengganti minyak goreng, seperti menggunakan minyak jelantah atau minyak lain yang lebih murah. Namun, penggunaan minyak yang tidak memenuhi syarat atau tidak sehat dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan konsumen dan citra industri kuliner secara keseluruhan.
Dalam menghadapi krisis minyak goreng, penting bagi pemerintah, produsen minyak goreng, dan pelaku usaha kuliner untuk bekerja sama mencari solusi yang dapat mengatasi masalah ini. Langkah-langkah seperti meningkatkan produksi minyak goreng, mengendalikan harga, dan mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan minyak goreng yang sehat dapat membantu mengurangi dampak negatif dari krisis ini terhadap industri kuliner di Indonesia.
ADVERTISEMENT
sumber:
Kurniawan, R. R. (2022). tata kelola perusahaan minyak goreng di Indonesia: studi literatur fenomena kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng di Indonesia.
Bukit, A. N., Hasanah, U., Na’im, K., & Elyani, E. (2022). Kenaikan Harga Minyak Goreng Dalam Perspektif Hukum Persaingan Usaha Dan Ekonomi. Jurnal Justisia: Jurnal Ilmu Hukum, Perundang-Undangan Dan Pranata Sosial, 7(1), 61-82.
https://journal.uns.ac.id/Souvereignty/article/view/220