Konten dari Pengguna

Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan BTI Menuju Indonesia Emas 2045

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hamry Gusman Zakaria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. Wawasan Kebangsaan. Sumber: Pixabay / Padasuka
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Wawasan Kebangsaan. Sumber: Pixabay / Padasuka

Empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, lahir bukan dari ruang kosong, melainkan dari pergumulan panjang para pendiri bangsa. Pancasila adalah kristalisasi nilai luhur Nusantara yang dirumuskan 1 Juni 1945 sebagai falsafah hidup. UUD 1945 disepakati 18 Agustus 1945 sebagai konstitusi yang mengikat cita-cita kemerdekaan ke dalam sistem hukum. NKRI diproklamasikan 17 Agustus 1945 sebagai pilihan final bentuk negara kesatuan untuk merajut 17.000 pulau dan 1.340 suku bangsa. Bhinneka Tunggal Ika diresmikan sebagai semboyan negara untuk menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman. Secara ilmiah, keempatnya berfungsi sebagai "social glue" atau perekat sosial. Riset James Fearon dari Stanford University menunjukkan negara yang memiliki konsensus nilai dan konstitusi yang kuat memiliki kohesi sosial 3 kali lebih tinggi dan risiko konflik horizontal 40% lebih rendah. Di Indonesia, 4 konsensus ini telah 80 tahun teruji menjaga keutuhan bangsa di tengah gempuran ideologi transnasional, disintegrasi, dan polarisasi politik.

Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi dengan PDB di atas 7.000 miliar USD dan indeks pembangunan manusia di atas 0,8. Namun parameter itu tidak cukup jika hanya diukur dengan angka ekonomi. Visi 2045 yang dirumuskan Bappenas memiliki 4 pilar: Pembangunan Manusia dan Penguasaan IPTEK; Ekonomi Berkelanjutan; Pemerataan Pembangunan; serta Ketahanan Nasional dan Tata Kelola Pemerintahan. Jika dibedah, keempat pilar itu tidak akan tercapai tanpa fondasi 4 konsensus dasar bangsa. Tanpa Pancasila, pembangunan manusia akan kehilangan arah moral. Tanpa UUD 1945, tata kelola akan rapuh oleh kepentingan oligarki. Tanpa NKRI, pemerataan akan terpecah oleh sentimen kedaerahan. Tanpa Bhinneka Tunggal Ika, inovasi dan kreativitas akan mati karena intoleransi. Dengan kata lain, Indonesia Emas 2045 adalah proyeksi teknokratis, sedangkan 4 konsensus adalah prasyarat sosiologis dan ideologis agar proyeksi itu tidak runtuh.

Implementasi 4 konsensus saat ini menghadapi tantangan serius di seluruh lini Ipoleksosbudhankam. Di bidang Politik, polarisasi identitas politik pada Pemilu 2024 menunjukkan melemahnya pengamalan Bhinneka Tunggal Ika. Di bidang Ekonomi, ketimpangan Gini Rasio yang masih di atas 0,38 dan kemiskinan berdasarkan standar $6.85 USD per hari untuk negara berpendapatan menengah atas mencapai 64,2% atau sekitar 180,8 juta jiwa menurut World Bank Juli 2026, menunjukkan UUD 1945 pasal 33 tentang keadilan sosial belum sepenuhnya dijalankan. Di bidang Sosial, data Komnas PA 2021-2023 mencatat 37.000 kasus kekerasan pada anak dan Densus 88 Anti Teror Mabes Polri mencatat adanya pelajar setingkat SMP dan SMA yang terindikasi terpapar konten kekerasan dan radikalisme melalui komunitas daring, mengindikasikan erosi nilai Pancasila sila 2 dan 5. Di bidang Budaya, banjir konten asing dan budaya instan menggerus jati diri bangsa. Di bidang Hankam, disinformasi, judi online, dan narkoba menjadi ancaman non-tradisional yang menyerang ideologi. Akar masalahnya sama: 4 konsensus diajarkan sebagai hafalan, bukan dipraktikkan sebagai budaya kebijakan publik.

Diperlukan Roadmap Nasional Pengamalan 4 Konsensus 2025-2045 dengan pendekatan multihelix. Di bidang Politik dan Hukum: penguatan Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Konstitusi 4 jam/minggu sejak PAUD-SD, serta uji materi kebijakan daerah terhadap 4 konsensus. Di bidang Ekonomi: implementasi ekonomi Pancasila melalui koperasi, UMKM, dan BUMN sebagai soko guru, dengan target penurunan kemiskinan 0% pada 2040. Di bidang Sosial dan Budaya: program "Sekolah Laboratorium Pancasila" sebagai ekstrakurikuler dan gerakan "Kampung Bhinneka" di 10.000 desa/kelurahan. Di bidang Hankam: literasi digital kebangsaan dan deradikalisasi berbasis komunitas untuk menangkal konten kekerasan dan radikalisme daring. Setiap kementerian wajib memiliki IKPA - Indikator Kinerja Pengamalan 4 Konsensus yang diukur BPS dan dilaporkan ke Presiden setiap tahun. Tanpa peta jalan yang terukur, 4 konsensus akan tetap menjadi slogan.

Para pendiri bangsa telah mewasiatkan pentingnya 4 konsensus. Soekarno menyebut Pancasila sebagai "Philosofische Grondslag" atau fondasi filosofis negara. Mohammad Hatta menegaskan UUD 1945 adalah benteng demokrasi ekonomi kerakyatan. BJ Habibie pernah berpesan: "NKRI harga mati, karena hanya dengan persatuan kita bisa bersaing." Gus Dur mengajarkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah praktik toleransi aktif, bukan pasif. Dari dunia, Nelson Mandela berkata: "No one is born hating another person because of the color of his skin... People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love." Ini persis semangat Bhinneka. Lee Kuan Yew mengakui kunci majunya Singapura adalah konstitusi yang ditaati dan multikulturalisme yang dikelola. Pesan moralnya jelas: merawat 4 konsensus bukan tugas negara saja, tetapi tugas setiap warga. Jika kita ingin Indonesia Emas 2045, maka mulai hari ini setiap kebijakan, setiap kata di media sosial, dan setiap tindakan di sekolah harus diuji: apakah ini menguatkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka?

Mengapa harus sejak dini? Karena karakter dan identitas kebangsaan terbentuk 80% pada usia 0-12 tahun. Jika anak SD lebih hafal algoritma TikTok daripada hafal Pancasila, maka 20 tahun lagi kita akan punya generasi yang cerdas secara teknologi tetapi miskin secara ideologi. Data Densus 88 tentang pelajar yang terpapar radikalisme daring dan data judi online pada anak di bawah 10 tahun adalah bukti bahwa ruang kosong nilai akan diisi oleh ideologi lain. Internalisasi 4 konsensus harus dimulai dari keluarga, diperkuat sekolah, dan dicontohkan pemimpin. Pemerintah harus berani menunda obsesi mata pelajaran coding di SD, dan mendahulukan obsesi pendidikan karakter kebangsaan. Karena sehebat apapun AI, ia tidak akan bisa menggantikan manusia yang ber-Pancasila.

Indonesia Emas 2045 bukan hadiah yang jatuh dari langit. Ia adalah hasil dari konsistensi kita merawat 4 konsensus dasar bangsa hari ini. Tantangan Ipoleksosbudhankam ke depan akan semakin kompleks: AI, krisis iklim, perang proksi, dan disintegrasi informasi. Satu-satunya jangkar yang bisa menahan kapal besar Indonesia agar tidak terombang-ambing adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Jika keempatnya hidup dalam dada 280 juta rakyat Indonesia, maka target 2045 bukan sekadar mimpi. Ia akan menjadi kenyataan. Sebaliknya, jika kita abai, maka 2045 hanya akan menjadi angka di atas kertas. Pilihan ada di tangan kita: merawat konsensus, atau kehilangan Indonesia.