Konten dari Pengguna

Tawuran Remaja Marak, Apa yang Kurang dari Pendidikan Kita?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hamry Gusman Zakaria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tinju di SMPN 28 Jakarta Pusat sebagai upaya pencegahan tawuran pelajar. (ANTARA/Hafidz Mubarak A)
zoom-in-whitePerbesar
Siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tinju di SMPN 28 Jakarta Pusat sebagai upaya pencegahan tawuran pelajar. (ANTARA/Hafidz Mubarak A)

Tawuran Remaja di Jabodetabek Kembali Marak

Sejak awal 2023 hingga Juni 2026, tawuran remaja di Jabodetabek seperti tak pernah selesai. Data Polda Metro Jaya mencatat, sepanjang 2023 terjadi 201 kasus tawuran, 2024 naik menjadi 234 kasus, dan Januari–Juni 2026 sudah mencapai 76 kasus. Secara nasional, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 312 kasus tawuran pelajar pada 2023 dan 341 kasus pada 2024. Penyebabnya berulang, mulai dari senggolan di jalan, ejek-ejekan di media sosial, hingga perebutan gengsi antarsekolah. Yang lebih mengkhawatirkan, data BNN menyebutkan 23,1 persen remaja yang terlibat tawuran di Jabodetabek terindikasi mengonsumsi alkohol, sedangkan 14,7 persen pernah mencoba narkoba jenis sabu dan pil ekstasi. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kemenkes 2023 juga menunjukkan 12,5 persen remaja usia 15–19 tahun di DKI pernah mengkonsumsi minuman beralkohol. Angka ini menjadi alarm bahwa tawuran bukan lagi sekadar persoalan kenakalan remaja, tetapi sudah bersinggungan dengan penyalahgunaan zat dan persoalan pendidikan karakter.

Peta kantong tawuran di Jabodetabek pun sudah terbentuk. Di Jakarta, wilayah rawan ada di Jakarta Timur: Duren Sawit, Cipayung, dan Pasar Rebo, serta Jakarta Pusat: Senen dan Menteng. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menyebut dalam rilis Juli 2026: "Tawuran paling sering terjadi di jam pulang sekolah dan di titik pertemuan antar sekolah. Akses mudah ke miras dan provokasi medsos jadi pemicunya." Di Bekasi, Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Dani Hamdani menyebut daerah rawan: Bantar Gebang, Jatiasih, dan Rawalumbu. Di Bogor, Bupati Bogor Rudy Susmanto menyoroti tawuran pelajar di Cibinong, Citeureup, dan Gunung Putri yang dipicu geng motor dan balap liar. Sementara Wali Kota Depok Supian Suri, dan Wali Kota Tangerang Sachrudin, sama-sama menyebut faktor utama adalah lemahnya kontrol orang tua, kurangnya kegiatan positif, dan pengaruh media sosial. Polanya sama: sekolah beda wilayah bertemu di satu titik, lalu ego dan provokasi daring memperkeruh.

Mengapa Tawuran Pelajar Terus Terjadi?

Mengurai benang kusut ini harus dimulai dari hulu: keluarga, sekolah, dan lingkungan. Pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Yuli Kurniawan, menyatakan: "Tawuran adalah gejala gagalnya pendidikan karakter. Kita terlalu fokus pada nilai akademik, tapi lupa menanamkan empati, kontrol diri, dan nasionalisme." Dari luar negeri, mantan Presiden Uruguay, Jose Mujica, pernah berpesan: "Pendidikan terbaik bukan yang mengisi kepala, tapi yang membentuk hati agar tidak saling menyakiti." Senada, Direktur UNESCO untuk Pendidikan, Stefania Giannini, menegaskan: "Kekerasan antarremaja tumbuh di ruang yang kosong dari nilai dan partisipasi. Sekolah harus jadi tempat paling aman untuk berbeda." Jika semua pihak saling menyalahkan, lingkaran ini tidak akan putus. Pemda harus menyediakan ruang publik dan kegiatan, Polisi menindak pengedar miras dan senjata tajam, Tokoh Agama dan Masyarakat menjadi teladan, Swasta membuka magang untuk remaja, dan Media tidak menyiarkan tawuran sebagai tontonan.

Maka diperlukan 5 solusi pencegahan yang komprehensif. Pertama, Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila. Ini bisa diwujudkan lewat "Sekolah Laboratorium Pancasila". Model ini sudah diterapkan di 13 SMA/SMK di DKI Jakarta dan di 2 SMP di Kabupaten Seluma, Bengkulu. Manfaatnya: siswa belajar musyawarah, gotong royong, dan penyelesaian konflik melalui simulasi dan proyek kebangsaan. Kepala SMPN 28 Jakarta Pusat, Ujang Supriatna, yang menerapkan SLP sejak 2023-2025, bersaksi: "Tawuran pelajar yang melibatkan siswa kami 0. Alias tidak ada lagi masalah tawuran, karena SLP benar-benar kami terapkan dengan detail dan menyeluruh. Mereka, murid-murid, bangga menjadi bagian dari SLP."

Kedua, Patroli Jam Rawan dan Sekolah Aman. Pemda + Polisi + RT/RW membuat posko di titik rawan jam 14.00–17.00.

Ketiga, Ruang Kreatif Gratis untuk Remaja. Pemkot harus menambah RPTRA, lapangan, dan sanggar seni agar energi remaja tersalurkan.

Keempat, Literasi Digital dan Anti-Miras/Narkoba. Dinas Kesehatan dan BNN masuk ke sekolah untuk edukasi bahaya alkohol dan narkoba. Data menunjukkan 70% pemicu tawuran berawal dari komentar di media sosial.

Kelima, Penguatan Peran Orang Tua. Sekolah wajib mengadakan "Sekolah Orang Tua" tiap 3 bulan sekali untuk membangun komunikasi.

Pesan untuk guru: Anda bukan hanya pengajar, tapi pembentuk peradaban. Tanamkan satu nilai tiap hari: menghargai perbedaan. Pesan untuk orang tua: Luangkan 15 menit untuk bertanya "hari ini di sekolah bagaimana?". Kehadiran lebih penting dari materi. Pesan untuk murid: Hebat itu bukan yang menang tawuran, tapi yang berani melerai dan mengajak damai. Ingat, masa depan bangsa ada di tangan kalian.

Kita sedang menuju Indonesia Emas 2045. Visi itu menuntut bonus demografi 2030 harus menjadi "bonus kualitas", bukan "bom waktu". Negara tidak akan kuat jika generasi mudanya saling melukai. Jakarta sebagai etalase Indonesia harus menjadi contoh bagaimana 300+ suku hidup rukun. Jika remaja Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang damai, maka Indonesia damai.

Tawuran adalah cermin. Cermin bahwa ada yang kurang dari pendidikan kita: pendidikan hati. Mari kita perbaiki bersama. Mulai dari rumah, sekolah, dan satu aksi kecil: memilih damai. Karena Indonesia besar bukan karena kuat berkelahi, tapi karena kuat bersatu.