Konten dari Pengguna

Mural dan Grafiti: Sebuah Karya Seni

Evelyn Adisa

Evelyn Adisa

Diplomat - Peserta Sesdilu 78

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Evelyn Adisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

East Side Gallery, Berlin. Sumber: pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
East Side Gallery, Berlin. Sumber: pribadi.

Pagi itu, pukul 8 di Rainbow Street, kota Amman. Aplikasi cuaca menunjukkan suhu 9 derajat Celsius. Angin berhembus lembut, membuat saya merapatkan jaket dan menyelipkan tangan ke dalam saku. Saat melangkah di trotoar berbatu, sudut mata saya menangkap semburat warna yang kontras dengan dinding kusam di gang kecil. Saya berhenti, terpaku pada deretan mural yang menghiasi tembok sempit itu. Hal pertama yang muncul di benak saya: setiap kota seharusnya memiliki lebih banyak seni mural dan grafiti yang menghiasi jalanannya, menghidupkan ruang publik dengan warna dan makna.

Seni Mural di Amman, Yordania. Sumber: pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Seni Mural di Amman, Yordania. Sumber: pribadi.

Meskipun sering dianggap serupa, mural dan grafiti memiliki perbedaan mendasar. Mural biasanya berupa lukisan besar dengan pesan sosial atau estetika, sementara grafiti sering kali dibuat secara spontan, mengggunakan tulisan atau simbol khas. Keduanya memiliki nilai artistik yang tinggi dan berfungsi sebagai medium komunikasi publik.

Pentingnya mural dan grafiti tidak dapat diabaikan. Seni jalanan ini bukan sekadar coretan di dinding, namun merupakan bentuk komunikasi visual yang dapat mencerminkan budaya, sejarah, dan isu-isu sosial. Para seniman mural dan grafiti menggunakan dinding sebagai kanvas untuk mengekspresikan diri, menyuarakan opini, membagikan identitas, serta keyakinan mereka.

Seni Mural di Praha. Sumber: pribadi.

Dengan warna dan simbol yang mencolok, mural dan grafiti mampu menghidupkan ruang publik dan menambah daya tarik wisata. Beberapa kota besar dunia seperti Berlin, New York, dan Milan telah lama mengakui potensi seni jalanan ini dengan memberikan ruang bagi para seniman. Kawasan seperti East Side Gallery di Berlin, Bushwick di New York, atau Ortica di Milan menjadi contoh bagaimana mural dan grafiti dapat memperkaya lanskap kota.

Seni Mural di Milan. Sumber: pribadi.

Di Indonesia, seni mural dan grafiti sudah mulai berkembang. Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta memiliki karya seni jalanan yang menarik perhatian. Beberapa mural bahkan digunakan sebagai media kampanye sosial, menyuarakan isu-isu penting seperti lingkungan dan hak asasi manusia.

Sayangnya, ruang bagi seniman mural dan grafiti masih terbatas. Pemerintah seharusnya lebih terbuka dengan menyediakan lebih banyak area legal untuk seni jalanan. Dengan regulasi yang tepat, seni mural dan grafiti dapat menjadi bagian dari identitas kota, menjadi warisan budaya yang memperkaya lingkungan urban, serta memberikan inspirasi bagi generasi mendatang.