Konten dari Pengguna

Waktunya Milenials ‘Berani Ekspor’ Komoditas Pertanian Indonesia

Evi Sri Rezeki

Evi Sri Rezeki

Penulis yang kalau lagi nulis harus ditemani kopi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Evi Sri Rezeki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika melakukan riset untuk keperluan novel saya yang mengangkat mengenai kopi, saya mendatangi beberapa perkebunan. Di sanalah saya banyak bertemu para petani. Melihat kondisi langsung alam dan para petaninya. Bisa dibilang, saya begitu bersyukur dengan keadaan tanah Indonesia. Betapa berbagai varian tumbuhan berkembang dengan subur dan memiliki kualitas tinggi. Hasil bumi, termasuk kopi melimpah ruah.

Saya bersama hasil bumi Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Saya bersama hasil bumi Indonesia

Ketertarikan saya pada hasil pangan Indonesia membuat saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai distribusinya. Beruntung sekali, 30 Juni 2019 lalu saya bisa mengikuti acara talkshow bertajuk AgriTalk #BeraniEkspor Komoditas Pertanian Indonesia yang diselenggarakan Kumparan dengan pembicara Pak Ali Jamil, Ph.D (Kepala Badan Karantina Pertanian) dan Edison Tobing VP of Finance TaniHub.

Sebetulnya saya masih asing dengan Badan Karantina Pertanian, apa sih tugas-tugasnya? Dalam paparannya, Pak Ali menjelaskan sedikit mengenai ini. Jadi, tugas dan fungsi Badan Karantina Pertanian menurut UU Nomor 19 Tahun 1992 adalah:

  • Dari luar negeri: Melindungi dari ancaman masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan/tumbuhan dari dan ke luar wilayah NKRI.

  • Antar area dalam wilayah NKRI: Melindungi dari ancaman masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan/tumbuhan antar area dalam wilayah NKRI.

  • Akselerasi ekspor: Sebagai trade facilitator tools dalam mendorong ekspor produk pertanian Indonesia.

Sedangkan untuk prosedur pengiriman antar wilayah NKRI bisa kamu lihat di gambar di bawah ini:

Prosedur pengiriman antar wilayah NKRI

Berikut prosedur pengiriman impor dan ekspor:

Prosedur pengiriman impor dan ekspor

Pak Ali mengatakan ada 5 kebijakan strategi Kementan meningkatkan ekspor komoditas pertanian:

  1. Meningkatkan volume ekspor

  2. Menambah ragam komoditas ekspor

  3. Mendorong pertumbuhan eksportir baru

  4. Menambah negara mitra dagang

  5. Mendorong ekspor komoditas pertanian dalam bentuk jadi. Diimbau agar produk-produk yang diekspor bukan lagi bahan mentah. Tapi yang sudah minimal setengah jadi sehingga memiliki nilai atau value yang lebih tinggi. Misalnya kopi, bukan lagi biji kopi green bean, tapi kopi yang sudah diolah.

Pada akhir sesi, Pak Ali mengajak para milenial aktif melaksanakan akselerasi ekspor komoditas pertanian Indonesia. Masih banyak komoditi hasil bumi Indonesia yang dapat diekspor ke luar negeri untuk memberi makan penduduk dunia.

Pak Ali sedang menjelaskan mengenai fungsi Badan Karantina Pertanian

Pembicara kedua, Pak Edison ngasih pandangan dari sisi para petani. Katanya, meskipun potensi pertanian sangat besar, saat ini para milenial makin jarang yang ingin terjun ke dunia pertanian. Sehingga usia petani rata-rata berkisar 40 tahun ke atas dengan tingkat pendidikan yang belum tinggi. Mungkin, para milenial menganggap profesi petani kurang keren. Tampaknya perlu digalakan kampanye yang membentuk imej bahwa profesi petani selain sangat terhormat juga keren. Kampanye ini bisa menggunakan berbagai media yang disampaikan dengan menghibur namun pesannya tersampaikan, seperti komik, video, animasi dan lainnya. Semuanya dapat disosialisasikan melalui media social yang tentunya menjangkau para milenials.

Memang ada beberapa masalah yang dihadapi petani, seperti:

  1. Teknologi yang dipakai

  2. Masih berurusan dengan tengkulak

  3. Sulit mendapat funding

  4. Regenerasi

  5. Kurang modal

  6. Masih banyak yang belum punya lahan

Untuk mendorong kemajuan pertanian, muncullah TaniHub yang merupakan aplikasi yang mengakomodasi kebutuhan petani dengan konsumen produk pertanian. Sehingga para petani tidak lagi merasa bingung memasarkan produknya, ini juga memotong jalur biasa yang memakai jasa para tengkulak.

Pak Edison menceritakan mengenai kondisi para petani

TaniHub mencoba memberi solusi pada para petani melingkupi hal-hal berikut:

  1. Membuka pasar

  2. Memberi funding. Selama ini petani sulit mendapat funding karena keterbatasan administrasi dan lainnya.

  3. Informasi kebutuhan market. Misalnya, informasi buah-buahan apa yang diperlukan oleh masyarakat.

Pemasaran melalui aplikasi ini memang sedang digandrungi masyarakat. Biasanya produk dikirimkan langsung ke rumah-rumah, sehingga terasa sangat praktis. Selain jangkauannya pemasarannya menjadi kian luas.

Para peserta AgriTalk menyimak dengan serius

Semoga kerja sama antara para petani, pemerintah, dan perkembangan teknologi menjadikan industri pertanian Indonesia terus maju dengan mewujudkan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas, sehingga menyejahterakan semua pihak.

Salah satu hasil industri pertanian Indonesia yang dipamerkan di AgriTalk