Konten dari Pengguna

Fenomena Flexing di Kalangan Anak Muda

Ewia Putri

Ewia Putri

Seorang pimpinan lembaga PKBM kerinci dan juga anggota LHKP Muhammadiyah jambi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ewia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa Itu Flexing?

Flexing adalah praktik memamerkan kekayaan material, prestasi, atau gaya hidup mewah di platform seperti Instagram, Twitter, atau TikTok. Ini melibatkan berbagi foto atau video yang menampilkan barang-barang mewah, perjalanan mewah, atau pencapaian pribadi yang mengesankan. Tujuan utamanya adalah mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain dalam bentuk komentar, like, atau follow.

Mengapa Anak Muda Terlibat dalam Flexing?

Ada beberapa alasan mengapa anak muda terlibat dalam fenomena ini. Pertama, media sosial telah menciptakan tekanan untuk mencapai popularitas dan pengakuan. Flexing memberi mereka cara untuk merasa diperhatikan dan dianggap sukses oleh sesama pengguna media sosial. Kedua, budaya konsumen yang didorong oleh citra dan merek membuat mereka merasa perlu memamerkan apa yang mereka miliki. Ketiga, persaingan untuk mendapatkan endorsement dan sponsor dari merek juga mendorong anak muda untuk terus memamerkan diri.

Dampak Positif dan Negatif

Flexing memiliki dampak positif dan negatif. Dari sisi positif, ini bisa menjadi motivasi bagi beberapa individu untuk mengejar tujuan mereka dengan lebih keras. Bagi yang membagikan pencapaian pribadi mereka, ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Namun, dampak negatifnya adalah terkadang ini menciptakan tekanan psikologis dan finansial pada individu yang merasa perlu untuk terus bersaing dalam pameran kekayaan. Selain itu, ini juga bisa menciptakan citra yang tidak realistis tentang kesuksesan dan kebahagiaan.

Mengatasi Fenomena Flexing

Penting bagi anak muda untuk memiliki pemahaman yang seimbang tentang flexing. Mereka harus belajar untuk menilai nilai diri mereka tidak hanya dari jumlah like atau komentar di media sosial, tetapi dari pencapaian nyata dan kualitas hubungan interpersonal mereka. Orang tua dan pendidik juga dapat memainkan peran penting dalam membantu anak muda memahami dampak dari flexing dan bagaimana mengelolanya dengan bijak.

Fenomena flexing di kalangan anak muda adalah refleksi dari perubahan budaya dalam era digital. Sementara dapat memberikan dorongan motivasi, ini juga harus dikelola dengan bijak agar tidak merusak kesejahteraan psikologis dan finansial generasi muda.

Identitas yang sejati, tak hanya di like dan komentar,

Di dalam diri kita, ada kebijaksanaan yang tak ternilai.

Jangan biarkan diri terjebak dalam pameran yang hampa,

Temukan dirimu, di sana terdapat kebahagiaan sejati. - Ewia Ejha Putri

Sumber : Dokumen Pribadi Ewia Ejha Putri