Fenomenologi Sunyi

Seorang pimpinan lembaga PKBM kerinci dan juga anggota LHKP Muhammadiyah jambi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ewia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lewat pukul sebelas malam, dunia seperti menahan napas. Orang-orang meletakkan gawai mereka. Ada yang merebahkan badan yang penat sehabis bekerja seharian. Ada yang duduk diam, membiarkan malam mengambil alih. Jeda, dulu, adalah sesuatu yang wajar. Sunyi adalah teman lama yang tak pernah benar-benar pergi. Ada buku. Kadang musik. Cukup untuk mengisi kesendirian, cukup untuk membawa orang masuk ke dalam mimpi, sebelum bangun dan menghadapi hari berikutnya.
Aku pernah jadi bagian dari keramaian itu. Dulu, aku suka sekali memotret — mengabadikan diri di hampir setiap momen, mengajak teman ke taman atau kafe hanya untuk berfoto. Lalu banyak hal terjadi, dan pelan-pelan minat itu pudar. Sekarang aku justru menyukai privasi. Senang rasanya ketika orang tidak tahu aku yang sekarang, tidak tahu apa yang sedang kukerjakan. Itu mahal harganya, ternyata. Aku belajar bahwa cinta yang sungguhan sering tidak butuh saksi — sebuah percakapan panjang tanpa gawai, sebuah momen hangat yang tak sempat difoto, terasa lebih nyata daripada seribu unggahan yang sengaja dirancang untuk dilihat orang lain. Ketika semua orang sibuk mendokumentasikan hidupnya di media sosial, aku memilih diam saja. Tidak mengunggah bukan berarti tidak bergerak. Tidak memamerkan bukan berarti tidak hidup. Dan tidak mempertontonkan, kurasa, bukan berarti tidak mencintai.
Begitulah masa kecilku dulu. Jeda dan sunyi bukan barang mewah, mereka bagian dari keseharian. Bosan selalu punya kesempatan untuk datang — dan justru di situlah ruang untuk berpikir terbuka. Hari yang sudah lewat bisa ditimbang lagi. Kesalahan bisa dibaca ulang. Rencana esok lahir dari pikiran yang jernih, bukan yang terburu-buru. Jeda memberi ruang untuk berpikir dalam. Sunyi, entah bagaimana, selalu melahirkan gagasan baru.
Yang hilang dari hidup kita sekarang bukan sekadar waktu luang. Yang hilang adalah jeda itu sendiri — dan ini, menurutku, persoalan yang jarang benar-benar dibicarakan. Dunia sekarang tidak mengenal jeda. Sunyi jadi barang langka, kalah oleh kesibukan digital yang tidak pernah berhenti. Alih-alih diam, kita tenggelam dalam tontonan media sosial yang kadang justru merusak. Semuanya serba dua puluh empat jam. Tak ada lagi jeda yang menyegarkan, tak ada lagi bosan yang biasanya melahirkan sesuatu baru. Di 2026 ini, kita bahkan tidak sanggup lagi menutup hari.
Dan akibatnya terasa ke mana-mana. Perhatian kita memendek — sulit bagi kita sekarang untuk duduk dengan satu hal saja dan benar-benar menyelaminya. Kita melompat, dari satu layar ke layar lain, tanpa jeda. Ketika perhatian memendek, pikiran ikut menipis, dan kemampuan menganalisis merosot. Di ekonomi, utang jadi jawaban untuk segala masalah — keputusan yang lahir dari pikiran yang tidak sempat berpikir panjang. Di politik, orang-orang dungu naik ke kursi kekuasaan, karena kita lebih suka pidato kosong daripada argumen yang berat, lebih suka uang cepat daripada kesejahteraan yang bertahan lama. Di Indonesia, dan di banyak negeri lain, rezim yang gemar retorika terus bermunculan, sementara substansi ditinggalkan.
Di tengah semua itu, aku sering bertanya pada diri sendiri: jangan-jangan bukan dunia ini yang jadi panggung sandiwara, tapi kita — sekarang, hari ini — sedang dimainkan dalam drama yang disutradarai segelintir penguasa. Jangan-jangan kita cuma eksperimen mereka, digerakkan tanpa sadar, sementara kita pikir sedang membuat pilihan sendiri. Entahlah. Shakespeare mungkin sudah menjawabnya, jauh sebelum dunia seramai sekarang: “All the world's a stage, and all the men and women merely players; they have their exits and their entrances.” Dunia adalah panggung, katanya, dan kita cuma pemain yang keluar-masuk sesuai giliran. Bedanya, kita bahkan sudah tidak sempat lagi bertanya siapa dalangnya, atau eksperimen apa yang sedang dijalankan atas diri kita.
Kita, dalam banyak hal, sedang berjalan mundur ke semacam zaman kegelapan baru. Kecerdasan buatan mulai menggerus seni di berbagai bidang. Mesin sekarang lebih “pintar” dari kita untuk urusan teknis, sementara kedalaman berpikir kita justru menyusut. Indonesia, yang kulihat sendiri di depan mata, makin terasa seperti negeri yang kering — penuh kemunafikan yang dipertontonkan di ruang publik.
Semua ini terjadi karena kita lupa caranya menutup hari. Kita tenggelam dalam keramaian yang menipu, tidak lagi sanggup menikmati bosan, karena terus dirangsang oleh tontonan yang seolah tidak pernah selesai. Barangkali, sebelum kita bisa membenahi ekonomi yang bersandar pada utang, memilih pemimpin yang tidak lagi dungu, atau mencari tahu siapa yang sebenarnya mengatur panggung ini, kita perlu mulai dari sesuatu yang jauh lebih kecil: mematikan gawai, membiarkan diri bosan sebentar saja, dan mencintai tanpa perlu ada yang menyaksikan. Tahun ini, bersama seluruh dunia, aku rindu menutup hari.
