Konten dari Pengguna

Melepas, Mengalir, Menjadi

Ewia Putri

Ewia Putri

Seorang pimpinan lembaga PKBM kerinci dan juga anggota LHKP Muhammadiyah jambi

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ewia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi awan mendung. Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi awan mendung. Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Siang ini, langit di atas kotaku berselimut mendung tipis. Tapi justru di bawah langit yang kelabu itulah, sesuatu dalam dada saya berdenyut — seperti percikan kecil yang lama tertidur, kini terbangun perlahan.

Ada sebuah pemikiran lama yang kembali menyapa.

Sekitar sepuluh tahun lalu, saya pertama kali berkenalan dengan filsafat — bukan karena bangku kuliah membawa saya ke sana, melainkan karena ada sesuatu dalam diri yang haus, yang mencari, yang ingin mengerti mengapa hidup terasa seberat ini. Filsafat hadir bukan sebagai pelajaran, melainkan sebagai teman bicara di malam-malam yang sunyi.

Di sanalah saya berjumpa dengan para pemikir Stoa — mereka yang hidup ribuan tahun lalu di tanah Yunani, namun seolah bicara langsung ke dalam dada saya.

Saya tumbuh dalam keadaan yang tidak saya pilih.

Di usia lima setengah tahun, dunia yang saya kenal retak. Ayah dan ibu berpisah. Setahun kemudian, ibu menikah lagi. Dan saya — seorang anak kecil yang belum sempat mengerti apa itu kehilangan — tiba-tiba harus belajar hidup di dalam susunan keluarga yang baru, dengan peran yang belum pernah diajarkan siapapun kepada saya.

Tidak ada yang mengajari saya cara menjadi kuat. Keadaanlah gurunya.

Perlahan, tanpa saya sadari, saya membentuk diri menjadi perempuan yang harus bisa segalanya — karena tidak ada pilihan lain. Bukan karena saya menginginkannya. Tapi karena hidup tidak memberi ruang untuk saya lemah.

Dan di sinilah Stoa berbicara — dengan tenang, tanpa belas kasih yang berlebihan, namun penuh kebenaran yang menggetarkan.

Dikotomi kontrol. Itulah yang pertama kali memberi saya kelegaan.

Bahwa ada hal-hal yang berada sepenuhnya dalam genggaman kita — cara kita berpikir, cara kita merespons, tafsir yang kita pilih atas setiap kejadian. Dan ada hal-hal yang jauh di luar jangkauan kita — keputusan orang tua, susunan keluarga, luka yang datang sebelum kita cukup umur untuk memilih.

Saya tidak bisa memilih untuk tidak kehilangan. Tapi saya bisa memilih bagaimana saya berdiri setelah kehilangan itu.

Gautama, lebih dari dua ribu lima ratus tahun lalu, pernah berkata bahwa pencerahan sejati adalah kelegaan yang sempurna — seperti seseorang yang akhirnya menaruh ke tanah semua beban yang selama ini dipikul. Bukan karena beban itu hilang. Tapi karena ia sadar, beban itu tidak harus selamanya ia bawa sendiri.

Saya terlalu lama percaya bahwa saya harus kuat sendirian. Bahwa meminta bantuan berarti lemah. Bahwa menangis berarti kalah.

Tapi Stoa mengajarkan sesuatu yang berbeda: bukan soal tidak merasakan, melainkan soal tidak dikuasai oleh perasaan itu.

Kelegaan bukan berarti tidak peduli. Kelegaan adalah ketika kita berhenti berharap orang lain berubah sesuai keinginan kita. Berhenti berharap keadaan masa lalu bisa diputar ulang. Berhenti memaksa hidup mengikuti skenario yang kita tulis dalam imajinasi.

Sebaliknya — kita mulai menata cara berpikir dan cara bertindak kita, dengan penuh kesadaran.

Pada titik yang paling dalam dari perjalanan ini, saya menemukan sesuatu yang awalnya sulit saya terima:

Segalanya kosong. Segalanya mengalir.

Tidak ada yang benar-benar tetap. Tidak ada yang bisa digenggam selamanya — sekeras apapun kita mencengkram. Seperti pasir yang lolos di sela-sela jari. Seperti angin yang berlalu saat kita mengejarnya.

Termasuk rasa sakit itu. Termasuk luka masa kecil itu. Termasuk semua versi diri saya yang terlalu keras mencoba membuktikan sesuatu kepada dunia.

Semuanya mengalir. Dan pada titik itu — saya pun mulai belajar untuk melepas.

Melepas bukan berarti menyerah.

Melepas adalah tindakan paling berani yang pernah saya lakukan — lebih berani dari bertahan dalam keadaan yang menyakitkan, lebih berani dari berpura-pura baik-baik saja. Melepas berarti membiarkan segala sesuatu terjadi di dalam kesempurnaannya sendiri, tanpa saya paksa menjadi sesuatu yang lain.

Melepas tidak membutuhkan usaha yang luar biasa. Ia hanya membutuhkan kesediaan.

Kesediaan untuk mengakui: ada hal yang memang bukan untuk saya kendalikan. Ada luka yang tidak saya ciptakan, tapi harus saya sembuhkan. Ada jalan yang tidak saya pilih, tapi harus saya jalani — dan justru dari sanalah, saya tumbuh menjadi diri yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Kini saya mengerti, bahwa ada dua lapis kenyataan yang saling berdampingan.

Kenyataan relatif — segala yang dibentuk oleh manusia dan waktu: keluarga yang berubah, peran yang bergeser, harapan yang tak selalu terpenuhi, dunia yang terus bergerak tanpa menunggu kita siap. Kenyataan ini perlu ditata dengan akal budi yang jernih dan nurani yang peka. Jika diabaikan, ia bisa menghancurkan. Jika disikapi dengan bijak, ia bisa menjadi tanah tempat kita berakar lebih dalam.

Dan di balik itu semua — ada kenyataan yang lebih dalam, yang tak bergerak: kesadaran yang kosong dan tak terbatas. Inilah inti dari siapa kita sesungguhnya, jauh di bawah semua peran yang kita sandang, semua luka yang kita simpan, semua topeng yang kita kenakan agar terlihat kuat.

Menyentuh kedalaman itu berarti menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.

Buah dari kelegaan adalah kejernihan.

Dan dari kejernihan itulah saya belajar bertindak — bukan dari rasa takut, bukan dari tekanan untuk membuktikan diri, bukan dari luka yang belum sembuh. Melainkan dari tempat yang tenang, yang sadar, yang utuh.

Sampai di sini bukan perjalanan yang ringan. Ada hari-hari di mana memilih untuk tetap berdiri saja sudah membutuhkan seluruh keberanian yang saya punya. Dan memutuskan untuk melanjutkan studi — di tengah semua yang pernah saya lewati — adalah salah satu tindakan paling berani sekaligus paling penuh iman yang pernah saya lakukan untuk diri saya sendiri. Bukan karena saya yakin mampu. Tapi karena saya akhirnya percaya: saya berhak sampai di sini.

Langit hari ini kelabu. Awan bergelantung di atasnya.

Pohon-pohon tetap hijau. Angin tetap bertiup. Air tetap mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Dan saya — perempuan yang dulu belajar kuat karena terpaksa, kini memilih kuat karena memang begitulah saya — berdiri di sini.

Sudah cukup. Sudah sempurna. Sebagaimana adanya.