Perempuan dalam Penerimaan Asma Tuhan: Ibu Bumi dan Keselamatan Lingkungan

ewia ejha putri
1. Pimpinan Lembaga PKBM Pahlawan kerinci. 2. Anggota LHKP Muhammadiyah Jambi 3. Pengamat Sosial
Konten dari Pengguna
24 Agustus 2023 22:05 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari ewia ejha putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi perempuan bahagia. Foto: Mumemories/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan bahagia. Foto: Mumemories/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Perdebatan seputar peran manusia dalam menjaga alam semesta telah menjadi topik yang semakin relevan dalam dekade terakhir. Salah satu sudut pandang yang menarik adalah pandangan ekofeminisme, yang menekankan pentingnya perempuan dalam menjaga lingkungan alam.
ADVERTISEMENT
Teori ini merujuk pada gagasan bahwa penerimaan asma Tuhan pada jiwa manusia adalah sifat yang melekat pada jiwa itu sendiri, yang sering kali disebut sebagai "feminitas." Artikel ini akan menjelaskan mengapa perempuan dianggap sebagai 'ibu bumi,' mengapa alam semesta sering dikaitkan dengan karakteristik perempuan, dan mengapa gerakan penyelamatan lingkungan berbasis perempuan memiliki nilai yang kuat.

Perempuan Sebagai Ibu Bumi

Konsep perempuan sebagai 'ibu bumi' tidak hanya berasal dari asumsi gender tradisional, tetapi juga dari gagasan tentang peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan alam. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa perempuan secara naluriah cenderung memiliki kualitas seperti kepedulian, perhatian, dan pemeliharaan, yang sering dihubungkan dengan konsep ibu. Seperti seorang ibu yang merawat dan melindungi anak-anaknya, perempuan dianggap mampu merawat alam semesta dan menjaganya agar tetap subur.
ADVERTISEMENT
Selain itu, perempuan juga sering kali menjadi korban pertama dari dampak negatif perusakan lingkungan. Mereka secara disproposional terpengaruh oleh perubahan iklim, polusi, dan kekurangan sumber daya alam. Dalam hal ini, perempuan memainkan peran strategis dalam memahami dampak lingkungan dan mencari solusi untuk masalah ini.

Karakteristik Alam Semesta dan Perempuan

Konsep bahwa alam semesta memiliki karakteristik yang sama seperti perempuan didasarkan pada pemahaman tentang keterkaitan antara semua makhluk hidup. Alam semesta dipandang sebagai entitas hidup yang sensitif terhadap perubahan dan perawatan, seperti halnya seorang perempuan yang merawat keluarganya. Seperti yang dijelaskan oleh banyak pemikir ekofeminis, alam semesta dianggap sebagai ekspresi dari prinsip feminin yang mencakup keramahan, kepedulian, dan pemeliharaan.
Selain itu, pandangan ini menganggap alam semesta sebagai organisme hidup yang terhubung secara holistik. Ini mencerminkan pandangan bahwa perempuan juga merasa terhubung dengan alam secara alami dan lebih mungkin untuk mengembangkan rasa empati terhadap makhluk lain. Dalam konteks ini, karakteristik 'feminitas' dianggap sebagai salah satu kekuatan utama yang dapat membantu memahami dan mengatasi tantangan lingkungan saat ini.
ADVERTISEMENT

Ekofeminisme Bukanlah Utopia

Penting untuk dicatat bahwa gerakan penyelamatan lingkungan berbasis perempuan tidak mengabaikan peran lelaki dalam menjaga alam. Sebaliknya, ia mengajak semua individu, tanpa memandang gender, untuk berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan bumi. Ini bukanlah upaya untuk menciptakan perpecahan gender, melainkan untuk memanfaatkan kualitas 'feminitas' sebagai alat yang dapat membantu kita lebih baik memahami dan merawat alam semesta.
Beberapa ilmuan dan aktivis sosial juga memberikan pandangannya, salah satunya adalah Vandana Shiva, seorang ahli lingkungan dan aktivis India, telah lama mendukung gagasan ekofeminisme. Dia percaya bahwa hubungan khusus perempuan dengan alam semesta adalah kunci dalam pemahaman tentang bagaimana manusia harus berinteraksi dengan alam. Shiva berpendapat bahwa perempuan, karena peran mereka dalam keluarga dan masyarakat, memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan.
ADVERTISEMENT
Dan juga Maria Mies, seorang sosiologis feminis Jerman, telah berkontribusi pada pemikiran ekofeminisme dengan menyoroti dampak kapitalisme global terhadap perempuan dan alam. Menurut Mies, kapitalisme yang bersifat eksploitatif merugikan perempuan dan merusak alam. Oleh karena itu, perjuangan perempuan untuk kesetaraan juga harus mencakup perjuangan untuk menjaga alam.
Pendapat para ahli ini mencerminkan keragaman pemikiran dalam gerakan ekofeminisme. Namun, mereka semua setuju bahwa mengintegrasikan perspektif gender dalam upaya pelestarian lingkungan adalah langkah yang penting untuk mencapai keberlanjutan alam semesta.
Penerimaan asma Tuhan pada jiwa manusia, yang dapat dianggap sebagai 'feminitas', memiliki hubungan erat dengan pandangan ekofeminisme tentang peran perempuan dalam menjaga alam semesta. Meskipun konsep ini tidak sepenuhnya diterima oleh semua orang, ia memberikan sudut pandang yang penting tentang pentingnya memahami dan merawat lingkungan alam. Yang terpenting, ekofeminisme mengingatkan kita bahwa penyelamatan lingkungan adalah tugas bersama yang harus dilakukan oleh semua individu, tidak hanya oleh perempuan atau laki-laki.
ADVERTISEMENT