Konten dari Pengguna

Simfoni Duka: 87 Hari Merelakanmu Pergi

Ewia Putri

Ewia Putri

Seorang pimpinan lembaga PKBM kerinci dan juga anggota LHKP Muhammadiyah jambi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ewia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan sedih Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan sedih Foto: Shutterstock

Hari ini, tepat 87 hari setelah aku harus melepaskanmu, hatiku adalah puitis yang terjebak dalam labirin perasaan, seolah-olah kata-kata adalah pena yang mencoba merangkai puisi yang tak pernah bisa selesai. Cintaku padamu adalah karya seni yang mengalir dalam nada-nada yang syahdu, seperti musik yang memadukan harmoni dan duka.

Setiap hari adalah perjalanan di dalam alam perasaan yang rumit, seolah-olah aku berlayar di lautan emosi yang tak pernah tenang. Pikiran dan hatiku selalu terisi oleh kenangan tentangmu, dan segala yang kulihat adalah bayanganmu yang masih hidup dalam setiap sudut hidupku. Tubuhku, seperti pohon tua yang menjulang tinggi, hampir roboh oleh perpisahan.

Pada malam-malam yang hening, aku terbangun dan menatap langit bintang, seolah-olah bintang-bintang adalah penyair yang mendengar curahan hatiku yang syahdu. Aku berbicara kepada bintang-bintang, berharap mereka bisa mengukir bait-bait puisi yang akan meredakan rasa duka. Aku merayu Tuhan dengan suara yang merdu, seakan-akan cintaku adalah doa yang dikumandangkan dalam suara yang meremang.

Ini bukan dramatisasi semata; ini adalah ungkapan cinta yang tulus. Aku merasakanmu dalam irama denyut nadiku, dan aku tak pernah meminta perasaan ini. Mereka datang dengan sendirinya, seperti syair yang terukir dalam diriku.

Di Gawai yang ku genggam segalanya hanya berputar di sekitarmu. Ketika aku melihat wajahmu di layar, hatiku berdenting seperti melodi yang mempesona, dan sering kali air mata menjadi bait terakhirnya.

Maafkan, aku pergi bukan karena tidak mencintaimu, tetapi karena aku takut bahwa cinta yang ku miliki akan membawaku kepada ke gilaan. Aku harus melepasmu agar kamu bisa menemukan kebahagiaanmu, meskipun itu bukan dengan aku.

Tapi yang perlu kamu ketahui bahwa sebelum kita bersama, kamu telah menjadi doa dalam setiap nafasku. Aku mencintaimu dengan segala bentukmu, dan aku masih mempercayai bahwa takdir akan membawa kita bersatu kembali, meskipun saat ini kita harus melepaskan satu sama lain.

Aku memilih membawa rasa ini, aku memilih untuk melihatmu dari jauh, karena di saat itulah aku tidak mendengar penolakkan darimu.

Jagat raya sangat indah, tapi jika tanpamu semua yang indah akan berganti menjadi gelap, seperti malam tanpa bintang, yang ada hanya duka dan kegelapan.

Demi malam dan jutaan bintang yang bertaburan di kerlip matamu, Rembulan yang menyabit senyummu, Aku bersaksi, Atas jari yang menari-nari pada bait puisi lewat gawaiku, Kaulah siksa rindu paling menyesakkan. Tanpamu Romaku tak lagi bernyawa.

pada akhirnya, manusia akan terus berjalan pada takdir yang telah di ukir. terus menyakinkan diri pada ketentuan terindah yang akan ditemui pada akhir perjalanan nanti, meski tak dipertemukan dengan raga.

Tak apa, perpisahan mengajarkan kita arti kerelaan. jikalau mata ini tak akan pernah bertatap, setidaknya jangan Kau putuskan doa-doa ini sebagai suratan kerinduan.