Konten dari Pengguna

Wajah di Cermin Retak

Ewia Putri

Ewia Putri

Seorang pimpinan lembaga PKBM kerinci dan juga anggota LHKP Muhammadiyah jambi

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ewia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wajah di cermin retak. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wajah di cermin retak. Foto: Dokumentasi pribadi

Beberapa hari terakhir, saya cukup banyak berinteraksi dengan manusia—dengan mereka yang seusia, yang lebih tua, bahkan yang lebih muda. Dari banyak percakapan dan pertemuan itu, saya kembali menyadari satu hal: manusia adalah makhluk yang paling rumit untuk dipahami, tetapi juga paling menarik untuk diamati.

Setiap orang hadir dengan wajah, cara bicara, dan karakter yang berbeda. Ada yang tampak sederhana, tetapi ternyata sangat dalam cara berpikirnya. Ada yang terlihat tenang, tetapi menyimpan banyak hal di dalam dirinya. Ada pula yang tampak penuh wibawa ketika berbicara, tetapi realitas hidupnya tidak selalu sejalan dengan apa yang ia tampilkan.

Di titik itu saya mulai memahami, bahwa dunia hari ini sedang dipenuhi manusia yang pandai membangun kesan, tetapi tidak semuanya selesai dengan dirinya sendiri.

Saya pernah bertemu seorang senior yang retorikanya luar biasa. Cara bicaranya rapi, penuh keyakinan, dan sangat meyakinkan. Ketika ia berbicara, orang mudah kagum. Namun semakin lama saya memperhatikan, saya menyadari bahwa tidak semua yang terdengar indah benar-benar hidup di dalam dirinya. Kadang manusia memang pandai menyusun kata, tetapi belum tentu mampu menyusun dirinya sendiri.

Namun di sisi lain, ada juga seorang teman yang beberapa kali berinteraksi dan berbagi cerita dengan saya. Kami tidak terlalu dekat sebenarnya, tetapi ada momen-momen tertentu ketika saya merasa kurang nyaman. Ia cukup sering mengomentari hal-hal pribadi tentang saya, mulai dari bentuk tubuh, perubahan diri, hingga kehidupan yang saya jalani, padahal saya sendiri tidak pernah meminta penilaian tersebut.

Ilustrasi lelah. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Lucunya, ia juga sering bercerita tentang betapa sibuk dan berat hidupnya, seolah dunia sedang paling keras kepadanya. Padahal, sedikit banyak saya tahu proses awalnya, bahkan saya termasuk orang yang pertama memberikan informasi dan membantu dalam beberapa urusan yang ia butuhkan. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai berbicara seakan-akan dialah yang paling memahami semuanya.

Saya hanya bisa tersenyum kecil. Hidup memang kadang seperti itu—ada orang yang lupa siapa yang pernah menemani langkah awalnya.

Ia juga sering mengatakan bahwa dirinya amankarena memiliki banyak relasi, keluarga di berbagai tempat, dan orang-orang yang bisa mem-backup apa pun yang ia lakukan. Seolah koneksi adalah jaminan utama dalam hidup.

Namun terus terang, cara pandang seperti itu tidak terlalu sejalan dengan saya. Saya lebih bangga ketika bisa berdiri dengan kemampuan sendiri. Saya lebih menghargai proses yang lahir dari kualitas diri, kerja keras, dan kapasitas yang benar-benar dibangun, bukan karena siapa yang berada di belakang kita.

Sebab bagi saya, ada perbedaan besar antara dihargai karena kemampuan dan dipertahankan karena koneksi.

Dalam hati saya sering bergumam, “Hidup saya juga ribet. Ruwet. Bahkan mungkin lebih kusut dari benang kusut sekalipun. Namun, saya tidak merasa perlu menjadikannya cerita ke semua orang.”

Dari situ saya mulai memahami satu hal penting: tidak semua orang yang banyak bercerita adalah yang paling berat hidupnya. Dalam psikologi manusia, ada kebutuhan untuk divalidasi—untuk merasa diakui, didengar, dan dianggap berjuang. Maka tidak jarang seseorang terlalu sering menceritakan kesulitannya bukan karena ingin solusi, melainkan karena ingin diakui keberadaannya.

Ilustrasi sedih. Foto: Stock-Asso/Shutterstock

Sebaliknya, ada orang-orang yang memilih diam bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena mereka sedang sibuk bertahan tanpa perlu menjadikan lukanya sebagai konsumsi publik. Mereka sudah berada pada fase ketika tidak semua hal perlu diumbar, tidak semua proses perlu diumumkan, dan tidak semua kesedihan perlu dipertontonkan.

Dari situ saya teringat nasihat Buya Hamka:

“Hidup ini banyak-banyak becermin. Jika pandai becermin, selamat hidupmu.”

Dan saya merasa nasihat itu semakin relevan hari ini. Kita hidup di zaman ketika orang begitu mudah mengomentari hidup orang lain, tetapi sangat sulit mengoreksi dirinya sendiri. Kita sibuk menilai, tetapi jarang memahami.

Saya teringat dari sebuah buku yang pernah saya baca berjudul Being and Time karya Martin Heidegger. Heidegger menjelaskan bahwa manusia sering hidup dalam keadaan das Man—kehidupan yang terlalu mengikuti suara orang banyak, hingga kehilangan dirinya sendiri. Manusia akhirnya tidak lagi hidup secara otentik, tetapi hidup berdasarkan bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain.

Mungkin itu sebabnya hari ini kita lebih sering melihat orang sibuk membangun citra daripada membangun isi dirinya. Dunia dipenuhi orang yang ingin terlihat baik, terlihat sibuk, terlihat sukses, bahkan terlihat paling menderita.

Itulah pentingnya belajar wisdom dalam hidup. Belajar untuk tidak terlalu sibuk merasa diri paling baik. Tidak perlu berlebihan dalam menunjukkan kebaikan, seolah kita paling benar, paling peduli, atau paling bijak. Karena sering kali, manusia yang paling banyak berbicara tentang kebaikan justru lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Ilustrasi refleksi. Foto: U__Photo/Shutterstock

Belajar untuk diam dan berbicara seperlunya itu penting. Tidak semua pencapaian perlu diumbar, tidak semua proses perlu dipamerkan. Pencapaian kita dan pencapaian orang lain adalah dua hal yang berbeda. Jalan hidup manusia tidak pernah sama.

Tidak ada alasan untuk merasa berlebihan atas apa yang kita capai. Sebab bisa jadi, apa yang kita anggap besar hari ini adalah hal biasa bagi orang lain yang sudah lebih dahulu melewatinya. Dan bisa jadi, apa yang kita banggakan, bagi sebagian orang hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang mereka.

Kadang manusia terlalu sibuk memperlihatkan pencapaiannya karena takut dianggap biasa saja. Padahal, ketenangan justru lahir ketika seseorang tidak lagi merasa perlu membuktikan dirinya kepada dunia. Ada fase ketika manusia mulai sadar bahwa validasi paling penting bukan dari tepuk tangan orang lain, melainkan dari dirinya sendiri yang tahu bahwa ia terus bertumbuh.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang terlihat kuat tetapi sedang lelah. Ada yang tampak biasa saja tetapi sedang berjuang keras mempertahankan dirinya. Ada pula yang terlihat tenang, padahal sedang berdamai dengan banyak hal di dalam hidupnya.

Maka mungkin benar, bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling sempurna di mata manusia, melainkan siapa yang paling mampu becermin sebelum menilai orang lain. Sebab, dunia hari ini tidak kekurangan orang yang pandai berbicara—yang kurang adalah manusia yang cukup tenang untuk memahami bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing.