Kenapa Kita Membeli yang Kita Beli?

Mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Erwin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita bertanya mengapa seseorang memilih membeli baju batik bermotif tradisional, sementara orang lain lebih menyukai desain modern? Jawabannya ternyata tidak selalu berkaitan dengan harga atau kualitas produk. Keputusan membeli juga dipengaruhi oleh budaya, identitas daerah, dan kelas sosial yang membentuk kebiasaan serta cara pandang seseorang terhadap suatu produk.
Dalam dunia pemasaran, memahami konsumen bukan sekadar mengetahui barang yang mereka sukai. Pelaku usaha juga perlu memahami alasan di balik pilihan tersebut. Hal ini penting karena setiap konsumen memiliki kebutuhan, pengalaman, lingkungan sosial, dan kemampuan ekonomi yang berbeda.
Batik menjadi contoh menarik untuk melihat bagaimana faktor-faktor tersebut memengaruhi perilaku konsumen. Selain berfungsi sebagai pakaian, batik juga memiliki nilai budaya, identitas daerah, dan makna sosial bagi masyarakat Indonesia.
Budaya Membentuk Cara Konsumen Memilih Produk
Budaya merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kebutuhan dan keputusan pembelian seseorang. Nilai, kebiasaan, dan norma yang dipelajari dari keluarga serta lingkungan dapat membentuk cara seseorang memandang suatu produk.
Bagi sebagian orang, batik bukan hanya pakaian untuk bekerja atau menghadiri acara resmi. Batik juga menjadi simbol kebersamaan dan identitas keluarga. Misalnya, sebuah keluarga memutuskan mengenakan batik dengan motif seragam saat menghadiri pernikahan. Keputusan tersebut bukan semata-mata didasarkan pada desain yang menarik, melainkan juga keinginan untuk menunjukkan kekompakan keluarga.
Kebiasaan masyarakat dalam menggunakan batik pada acara tertentu turut menciptakan kebutuhan pasar. Peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober, yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009, menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap pentingnya batik dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Bagi pelaku usaha, pemahaman terhadap budaya dapat membantu menciptakan strategi pemasaran yang lebih relevan. Pesan promosi yang menonjolkan kebersamaan keluarga, misalnya, mungkin lebih sesuai untuk konsumen yang membeli batik sebagai pakaian seragam dibandingkan pesan yang hanya menekankan gaya pribadi.
Identitas Daerah Turut Memengaruhi Keputusan Pembelian
Selain budaya, latar belakang daerah dan kelompok etnis juga dapat memengaruhi pilihan konsumen. Produk yang memiliki hubungan dengan identitas daerah terkadang mempunyai nilai emosional tersendiri bagi pembelinya.
Seseorang mungkin memilih batik dengan motif khas daerah asalnya karena merasa bangga terhadap budaya setempat. Pilihan tersebut dapat menjadi bentuk dukungan terhadap produk lokal sekaligus cara mempertahankan identitas daerah.
Penelitian Shabrina, Santoso, dan Widhianingrum yang diterbitkan dalam jurnal Ekonomis: Journal of Economics and Business pada 2024 mengkaji keputusan pembelian batik Ponorogo. Penelitian terhadap 250 pelajar dan mahasiswa berusia 16–24 tahun tersebut menemukan bahwa etnosentrisme konsumen dan dukungan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan membeli batik Ponorogo. Sementara itu, pengetahuan produk tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam penelitian tersebut.
Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan pembelian tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak konsumen mengetahui suatu produk. Kebanggaan terhadap daerah asal dan pengaruh keluarga atau teman juga dapat berperan dalam mendorong pembelian.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut perlu dipahami sesuai konteksnya karena responden berasal dari kelompok usia tertentu di Ponorogo. Perilaku konsumen di daerah dan kelompok lain belum tentu menunjukkan pola yang sama.
Kelas Sosial Memengaruhi Pilihan dan Kemampuan Membeli
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kelas sosial. Perbedaan kondisi ekonomi, pekerjaan, lingkungan pergaulan, dan gaya hidup dapat memengaruhi cara konsumen memilih produk.
Sebagai contoh, seorang manajer mungkin memilih batik tulis untuk menghadiri pertemuan penting atau memberikan hadiah kepada rekan bisnis. Sementara itu, seorang karyawan dengan anggaran terbatas mungkin lebih memilih batik cetak yang nyaman digunakan sehari-hari dengan harga yang terjangkau.
Kedua konsumen tersebut sama-sama membeli batik, tetapi memiliki pertimbangan yang berbeda. Konsumen pertama mungkin lebih memperhatikan keunikan dan nilai produk, sedangkan konsumen kedua mengutamakan fungsi, kenyamanan, serta kesesuaian harga dengan anggaran.
Penelitian Ulkhusna dan Suwandi pada 2015 terhadap 150 warga Surakarta juga membahas hubungan gaya hidup dan kelas sosial dengan keputusan pembelian batik. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kedua faktor memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian dalam konteks penelitian yang dilakukan.
Bagi perusahaan, pemahaman ini dapat menjadi dasar untuk menyediakan produk dengan variasi desain, kualitas, dan harga. Namun, pelaku usaha perlu menghindari anggapan bahwa semua konsumen dari kelompok sosial tertentu pasti memiliki perilaku yang sama. Preferensi setiap individu tetap dapat berbeda.
Memahami Konsumen Membantu Menentukan Strategi Pemasaran
Budaya, identitas daerah, dan kelas sosial tidak bekerja secara terpisah. Ketiganya dapat saling memengaruhi ketika seseorang mengenali kebutuhan, mencari informasi, membandingkan produk, memutuskan pembelian, dan mengevaluasi pengalamannya setelah membeli.
Konsumen yang ingin membeli batik untuk acara keluarga, misalnya, mungkin lebih banyak mencari rekomendasi dari kerabat. Konsumen yang ingin menunjukkan kebanggaan terhadap daerah asalnya mungkin lebih tertarik pada motif lokal. Sementara itu, konsumen yang memiliki anggaran terbatas akan membandingkan harga dan kualitas sebelum memutuskan membeli.
Karena itu, pelaku usaha perlu melakukan segmentasi pasar berdasarkan karakteristik konsumen, kemudian menentukan kelompok yang paling sesuai dengan produk yang ditawarkan. Strategi promosi untuk anak muda yang mencari pakaian kasual tentu dapat berbeda dari promosi untuk keluarga yang membutuhkan seragam acara atau pekerja yang mencari pakaian kantor.
Pelaku usaha juga perlu memperhatikan kejujuran informasi produk dan menghormati nilai budaya yang melekat pada desain tertentu. Memahami kondisi ekonomi konsumen bukan berarti mendorong mereka membeli produk di luar kemampuan, melainkan membantu menawarkan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.
Memahami Alasan Konsumen, Bukan Sekadar Mengejar Penjualan
Pada akhirnya, keputusan pembelian merupakan hasil dari berbagai pertimbangan yang saling berkaitan. Harga dan kualitas memang penting, tetapi budaya, identitas daerah, lingkungan sosial, serta kondisi ekonomi juga dapat membentuk pilihan konsumen.
Bagi pelaku usaha, memahami faktor-faktor tersebut dapat membantu menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran. Produk tidak hanya ditawarkan berdasarkan apa yang ingin dijual perusahaan, tetapi juga berdasarkan kebutuhan dan nilai yang dianggap penting oleh konsumennya.
Pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menyusun promosi bukan sekadar bagaimana membuat produk terlihat menarik, melainkan siapa konsumen yang ingin dijangkau dan apa alasan mereka membutuhkan produk tersebut. Dengan memahami jawaban atas pertanyaan itu, perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan pelanggan dan menciptakan strategi pemasaran yang relevan dalam jangka panjang.
Referensi:
Sumarwan, U. (2011), Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran, edisi kedua, Ghalia Indonesia.
Shabrina, Y. N., Santoso, A., dan Widhianingrum, W. (2024), Social Support, Product Knowledge, Consumer Ethnocentrism, and Buying Decisions on Batik Products in Ponorogo East Java, Ekonomis: Journal of Economics and Business, 8(1), 213–224,
Ulkhusna, R. W., dan Suwandi, J. (2015), Keputusan Pembelian Baju Batik Ditinjau dari Gaya Hidup dan Kelas Sosial Masyarakat Surakarta Tahun 2015, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional.
