Menjaga Ruang, Menjaga Ikhlas di Sudut Jalan Godean Km 4

Mahasiswa Aktif Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Exaudia Adriana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pukul satu siang, ketika sebagian orang sudah menjalankan aktivitasnya, pria berinisial WP justu baru bersiap bekerja. Setelah menyelesaikan urusan rumah, pria kelahiran 1972 itu berjalan menuju kawasan Jalan Godean KM 4. Di sanalah, selama tiga tahun terakhir, ia berdiri diantara kendaraan yang datang dan pergi, mengatur ruang yang tak pernah benar-benar kosong.
W tinggal di Bantul, Yogyakarta. Dulu, ia bekerja sebagai satpam. Namun usia membuatnya harus “diremajakan” oleh sistem. Bukan karena tak sanggup bekerja, melainkan karena aturan dari Dinas Kota Yogyakarta yang menuntut pembaharuan tenaga kerja. Sejak itu, rompi parkir menggantikan seragam lama yang pernah ia kenakan.
Jam kerjanya panjang. Ia mulai bekerja sekitar pukul satu atau dua siang dan baru pulang pukul Sembilan malam. Keramaian mulai terasa sejak pukul tiga sore, dimana mahasiswa mulai berdatangan untuk belajar, mengerjakan tugas, atau sekedar singgah. Di jam-jam itulah W harus sigap, berlari kecil kesana kemari, memastikan kendaraan bisa masuk tanpa mengunci jalan.
Namun yang paling sering menguji kesabarannya bukan kepadatan parkir, melainkan sikap pengguna parkir. Ia kerap mendengar alasan klasik: tidak membawa uang tunai. Bahkan ketika QRIS disediakan, alasannya tetap ada. “Nggak cewek nggak cowok, nggak tua nggak muda, sama aja,” katanya. Awalnya ia mengeluhkan hal itu, tetapi lama-lama memilih mengikhlaskan. Baginya, rezeki tidak akan salah Alamat.
Ironisnya, di area parkir itu W sering menemukan ponsel, dompet, bahkan uang tertinggal di dashboard kendaraan. Menurutnya, banyak orang datang dengan prasangka lebih dulu. Mereka merasa sudah membayar makanan dan minuman beserta dengan pajak di cafe, sehingga membayar tukang parkir dianggap tak perlu. Padahal, bagi W dan pemarkir yang lain, parkir bukan hanya soal kendaraan yang berhenti, tetapi soal rasa aman dan keteraturan.
Dalam bekerja, ia memegang prinsip sederhana, yaitu sikap dan etika. Ia tidak banyak berbincang dengan pemilik usaha di sekitar Lokasi. Ia memilih bekerja apa adanya. “Kalau orangnya punya hati, nanti juga ngajak ngomong sendiri,” ujarnya. Ia tidak berharap lebih, tidak memaksa, dan tidak mencari perhatian.
Selama bekerja, W memilih tidak makan. Ia merasa makan justru membuatnya mengantuk dan kurang sigap. Ia baru makan setelah pulang, ketika tubuhnya benar-benar selesai bekerja.
Soal penghasilan, W tak menyebut angka pasti. Ketika ditanya, ia hanya menjawab singkat, “kalua saya bisa 50 (ribu) dapet.” Kadang jumlah itu bisa terkumpul dalam dua jam, kadang harus menunggu seharian. Namun ia mengakui, penghasilan dari parkir belum cukup untuk menafkahi keluarga, apalagi jika masih memiliki anak yang harus dibiayai. Untungnya, kedua anak W sudah dapat berdiri diatas kakinya masing-masing, bahkan anak pertamanya sudah merantau ke Papua.
Untuk menambah penghasilan dan menjaga relasi, W kerap membantu warga sekitar untuk mengurus KTP, membantu masalah kendaraan, bahkan membantu motor yang terkena tilang. Tidak selalu dibayar, kadang justu keluar biaya sendiri. Baginya, membantu tetangganya adalah nilai plus. Walaupun terkadang tidak dibayar, ia ingin dikenal sebagai orang dapat mengurus hal serupa, sehingga saat terkena masalah, namanya lah yang dicari.
Menariknya, W tidak benar-benar menikmati pekerjaannya. Namun ia memilih hidup dengan cara yang sederhana. Tidak mempersulit pikiran, tidak memperpanjang urusan. Ia bahkan menolak untuk difoto. Alasannya seherhana namun cukup dalam, ia tidak ingin anaknya merasa tidak nyaman melihat ayahnya bekerja di jalan. Ia juga memilih jujur kepada keluarga, daripada menanggung luka jika keluarganya mengetahui pekerjaannya dari orang lain, lebih menyakitkan, katanya.
Dari sisi pengguna, peran rukang parkir dirasakan beragam. Lubna, seorang mahasiswa dari Universitas Gajah Mada, mengaku hampir setiap hari menggunakan area parkir di sekitar kampus. Ia pernah lupa meninggalkan kunci motor, tetapi disimpankan oleh tukang parkir hingga kendarannya tetap aman. Namun penglaman kurang menyenangkan juga ada, seperti dimintai uang parkir meski hanya sebentar tanpa dibantu.
Meski begitu, Lubna mengakui bahwa di jam-jam ramai, tukang parkir sangat membantu. Mereka mencarikan ruang dan merapikan posisi motor agar tidak saling berdesakan, “Kalau sepi, sebenarnya nggak terlalu butuh dibantu, Tapi kalua ramai, peran tukang parkir penting banget,” ujarnya.
Di tengah hiruk-pikuk Jalan Godean KM 4, W berdiri sebagai sosok yang sering luput diperhatikan. Ia tidak selalu disapa, tidak selalu dianggap penting. Namun setiap hari, ia menjaga ruang kecil di pinggir jalan, menukar lelah dengan ikhlas, dan menjalani hidup dengan satu prinsip sederhana: hidup jangan dibuat susah.
