Konten dari Pengguna

Semakin Hari, Manusia Semakin Kalah dari Ikan Mas?

Revolusi industri bukanlah hal asing lagi bagi telinga kita, terutama di era yang semakin modern yang serba cepat dan instan ini. Hanya butuh waktu empat abad bagi manusia untuk membawa perubahan besar dan signifikan terhadap kehidupan, termasuk cara kita mengolah informasi dan memproses banyak hal (Fauziyah, 2022). Namun, ironisnya dengan semua kemajuan yang manusia miliki saat ini adalah munculnya penurunan kemampuan kognitif, yang salah satunya berupa kemampuan memusatkan perhatian atau attention span.

https://www.pexels.com/id-id/pencarian/ikan%20mas%20biasa/?page=6
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/id-id/pencarian/ikan%20mas%20biasa/?page=6

Menurut penelitian Microsoft Canada (2015) kemampuan manusia dalam memusatkan perhatian atau attention span kian menurun seiring berjalannya waktu, rata-rata attention span manusia menurun dari 12 detik pada tahun 2000 menjadi 8 detik pada tahun 2013 bahkan disebut- sebut lebih pendek dibandingkan ikan mas. Fenomena ini semakin menjadi relevan dengan adanya sosial media dan platform digital lainnya yang menawarkan kepuasan secara instan atau instant gratification (Manizia et al., 2023).

https://www.magnific.com/free-photos-vectors/online-restaurant

Semua serba instan

Di era modern, segala sesuatu bisa diraih dengan cepat dan instan. Teknologi transportasi, misalnya, memungkinkan manusia bepergian tanpa kelelahan yang berarti. Lalu jika seseorang merasa lapar mereka hanya perlu memesan makanan melalui aplikasi yang ada di gadget mereka, tanpa perlu repot repot membuatnya dari awal. Begitu juga dengan kesenangan, banyak sekali platform yang menyediakan kesenangan atau dopamine secara instan yang tanpa sadar selalu ada di kehidupan kita seperti sosial media. Hal ini tidak lagi digunakan untuk bertukar kabar dari sanak saudara yang jauh melainkan pemenuhan dopamin harian manusia. Sayangnya, hal ini pula yang berkontribusi dalam menurunkan kemampuan untuk fokus atau attention span.

Lebih lanjut lagi, media sosial terutama platform dengan konten cepat seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts dikaitkan dengan penurunan attention span manusia. Memicu lingkaran dopamin, menyebabkan penurunan kemampuan fokus dalam jangka panjang (Opara et al., 2025). Paparan tinggi dan konstan terhadap konten cepat yang ada di platform media sosial memiliki dampak signifikan terhdap kemampuan fokus jangka pendek. Tidak hanya menciptakan kepuasan instan, algoritma media sosial juga dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna dalam waktu lama. Setiap kali seseorang menyelesaikan satu video, sistem secara otomatis menampilkan video berikutnya yang sesuai dengan preferensi mereka, menciptakan pola konsumsi yang berkelanjutan dan sulit dihentikan (Opara et al., 2025). Mekanisme ini bekerja dengan merangsang sistem reward di otak, melepaskan dopamin setiap kali pengguna menemukan konten yang menarik (Manizia et al., 2023).

Cepat didapat cepat pula akan pergi

Apa yang diperoleh secara instan cenderung cepat hilang, termasuk kesenangan di media sosial. Ketika dopamin instan telah hilang begitu saja maka seseorang akan kembali mencari kesenangan tersebut dengan tetap menggulir media sosial berharap mendapatkan dopamin yang sama. Hal ini menyebabkan lingkaran setan atau infinite scroll behavior, di mana desain platform media sosial memungkinkan pengguna terus menggulir tanpa batas. Menurut Rixen et al. (2023), mekanisme ini bekerja melalui variable reward schedule yang memicu pelepasan dopamin secara tidak terduga, menciptakan efek ketagihan karena adanya antisipasi terhadap konten berikutnya yang menarik. Paparan konstan terhadap konten cepat di media sosial tidak hanya berdampak pada penurunan attention span, tetapi juga menimbulkan konsekuensi psikologis yang serius.

Dalam studi yang dilakukan Zhang et al. (2024) ditemukan bahwa perilaku menonton video pendek yang berlebihan secara signifikan memprediksi peningkatan gejala depresi pada mahasiswa. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi konten cepat dapat mengganggu kestabilan emosional dan mengurangi kemampuan untuk mengelola stres, sehingga meningkatkan kecemasan ketika perhatian terganggu. kebiasaan mencari kepuasan instan melalui media sosial berkorelasi dengan penurunan kapasitas kognitif mendalam, karena pengguna menjadi terbiasa dengan rangsangan cepat dan terus-menerus. Dengan kata lain, ketergantungan pada gratifikasi instan tidak hanya mengikis kemampuan untuk fokus, tetapi juga memicu perasaan cemas dan frustrasi saat rangsangan tersebut tidak terpenuhi (Manizia et al., 2023)

Referensi/ Sumber:

Dongning Zhang, Y. M. (2024). A Cross-Lagged Analysis of The Relationship Between Short

Video Overuse Behavior and Depression Among College Students. Frontiers in

Psychology. doi:https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1345076

Emmanuel Opara, T. M.-E. (2025). The Impact of Tiktok's Fast-Paced Content on Attention

Span of Students. doi:http://dx.doi.org/10.20944/preprints202501.0269.v1

Fauziyah, R. N. (2022). diakses dari https://www.gramedia.com/best-seller/perjalananrevolusi-industri-1-0-hingga-5-0/

Jan Rixen, L. M.-L. (2023). The Loop and Reasons to Break It: Investigating Infinite

Scrolling Behaviour in Social Media Applications and Reasons to Stop. Proceedings

of the ACM on Human-Computer Interaction. doi:http://dx.doi.org/10.1145/3604275

L Manizia, T. B. (2023). Instant Gratification and The Digital Natives: The impact of fast- paced content on cognitive focus. Journal pf Media Psychology, 317-329. doi:https://doi.org/10.53555/kuey.v29i3.7471

Microsoft Canada. (2015). Attention Spans Research Report. Microsoft Canada, Consumer

Insights. Retrieved from https://www.scribd.com/document/265348695/Microsoft- Attention-Spans-Research-Report