Konten dari Pengguna

UMKM Arang di Desa Cikareo Selatan Kini Tembus Pasar Ekspor

explorecikareoselatan19

explorecikareoselatan19

Mahasiswa KKN UPI Kampus Sumedang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari explorecikareoselatan19 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: KKN 19 Cikareo Selatan
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: KKN 19 Cikareo Selatan

SUMEDANG – Di tengah pesatnya perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), inovasi tidak selalu lahir dari perkotaan. Di Dusun Bunter, Desa Cikareo Selatan, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, sebuah UMKM pengolahan arang berhasil menunjukkan bahwa potensi desa mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing hina pasaya sar internasional.

Bapak Dadan adalah seorang pelaku UMKM yang merintis usaha pengolahan arang dengan harapan dapat membangun bisnis yang berkelanjutan. Berbeda dengan produk makanan yang memiliki masa simpan terbatas, ia memilih arang karena dinilai memiliki daya tahan yang lama, tidak mudah rusak, serta memiliki permintaan pasar yang terus ada.

Keputusan tersebut berangkat dari keinginannya untuk memiliki usaha yang tidak hanya memberikan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi juga mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Dari pemikiran itulah, usaha pengolahan arang mulai dirintis hingga kini menjadi salah satu usaha pengrajin arang yang dikenal di wilayah Kecamatan Wado.

"Saya ingin membangun usaha yang produknya tidak mudah basi dan bisa disimpan lama. Setelah melihat peluang yang ada, akhirnya saya memilih memproduksi arang karena kebutuhan pasar masih cukup besar," tutur Bapak Dadan.

Dalam proses produksinya, UMKM ini memanfaatkan berbagai jenis kayu yang memiliki kualitas baik untuk dijadikan arang, di antaranya kayu mahoni, kayu sengon (albasia), kayu karet, serta berbagai jenis kayu keras lainnya yang diperoleh dari limbah potongan kayu maupun hasil penebangan yang telah memenuhi ketentuan. Pemanfaatan bahan baku tersebut juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai ekonomi kayu yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Salah satu keunggulan arang yang dihasilkan adalah memiliki kadar air yang rendah. Kualitas ini menjadi faktor penting karena memengaruhi performa arang saat digunakan. Arang dengan kadar air rendah lebih mudah dinyalakan, menghasilkan panas yang stabil, memiliki waktu pembakaran lebih lama, tidak mudah berjamur saat disimpan, serta menghasilkan asap yang lebih sedikit. Karakteristik tersebut membuat produk ini banyak diminati, terutama oleh konsumen yang membutuhkan arang berkualitas tinggi.

Untuk menghasilkan kualitas tersebut, proses produksi dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Kayu yang telah dipilih disusun ke dalam tungku pembakaran atau oven khusus untuk menjalani proses karbonisasi selama empat hari empat malam. Pada tahap ini, kayu dioven dalam kondisi minim oksigen sehingga berubah menjadi arang tanpa habis menjadi abu.

Setelah proses pembakaran selesai, arang tidak langsung dikeluarkan dari tungku. Proses pendinginan dilakukan selama lima hingga enam hari agar suhu di dalam tungku benar-benar stabil. Tahapan ini menjadi salah satu kunci untuk menjaga kualitas arang sehingga tidak mudah retak ataupun hancur ketika dikeluarkan.

Setelah dingin, arang dibongkar secara manual, kemudian dilakukan penyortiran berdasarkan ukuran dan kualitas. Arang yang telah lolos seleksi selanjutnya dikemas sebelum didistribusikan kepada pembeli. Secara keseluruhan, satu siklus produksi memerlukan waktu sekitar 10 hari, mulai dari proses pembakaran hingga pengemasan.

Sumber: KKN 19 Cikareo Selatan

Dalam satu kali proses produksi, UMKM milik Bapak Dadan mampu menghasilkan sekitar satu ton arang siap jual. Meski demikian, kapasitas produksi saat ini masih disesuaikan dengan kemampuan produksi yang tersedia.

Oleh karena itu, sistem penjualan yang diterapkan masih menggunakan mekanisme pre-order (PO) atau pemesanan terlebih dahulu. Melalui sistem ini, pelanggan melakukan pemesanan sebelum proses produksi disiapkan. Cara tersebut dipilih agar kualitas produk tetap terjaga sekaligus menyesuaikan kapasitas produksi yang belum memungkinkan untuk menyediakan stok dalam jumlah besar setiap saat.

"Saat ini kami masih melayani pemesanan dengan sistem pre-order. Jadi pembeli melakukan pemesanan terlebih dahulu, kemudian kami siapkan proses produksinya. Dengan begitu kualitas tetap terjaga dan produksi bisa disesuaikan dengan permintaan," jelas Bapak Dadan.

Meskipun masih mengandalkan sistem PO, permintaan terhadap arang produksi UMKM ini terus berdatangan. Tidak hanya dari pasar domestik, produk arang tersebut juga telah dipasarkan ke luar negeri melalui mitra ekspor.

Di pasar internasional, arang asal Desa Cikareo Selatan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan bakar rumah tangga, penghangat ruangan di negara-negara beriklim dingin, hingga kebutuhan restoran yang menggunakan arang sebagai bahan bakar untuk memanggang makanan. Kualitas panas yang stabil dan waktu pembakaran yang lebih lama menjadi alasan produk ini diminati oleh konsumen luar negeri.

Keberhasilan menembus pasar ekspor menjadi pencapaian yang membanggakan bagi UMKM yang baru dirintis tersebut. Hal ini membuktikan bahwa produk lokal dari desa memiliki peluang besar untuk bersaing apabila mampu menjaga kualitas dan konsistensi produksi.

Ke depan,UM Bapak Dadan berharap kapasitas produksinya dapat terus meningkat sehingga mampu memenuhi permintaan pasar yang semakin besar. Ia juga berharap usahanya dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar serta menginspirasi pelaku UMKM lainnya untuk berani mengembangkan potensi yang dimiliki daerah.

UMKM pengolahan arang di Dusun Bunter menjadi contoh bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, menjaga kualitas produk, dan membangun kepercayaan pelanggan, usaha sederhana dari pelosok Desa Cikareo Selatan kini mampu membawa nama daerah hingga menembus pasar internasional.

Sumber: KKN 19 Cikareo Selatan