Konten dari Pengguna

UMKM Kerupuk Dapros: Citra Rasa Tradisional di Cikareo Selatan

explorecikareoselatan19

explorecikareoselatan19

Mahasiswa KKN UPI Kampus Sumedang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari explorecikareoselatan19 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi: Mahasiswa KKN 19 UPI Sumedang
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi: Mahasiswa KKN 19 UPI Sumedang

Di desa Cikareo Selatan, ada satu camilan yang sampai sekarang masih dibuat dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu. Namanya kerupuk dapros. Bentuknya sederhana, dibuat dari tangan, dijemur dibawah matahari, lalu digoreng sampai renyah. Tidak ada mesin canggih, tidak ada kemasan mewah, tapi citra rasanya sudah dipercaya warga sekitar selama bertahun-tahun.

Mahasiswa KKN 19 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang ditempatkan di desa Cikareo Selatan berkesempatan menelusuri secara langsung proses pembuatan kerupuk dapros ini pada 10 Juli 2026. Kunjungan dilakukan ke rumah produksi milik Ibu Teti Rohimah, salah satu warga yang masih konsisten menjaga usaha rumahan ini di tengah gempuran camilan pabrik.

Dibuat Tanpa Mesin

Usaha kerupuk dapros ini sudah berjalan sejak lama. Bahan dasarnya tepung beras atau tepung kanji, diolah lewat beberapa tahap yaitu pembentukan kerupuk menyerupai bunga, pengukusan, hingga penjemuran sebelum akhirnya digoreng dan siap dijual.

Semua proses masih dikerjakan secara manual, mulai dari mencetak adonan sampai menjemurnya di halaman rumah. Cara ini dipertahankan bukan karena keterbatasan alat, melainkan karena dianggap menjadi ciri khas yang membedakan kerupuk dapros dari camilan pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Mahasiswa KKN 19 UPI Sumedang yang mengamati langsung proses ini menilai konsistensi cara pembuatan secara tradisional inilah yang menjadi nilai jual utama produk tersebut.

Proses pembuatan kerupuk dapros

Bertahan Berkat Kepercayaan, Bukan Promosi

Menariknya, usaha ini nyaris tidak pernah dipromosikan secara luas. Tidak ada papan nama, tidak ada akun media sosial, ataupun iklan. Pemasarannya murni mengandalkan informasi dari mulut ke mulut antar warga, dan sebagian besar pembelinya adalah tetangga sekitar yang sudah berlangganan sejak lama.

Pola penjualan seperti ini menunjukkan bahwa kepercayaan warga menjadi modal utama yang selama ini belum menerapkan starategi pemasaran modern. Rasa kerupuk dapros yang khas dan konsisten menjadi alasan utama pelanggan tetap kembali membeli, meskipun tanpa promosi.

Hasil produk kerupuk dapros

Harapan dari Kunjungan Mahasiswa KKN

Bagi mahasiswa KKN 19 UPI Sumedang, kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memetakan potensi ekonomi lokal yang sebenarnya sudah ada di desa Cikareo Selatan, tetapi belum banyak dikenal orang luar. Dengan demikian, mahasiswa KKN berencana membuat dokumentasi produk untuk memperkenalkan kerupuk dapros lewat akun media sosial agar usaha ini bisa lebih dikenal di pasar luar.

Dukungan dari perangkat desa dan pihak kampus diharapkan bisa terus berlanjut, bukan hanya selama masa KKN berlangsung agar usaha kecil seperti ini punya kesempatan lebih besar untuk berkembang tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Kerupuk dapros mungkin belum jadi nama besar, tapi di desa Cikareo Selatan camilan ini sudah lama menjadi bagian dari keseharian warga. Lewat kunjungan sederhana ini, mahasiswa KKN 19 UPI Sumedang berharap usaha kecil yang setia menjaga tradisi ini bisa sampai ke lebih banyak orang.