Battle of Semarang: Mengungkap Tewasnya dr. Kariadi

Hello everyone! My name is Eylanda Gayatri, currently a student of Arabic Literature at Gadjah Mada University.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Eylanda Gayatri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kota Semarang menyimpan segudang histori yang tak kan terlupakan. Bagaimana tidak, sobat? Kota ini populer dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang sehingga cukup banyak bangunan bersejarah yang jadi saksi bisu perjuangan. Pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan pasukan tentara Jepang disebut-sebut sebagai perlawanan terhebat.
Mulanya, tentara Jepang menginjakkan kaki di Pulau Jawa tanggal 1 Maret 1942 yang pada saat itu Indonesia masih dalam jajahan Belanda. Tujuh hari setelah datangnya tentara Jepang, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak saat itulah, Indonesia mulai diduduki Jepang. Rakyat Indonesia merintih kesakitan dan kelaparan karena penderitaan yang dirasakan tak kunjung usai. Namun, itu justru makin mengukuhkan tekad dan semangat mereka untuk merdeka meski harus berdarah-darah dan nyawa sebagai taruhannya.
Tahun 1945, Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu setelah diluncurkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat. Melihat kekosongan yang terjadi, Indonesia memanfaatkan momen untuk memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Para pemuda berusaha untuk melucuti persenjataan Jepang. Namun, Jepang bersikukuh menyerahkan semua persenjataan mereka pada pihak sekutu. Akibatnya, mulai terjadi ketegangan, konflik, dan pertempuran di beberapa wilayah.
Mengulik kisah jalannya Pertempuran 5 Hari di Semarang rupanya jadi hal yang menarik. Larinya tawanan Jepang dan tewasnya dr.Kariadi jadi pemicu utama tragedi pertempuran ini. Larinya tawanan Jepang terjadi saat pemuda Indonesia memindahkan mereka dari Cepiring ke Bulu. Para tawanan ini lantas bergabung dengan pasukan Kidobutai di Jatingaleh di bawah pimpinan Jenderal Nakamura. Kidobutai dikenal sebagai pasukan paling berani pada zamannya.
Setelah kaburnya tawanan Jepang, lebih tepatnya 14 Oktober 1945, para pemuda rumah sakit mendapat perintah untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang melintasi depan Rumah Sakit Purusara. Mereka amat senang berhasil menyita mobil milik Kempetai sekaligus merampas persenjataannya. Lalu, para pemuda turut aktif mencari tentara Jepang dan menjebloskannya ke penjara Bulu. Pasukan Jepang melancarkan serangan dadakan sekitar pukul 18.00 WIB sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang saat itu sedang menjaga Reservoir Siranda untuk rakyat Semarang. Kedelapan anggota polisi itu disiksa habis-habisan, terus diangkut ke markas Kidobutai di Jatingaleh.
Sore itu, ada isu yang beredar Jepang telah meracuni Reservoir Siranda di daerah candi. Mendengar isu itu, dr.Kariadi merasa terpanggil untuk menyelamatkan rakyat Semarang. Dirinya bergegas mencari kebenaran isu yang beredar dan menuju Reservoir Siranda. Suasana saat itu amat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di berbagai area, termasuk jalan menuju Reservoir Siranda. Soenarti alias istri dr.Kariadi mencoba mencegah suaminya pergi, mengingat keadaan semakin genting. Namun, dr.Kariadi bersikeras dan pergi meninggalkan istrinya. Istrinya tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan suaminya pergi mencari kebenaran.
Saat di Jalan Pandanaran, mobil yang ditumpangi dr.Kariadi dicegat oleh tentara Jepang. Tetiba ia ditembak secara keji. Dirinya gugur bersama seorang tentara pelajar yang menyopiri mobilnya. Dr.Kariadi sempat dilarikan ke rumah sakit. Saat di ruang bedah, kondisinya makin kritis hingga akhirnya dr.Kariadi tewas. Gugurnya dr.Kariadi menyulutkan kemarahan rakyat Semarang, yang sejak beberapa hari sebelumnya terlibat perselisihan dengan pasukan Jepang yang enggan dilucuti. Ini yang memicu terjadinya pertempuran.
Pertempuran 5 Hari di Semarang namanya. Ini sesuai dengan lama kejadian pertempuran yakni 15 sampai 19 Oktober 1945. Mr. Wongsonegoro, Dr.Sukaryo, Sudanco Mirza Sidharta, Mayor Kido, Kasman Singodimejo, Jenderal Nakamura, dr.Kariadi, dan drg.Soenarti adalah sederetan tokoh yang terlibat langsung di medan pertempuran.
Begitulah kisah jalannya Pertempuran 5 Hari di Semarang dan tragedi tewasnya dr.Kariadi. Dr.Kariadi sudah mengorbankan jiwa raganya demi menyelamatkan rakyat Semarang. Namanya diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit di Semarang. Selain itu, dibangunlah sebuah tugu yang bernama Tugu Muda. Tak lain dan tak bukan, untuk memperingati Pertempuran 5 Hari di Semarang. Tugu ini ada di kawasan yang cukup banyak merekam tragedi penting selama lima hari pertempuran di Semarang, yakni di pertemuan antara Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Dr.Sutomo, dan Jalan Pandanaran dengan Lawang Sewu.
